Mengapa Terkadang Kita Perlu Menjauh dari Kompetisi?

Hello again! Sudah lumayan lama sejak postingan blog terakhir. Jika terakhir kali saya mencoba bercerita tentang definisi sukses, kali ini saya ingin bercerita tentang sifat kompetitif. Sesuatu yang entah disadari atau tidak sebenarnya selalu mengiringi setiap langkah kita di dunia kerja, bahkan hidup sehari-hari. Oh atau mungkin dalam keluarga kita sendiri.

Ada kalanya kompetisi memang diperlukan untuk memastikan kita tetap punya target dan motivasi. Pasalnya, dengan kompetisi dan persaingan, kita jadi terpicu untuk selalu berinovasi dan melakukan sesuatu yang lebih baik lagi. Hanya saja, kadang kita terlalu fokus pada kompetisi dan persaingan, sampai lupa bahwa tidak semua hal perlu dijadikan ajang kompetisi.

Saya sempat merasa instagram membuat saya menjadi kompetitif akan hal yang tidak perlu. Melihat beberapa teman yang berhasil traveling ke berbagai tempat menarik dan mengabadikan fotonya dimana-mana, saya ingin melakukan hal yang sama. Melihat beberapa teman pergi ke cafe, berfoto dengan makanan yang ditata sempurna, saya juga ingin melakukannya. Akhirnya saya mencoba melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan kebanyakan orang tersebut, dan ternyata melelahkan juga. Barulah kemudian saya paham, sebenarnya saya tidak perlu berkompetisi untuk sesuatu yang sebenarnya tidak saya butuhkan.

Saya pernah berada pada fase ketika memilih foto untuk upload di instagram saja makan waktu begitu lama. Untuk posting foto, saya berpikir panjang apakah saya terlihat menarik, keren, dan seterusnya. Belum lagi memilih caption yang seru dan menarik. Tentu saja semua itu tidak ada salahnya, karena setiap orang memang menggunakan sosial media dengan tujuan dan cara yang berbeda. Tetapi untuk saya pribadi, ternyata ritual foto-memilih foto-membuat caption itu sangat melelahkan. Maka kemudian saya ingat, saya tidak harus melakukan itu semua.

Saat tenggelam dalam kompetisi dan keinginan untuk bisa menjadi seperti si A, B, C, atau bahkan melebihi mereka, terkadang secara tidak sadar kita mulai meniru mereka. Kita terlalu fokus pada orang lain dan tidak lagi memperhatikan diri sendiri. Tidak lagi memperhatikan apa yang sebenarnya kita sukai, inginkan, dan bisa lakukan. Lebih buruk lagi, kita kehilangan identitas. Berkaca pada orang lain sebagai standar untuk menilai diri sendiri bukanlah hal yang tepat. Bagus kalau hal tersebut bisa memacu diri untuk menjadi lebih baik. Tapi kalau pada akhirnya malah memaksa diri meraih sesuatu yang berada di luar jangkauan, sama dengan menyiksa diri namanya.

Ada beberapa hal yang terkadang kita tidak sadar menjadikannya sebagai suatu kompetisi. Misalnya tentang bagaimana penampilan kita, hubungan percintaan, barang yang kita punya, kesuksesan kita, dan banyak lagi. Komentar seperti, ‘Kapan ya saya bisa sekurus dia’, ‘wah dia sudah menikah, saya kapan?’ atau ‘wah dia sudah beli mobil, saya kapan?’ sepertinya sudah tidak asing di telinga kita. Setujukah Anda jika saya menyebutnya sebagai kompetisi? Saya merasa bahwa secara tidak disadari, komentar-komentar tersebut juga merupakan bentuk kompetisi, dan merupakan kompetisi yang tidak perlu.

Daripada membuat orang lain sebagai standar kita, mengapa kita tidak membuat standar untuk diri sendiri? Tentu dengan mempertimbangkan segala situasi yang masuk akal dan bukan karena memaksa diri atau sebagai alasan untuk bermalas-malasan.

Saya menemukan kutipan menarik tentang kompetisi:

“Your competition is not other people but the time you kill, the ill will you create, the knowledge you neglect to learn, the connections you fail to build, the health you sacrifice along the path, your inability to generate ideas, the people around you who don’t support and love your efforts, and whatever god you curse for your bad luck.”
– James Altucher

Bagi saya, kompetisi itu perlu, namun harus berupa kompetisi yang sehat, serta sesuatu yang memang perlu menjadi kompetisi. Sebagai pemicu dan motivasi diri, bukan sekedar untuk menjadi pemenang di antara para pecundang.

