Kerja Keras Bagus, Overworked Jangan

Sebagai seorang freelancer, saya cenderung tidak punya waktu tetap kapan harus bekerja dan istirahat. Idealnya sih, meskipun freelance jam kerja tetap harus diatur agar efektif, misalnya dari pukul 9 pagi sampai 5 sore. Tapi, karena tidak ada aturan jam tertentu, impian kerja tepat waktu itu sering kali tidak berjalan. Akhirnya, jadi gampang banget overworked. Alasannya sih sederhana, masih belum bisa bilang ‘tidak’ ke tawaran pekerjaan. ūüėÄ

Terkadang karena begitu bersemangat, jadi tidak sadar bahwa kita sudah mulai overworked alias bekerja berlebihan. Dan ketika mau bilang ke atasan atau menolak pekerjaan, terkadang ada rasa khawatir dianggap complaining atau mengeluh. Padahal bekerja pun tetap harus sesuai porsi, dan kita juga harus sadar kemampuan fisik dan mental kita. Istirahat yang cukup dan lepas dari urusan pekerjaan untuk sementara waktu itu perlu!

Muncul Perasaan Bahwa Pekerjaan Tersebut Sepertinya Tidak Kunjung Selesai

Busy working
[source: pexels.com]
Hal pertama yang membuat saya sadar bahwa saya overworked adalah pekerjaan tersebut rasanya tidak kunjung selesai. Baru selesai satu kerjaan sudah datang lagi pekerjaan lainnya yang juga harus segera selesai. Perasaan lega karena satu tugas telah selesai itu sudah tidak ada. Sebaliknya, rasanya seperti terus-terusan dikejar. Acara bertemu teman meski sebentar saja sudah terasa jadi seperti kegiatan yang buang-buang waktu.

Merasa Masih Kekurangan Waktu dalam Sehari

Time
[Source: Pexels.com]
Selanjutnya, saya merasa siang hari terasa terlalu pendek, dan masih butuh lebih banyak waktu untuk bisa meyelesaikan pekerjaan. Terkadang, sampai terpaksa harus lembur dan mengorbankan jam tidur. Pekerjaan yang menumpuk bisa menimbulkan stres, apalagi jika ditambah dengan kurang tidur.

Susah Santai Meskipun Tidak Sedang Bekerja

Relax
[Source: Pexels.com]
Ketika sudah terlanjur¬†overworked atau bekerja berlebihan selama beberapa waktu, hal selanjutnya yang saya alami adalah susah bersantai. Hal ini terjadi karena sudah terbiasa untuk selalu ‘on’ atau juga karena khawatir dengan pekerjaan yang datang mendadak dan harus segera selesai. Bahkan setelah segala gadget dimatikan, pikiran tidak bisa tenang karena selalu merasa khawatir dengan pekerjaan yang akan datang, atau bahkan yang telah diselesaikan. Apalagi jika tidak membedakan waktu atau hari khusus untuk istirahat atau libur.

Kesehatan Terganggu

Tired
[Source: Pexels.com]
Reaksi orang tentu berbeda-beda ketika tubuhnya mengalami kelelahan karena bekerja berlebihan. Saya sendiri biasanya migrain karena terlalu lama berada di depan laptop. Jika itu terjadi, maka harus segera istirahat karena pekerjaan juga tidak akan bisa diselesaikan dalam kondisi seperti itu. Selain itu, saya juga jadi sering mengantuk dan lesu sepanjang hari.

Kerja keras memang baik, tapi jangan sampai berhenti meluangkan waktu untuk istirahat atau bersantai. Saya percaya bahwa¬†hardwork does pay off, tapi jangan sampai bekerja terlalu keras malah membuat kesehatan kita yang memburuk nantinya. Karena ketika kita sakit, bukankah kita juga tidak bisa menikmati hasil kerja keras tersebut? Saya yakin anda setuju dengan saya. ūüôā

Do your best in work, but don’t forget to let yourself rest and enjoy your hardwork.

Iklan

Mini Refreshing di Sela Tumpukan Pekerjaan

Finally! I came back!

Beberapa bulan¬†terakhir¬†terasa¬†hectic banget buat saya. Target-target baru dan pekerjaan dengan deadline yang saling kejar-kejaran adalah salah satu yang membuat saya merasa agak kewalahan beberapa waktu terakhir ini. Jadi saya bahkan tidak punya energi atau ide untuk mengisi blog sesering yang saya harapkan.¬†I’m not complaining though, because I obviously love my job and I have targets I’m working hard to achieve.

Tapi ya gitu, secinta-cintanya kita sama pekerjaan, terkadang akan ada masa ketika kita merasa overwhelmed. Lelah, kewalahan, dan ingin istirahat, atau bahkan mungkin ingin liburan, kabur sejenak. Maka saya memutuskan bahwa hari ini akan menjadi waktu bagi saya untuk unwinding myself atau refresh kembali keseharian saya.

Bicara soal refreshing atau unwinding my life, yang terlintas di pikiran kita terkadang adalah liburan, wisata, dan sejenisnya. Tapi sayangnya, untuk saat ini bagi saya having a long holiday is not my option yet. Meski begitu, belum bisa liburan panjang bukan berarti kita nggak bisa refresh ourselves kok.

Pagi hari saya awali dengan bangun jogging pagi yang sudah beberapa bulan saya lewatkan. Tanpa olahraga, saya memang merasa lebih cepat lesu dan mood saya gampang kacau. Mungkin karena itu juga beberapa bulan terakhir saya merawa kewalahan sekali dan gampang stress.

jogging
Jogging pagi [Image Source]
Dalam perjalanan ke dan dari track jogging,¬†I drive slow. Saya memacu motor dengan santai, tanpa terburu-buru, sambil menikmati apa saja yang bisa saya lihat di sepanjang jalang.¬†And it was fun!¬†Nyetir tanpa rasa terburu-buru ingin cepat sampai membuat saya merasa lebih rileks.¬†I didn’t get the pressure of wanting to be there as soon as possible or feel angry for bad drivers that cut me off or those drivers that drive too close to me. Nyetir jadi berasa lebih enak aja. Nggak ada stress di jalan.

Pulang jogging lanjut dengan mandi, sarapan, pasang musik, kemudian menata meja kerja.¬† I don’t know about you, tapi menata ulang meja kerja itu kegiatan yang seru buat saya. Saya bukan tipe yang menata meja kerja rutin setiap hari, jadi terkadang akan sedikit berantakan dan perlu ditata kembali. Terlebih lagi saya masih belum bisa menatanya sesuai keinginan saya pribadi karena saya masih tinggal dengan orang tua¬†and have to share spaces. But hopefully my place will be ready soon and I can have my own space.¬†Can’t wait! ūüėÄ

Saudara-saudara saya atau keponakan juga suka ‘nitip’ meletakkan barang/mainan mereka di meja saya.¬†Kadang ini bikin sebel, tapi ya gak bisa komplain. ūüėÄ Memang sih menata space saya pribadi jadi tidak optimal,¬†but it works though. Setiap perubahan terkecil yang kita buat itu akan memberi pengaruh, kok. Dan justru dari hal-hal terkecil ini kadang kita bisa¬†menyegarkan diri kita kembali.

Selesai menata ini itu, lanjut kerja lagi deh. Buat saya, refreshing nggak berarti harus nggak kerja sama sekali dalam sehari. Karena sebenarnya setelah sedikit penyegaran seperti menata meja dan jogging, saya sudah merasa siap lagi buat bekerja. Jadi saya lanjut deh kerja sampai siang sebelum akhirnya makan siang dan tiduran.