Cheers!

Iklan

Belajar Mencintai Tubuh Kita Sendiri

Lama sekali rasanya saya nggak update cerita dan berbagi kisah di blog. Tapi hari ini saya kembali dan ingin berbicara mengenai low self esteem atau rendah diri. Saya bisa mengatakan bahwa sudah cukup lama saya merasa nggak percaya diri. Ada banyak ketidakpuasan yang saya rasakan, dan salah satu diantaranya adalah mengenai fisik, sesuatu yang bisa langsung dilihat oleh orang lain.

Sudah jadi rahasia umum bahwa kriteria ‘cantik’ yang sering kita dengar adalah perawakan yang ramping, hidung kecil dan mancung, dahi kecil, kulit putih, dan seterusnya. Sementara saya berada di spektrum yang berlawanan. Ditambah lagi dengan stigma yang dulu sering saya dengar (yang menurut saya jahat) bahwa “cantik/tampan itu relatif, sedangkan jelek itu mutlak”.

Kepercayaan diri
Belajar mencintai diri sendiri demi mengalahkan low self-esteem

Mengetahui semua itu, jelas saja saya nggak puas dan sering kali merasa iri dengan mereka yang cantik. Tapi, di saat yang sama, saya mulai menyadari banyak. Keadaan fisik yang nggak sejalan dengan kriteria umum tentang cantik ternyata juga nggak pernah menghalangi saya untuk menikmati hidup atau melakukan aktivitas sehari-hari. Saya tetap bisa bekerja, bergaul, melakukan apa saja. Saya punya tubuh yang lengkap dan berfungsi dengan baik, jadi mengapa tidak puas?

Sampai sekarang, saya masih punya banyak teman, dan orang-orang yang mencintai saya. Mereka juga nggak pernah mempermasalahkan bagaimana penampilan fisik saya. Bukankah berarti ada kualitas tertentu yang membuat mereka mau bersama saya? Sesuatu yang jauh lebih penting dan menarik dari sekadar penampilan fisik.

Memahami Bahwa Manusia Diciptakan Berbeda

Mari belajar menerima bahwa setiap manusia diciptakan dengan bentuk yang berbeda dan ingatlah bahwa ada beberapa bagian dari diri kita yang sebenarnya juga menarik. Mungkin kita mewarisi kulit gelap dari ayah, pinggul besar dari ibu, tapi lalu mengapa itu menjadi masalah? Menginginkan tubuh kecil, badan tinggi dan kulit putih pucat seperti seseorang yang bahkan tidak berasal dari ras yang sama dengan kita itu nggak realistis.

Sportsquad
Ini dia sportsquad saya. Teman-teman yang suka olahraga.

Berkumpul dengan Orang-orang yang Positif

Siapa orang di sekitar kita mempengaruhi cara kita memandang diri kita sendiri. Jadi, ada baiknya jika kita berkumpul dengan orang-orang yang mampu memberi semangat dan memperingatkan ketika mulai melenceng dari target untuk hidup lebih sehat. Kalau perlu, bisa sekalian membuat sportsquad, jadi kita lebih bersemangat saat berolahraga bersama. Berkumpul dengan seseorang berpandangan positif juga berarti mereka yang tidak akan menilai kita hanya dari penampilan fisik saja.

Memastikan Diri Selalu Bersih dan Rapi

Terkadang karena sudah terlalu lama merasa tidak percaya diri, sebagian orang jadi pasrah dan tidak mau berbenah. Menerima dan mencintai diri sendiri bukan berarti membiarkannya kita begitu saja. Justru mencintai diri sendiri berarti harus merawat kondisinya. Selain dengan cara menjaga agar tubuh tetap sehat, selalu berpenampilan rapi dan bersih juga bentuk bahwa kita peduli dengan tubuh kita.

Kita harus berhenti mengikuti anggapan populer tentang definisi normal, cantik, atau menarik dan lakukan hal yang benar dan baik untuk tubuh kita. Mari fokus pada hal yang lebih penting yaitu bahwa kita sehat dan tubuh berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya. 😀