Sorenya, lanjut dengan menulis jurnal. Sudah lama sekali saya tidak menulis jurnal tentang apa yang saya inginkan, harapan, target-target, serta proyek-proyek yang sedang direncanakan. Beberapa tahun terakhir, saya cenderung membiarkan semuanya mengalir begitu saja dan nggak merencanakan apa-apa. My life have been good the past year meski saya nggak menulis jurnal, tapi saya jadi gampang kewalahan karena sering bingung dengan perkembangan yang tiba-tiba terjadi dan saya nggak tahu harus berbuat apa. Dengan menulis jurnal, harapan saya adalah saya jadi bisa mengantisipasi kemungkinan yang terjadi dan nggak bingung-bingung amat atau jadi merasa terlalu overwhelmed. Selain itu saya juga berharap agar rencana-rencana yang dibuat juga jadi bisa lebih terstruktur dan terlaksana dengan baik.

Buku
[Image Source]
Tentu saja hidup nggak selamanya berbunga-bunga, indah, dan kerja melulu.¬† I have personal problems too yang terkadang nggak bisa saya kendalikan. Tapi dengan berusaha mengendalikan dan menata aspek hidup saya lain, harapannya adalah¬† saya bisa lebih bahagia, dan sehat. Tapi jangan lupa bersyukur yah. Terlalu fokus mengendalikan hidup tanpa bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki dan capai juga pada akhirnya hanya akan membuat hidup kita seperti kegiatan ‘kejar-kejaran’ yang tidak jelas targetnya. Tanpa bersyukur, apapun yang kita capai tidak akan membuat kita puas karena selalu merasa ada yang kurang.

That’s all for the update folks because I have to get back to work. ūüėÄ

Stay happy and blessed. :*

Satu Tahun Full Freelance, How Does It Feel?

Nggak kerasa udah satu tahun aja jadi seorang Full Freelancer. Ada banyak hal yang aku rasakan saat baru jadi freelancer, nggak melulu enak, kendala tetep ada juga. Kalau pengen tahu apa aja, bisa diintip di sini. Sejauh ini, nikmat dan enggaknya tetep sama dengan saat pertama kali terjun jadi freelancer. Tapi setelah satu tahun, ternyata masih ada kejutan-kejutan lainnya.

Saat pertama kali memutuskan freelance, saya punya keinginan untuk kerja sambil traveling. Pindah-pindah kota, biar bisa lihat banyak hal. Kan gampang sekarang kerjanya, tinggal nenteng laptop lalu berangkat. Sekalian belajar biar bisa lebih berani (Karena saya super pemalu dan penakut XD). Ternyata meski udah freelance, traveling tetap nggak segampang tinggal nenteng barang bawaan (setidaknya buat saya).

Ada banyak hal yang harus dipikirkan, mulai dari gimana menyesuaikan waktu perjalanan (yang otomatis gak bisa kerja maksimal) dengan deadline yang mepet, gimana atur waktu kerja di kota tujuan sekaligus jalan-jalan (karena kalau udah nyampe kota tujuan tapi ternyata tetep harus diam di satu tempat selama berjam-jam buat kerja adalah sia-sia), gimana kalau sedang jalan-jalan ternyata tiba-tiba dihubungi dengan pekerjaan urgent,¬†dan seterusnya. Sepertinya saya nggak sanggup traveling sambil kerja. Karena saya ternyata tipe orang yang kalau main harus full main, kalau kerja harus full kerja. Nggak bisa main sambil kerja, atau kerja sambil main dijamin berantakan kerjaannya. ūüėÄ

Meski begitu, keputusan pengen liburan berapa lama dan berapa kali ada di tangan kita. Artinya, nggak perlu khawatir kena marah karena terlalu sering ambil cuti. Toh, pendapatan yang didapat sesuai dengan jumlah kerjaan yang dilakukan. Makin rajin kerja ya makin banyak, makin banyak liburan ya makin dikit pendapatannya. Simple.

Hal selanjutnya adalah,¬†it’s fine to refuse a job, although it’s not easy at all. Ketika deadline makin banyak, kerjaan makin banyak berdatangan,¬†it’s fine to refuse a job. Dulu di awal, saya selalu menerima segala job yang datang, berpikir bahwa saya punya cukup waktu atau karena merasa sungkan untuk menolak. Tapi yang seperti itu ternyata malah mempersulit diri sendiri. Selain jadi kurang tidur karena terlalu sering lembur, kadang kerjaan juga kurang bagus hasilnya.

Memang sih kadang menolak pekerjaan itu nggak gampang, karena rasanya sayang banget nolak pendapatan. Apalagi sumber pendapatan freelance memang berdasarkan jumlah klien yang kita dapat. Tapi daripada klien nggak puas karena kerjaan yang nggak maksimal atau kita yang jadi sakit karena kecapekan, mending negosiasi buat memundurkan deadline. Kalau nggak bisa, it’s okay to refuse it.¬†Yakin deh, rejeki bisa datang dari mana aja kok.

Salah satu hal yang bikin saya puas dengan profesi saya sekarang adalah, I have time for taking a nap. Yup, siang hari adalah jam paling ngantuk buat saya. Sejak memutuskan mengurangi minum kopi, tidur siang sebentar jadi pilihan saya ketika mulai ngantuk dan loyo di siang hari. Pasalnya, waktu ngopi saya berasa seperti dipaksa melek, sedangkan kalau tidur siang, saya berasa seperti menerima reward setelah kerja dari pagi. Istirahatnya juga lebih lega, karena mata ikutan istirahat setelah lama melototin layar monitor. Ketika bangun tidur, badan dan otak sudah fresh lagi buat lanjut kerta. Meski bisa tidur siang, tetap saja nggak bisa keterusan molor. Istirahat tidur siang tetep dibatasi biar nggak keterusan sampai sore dan lupa dengan kerjaan.

Selanjutnya adalah status pekerjaan di mata masyarakat. Fakta bahwa saya lebih sering berada di rumah dan tidak berangkat pagi pulang sore seperti karyawan lainnya membuat saya sering dikira pengangguran. Yah tapi masalah ini sih gampang diselesaikan, asalkan yang mengira saya pengangguran memutuskan untuk bertanya. Yang susah itu kalau nggak tanya tapi lalu dijadikan gosip. ūüėÄ

Nah, itu tadi cuma sebagian hal yang saya rasakan setelah 1 tahun lebih jadi freelancer. Antara freelancer satu dan lain tentu nggak sama, karena disesuaikan dengan karakter dan cara kerja masing-masing individu. Meski begitu sejauh ini, saya ternyata tetap menikmati pekerjaan ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Bosan dengan Pekerjaan? Kita Semua Pernah Mengalaminya

Saat pertama masuk kerja, apalagi di bidang yang selama ini diinginkan, pasti lah rasanya menyenangkan sekali. Semangat sedang tinggi-tingginya, mengerjakan segala macam proyek setiap saat, rajin berangkat kerja, selalu membicarakan pekerjaan di mana saja, kita semua pernah mengalami hal itu. Saat-saat seperti ini bisa membuat kita merasa begitu bangga dan bersemangat. Tapi kadang perasaan seperti ini bisa hilang begitu saja. Tiba-tiba kita merasa bosan setengah mati dengan rutinitas pekerjaan yang dulu begitu kita cintai.

Rasa bosan dan tidak termotivasi itu jelas perasaan yang paling buruk di dunia kerja. Tapi tenang, ternyata banyak juga orang yang merasakan hal seperti ini. Bahkan pekerjaan yang menurut kita terbaik pun juga pasti ada masa-masanya sendiri yang membuat seseorang merasa bosan. Jangan dikira ada pekerjaan yang sempurna di dunia ini. There’re always ups and downs in everything.

Jangan Terburu-buru Kabur dan Cari Pekerjaan Baru

Merasa bosan dan tidak termotivasi jangan dijadikan alasan untuk buru-buru kabur dari pekerjaan dan mencari pekerjaan lain. Setidaknya, cari tahu terlebih dulu apa yang membuat kita bosan dengan pekerjaan tersebut dan cari solusinya.

Jangan sampai saat akhirnya sudah mengundurkan diri, ternyata malah merindukan pekerjaan lama atau menyesal karena pekerjaan lama ternyata jauh lebih baik. Cari tahu apa yang membuat kita bosan. Jika masalahnya hanya ada pada rutinitas atau pola kerja yang monoton, jelas ini masih bisa diatasi.

Buat Batasan Antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi

Terkadang kita bosan karena banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan setiap hari kerja. Apalagi jika sampai harus lembur dan membawa pekerjaan pulang ke rumah. Sebesar apapun cinta dan dedikasi kita dengan pekerjaan, usahakan untuk tetap memiliki batas antara kehidupan pribadi dan karir. Hal inilah yang nantinya akan membantu kita agar lebih bebas dari stress dan bosan.

Pernah suatu ketika saya begitu cinta dengan pekerjaan sampai segala proyek dan saya lakukan. Saya tidak liburan, bersosialisasi, dan hanya fokus bekerja. Yep, saya pernah begitu ambisius sampai melupakan hal lain selain pekerjaan. Hasilnya, saya kehilangan teman, selalu stress, bahkan hingga dianggap caper dengan atasan. T_T Berangkat ke kantor jadi terasa berat dan waktu bekerja juga semakin membosankan.

Cari Tantangan dalam Pekerjaan

Kalau kita mengerjakan tugas yang itu-itu saja, jelas rasa bosan bisa muncul setiap saat. Coba cari tantangan baru dalam pekerjaan. Jika atasan menawarkan tugas baru, jangan ragu untuk mengambilnya. Karena ini bisa jadi sedikit perubahan baru untuk rutinitas kita. Selain itu, siapa tahu ini bisa menjadi pijakan buat kita untuk mendapatkan promosi atau melangkah ke jenjang karir yang selanjutnya.

Memang bukan hal yang mudah untuk mau menerima tantangan seperti ini. Pasti akan ada rasa ragu atau takut gagal. Tapi setidaknya dengan mencoba, kita jadi tahu kemampuan kita dan ada kesempatan untuk semakin meningkatkan kemampuan tersebut.

Apakah Kita Membuat Perbedaan?

Salah satu alasan beberapa orang tidak puas dengan pekerjaannya adalah mengetahui apakah mereka membuat perbedaan atau tidak. Baik untuk masyarakat atau perusahaan tempatnya bekerja. Terkadang kita merasa melakukan pekerjaan yang percuma dan sia-sia, dan hal inilah yang bisa membuat kita kehilangan motivasi dan merasa bosan.

Ketika kita mulai merasa lagi-lagi melakukan pekerjaan yang sia-sia, coba pikirkan kembali perbedaan apa yang sudah kita perbuat. Tidak perlu sesuatu yang besar, (meski kalau ada sih itu lebih baik), mungkin berhasil melakukan pekerjaan customer service dengan baik, membuat pelanggan puas dan senang, menjaga nama baik perusahaan, dan banyak lagi. Berhentilah sejenak untuk mencari manfaat dan perbedaan apa yang sudah kita lakukan saat mengerjakan pekerjaan kita. Dari situ, motivasi mungkin akhirnya bisa muncul kembali.

Jangan Lupa Liburan!

Nah, liburan juga tidak kalah penting. Manfaatkan hari libur untuk memanjakan diri tanpa memikirkan pekerjaan. Tidak harus liburan panjang ke luar kota, kok. Melakukan hobi yang paling kita sukai juga sudah bisa menjadi liburan tersendiri untuk menyegarkan pikiran. Membaca, nonton film, jalan-jalan di kota, apapun yang bisa membantumu kembali rileks, lakukan saja.

Apakah kamu juga pernah mengalami kebosanan dalam pekerjaan? Apa sih yang kamu lakukan buat mengatasinya?