Belajar Mencintai Tubuh Kita Sendiri

Lama sekali rasanya saya nggak update cerita dan berbagi kisah di blog. Tapi hari ini saya kembali dan ingin berbicara mengenai low self esteem atau rendah diri. Saya bisa mengatakan bahwa sudah cukup lama saya merasa nggak percaya diri. Ada banyak ketidakpuasan yang saya rasakan, dan salah satu diantaranya adalah mengenai fisik, sesuatu yang bisa langsung dilihat oleh orang lain.

Sudah jadi rahasia umum bahwa kriteria ‘cantik’ yang sering kita dengar adalah perawakan yang ramping, hidung kecil dan mancung, dahi kecil, kulit putih, dan seterusnya. Sementara saya berada di spektrum yang berlawanan. Ditambah lagi dengan stigma yang dulu sering saya dengar (yang menurut saya jahat) bahwa “cantik/tampan itu relatif, sedangkan jelek itu mutlak”.

Kepercayaan diri

Belajar mencintai diri sendiri demi mengalahkan low self-esteem

Mengetahui semua itu, jelas saja saya nggak puas dan sering kali merasa iri dengan mereka yang cantik. Tapi, di saat yang sama, saya mulai menyadari banyak. Keadaan fisik yang nggak sejalan dengan kriteria umum tentang cantik ternyata juga nggak pernah menghalangi saya untuk menikmati hidup atau melakukan aktivitas sehari-hari. Saya tetap bisa bekerja, bergaul, melakukan apa saja. Saya punya tubuh yang lengkap dan berfungsi dengan baik, jadi mengapa tidak puas?

Sampai sekarang, saya masih punya banyak teman, dan orang-orang yang mencintai saya. Mereka juga nggak pernah mempermasalahkan bagaimana penampilan fisik saya. Bukankah berarti ada kualitas tertentu yang membuat mereka mau bersama saya? Sesuatu yang jauh lebih penting dan menarik dari sekadar penampilan fisik.

Memahami Bahwa Manusia Diciptakan Berbeda

Mari belajar menerima bahwa setiap manusia diciptakan dengan bentuk yang berbeda dan ingatlah bahwa ada beberapa bagian dari diri kita yang sebenarnya juga menarik. Mungkin kita mewarisi kulit gelap dari ayah, pinggul besar dari ibu, tapi lalu mengapa itu menjadi masalah? Menginginkan tubuh kecil, badan tinggi dan kulit putih pucat seperti seseorang yang bahkan tidak berasal dari ras yang sama dengan kita itu nggak realistis.

Sportsquad

Ini dia sportsquad saya. Teman-teman yang suka olahraga.

Berkumpul dengan Orang-orang yang Positif

Siapa orang di sekitar kita mempengaruhi cara kita memandang diri kita sendiri. Jadi, ada baiknya jika kita berkumpul dengan orang-orang yang mampu memberi semangat dan memperingatkan ketika mulai melenceng dari target untuk hidup lebih sehat. Kalau perlu, bisa sekalian membuat sportsquad, jadi kita lebih bersemangat saat berolahraga bersama. Berkumpul dengan seseorang berpandangan positif juga berarti mereka yang tidak akan menilai kita hanya dari penampilan fisik saja.

Memastikan Diri Selalu Bersih dan Rapi

Terkadang karena sudah terlalu lama merasa tidak percaya diri, sebagian orang jadi pasrah dan tidak mau berbenah. Menerima dan mencintai diri sendiri bukan berarti membiarkannya kita begitu saja. Justru mencintai diri sendiri berarti harus merawat kondisinya. Selain dengan cara menjaga agar tubuh tetap sehat, selalu berpenampilan rapi dan bersih juga bentuk bahwa kita peduli dengan tubuh kita.

Kita harus berhenti mengikuti anggapan populer tentang definisi normal, cantik, atau menarik dan lakukan hal yang benar dan baik untuk tubuh kita. Mari fokus pada hal yang lebih penting yaitu bahwa kita sehat dan tubuh berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya. 😀

Iklan

Belajar Lebih dengan Mengurangi Bicara dan Perbanyak Mendengar

Mereka yang sudah kenal baik dengan saya, tahu betul bahwa saya bisa sangat cerewet dan suka sekali bicara. Meskipun kadang saya bisa sangat pemalu dan diam saja jika bertemu dengan orang-orang baru. Tapi siapa sangka, ternyata dengan diam dan lebih banyak mendengar, ada lebih banyak hal yang bisa didapatkan.

Beberapa tahun lalu, saya bertemu seseorang yang tidak banyak bicara dan lebih suka diam. Saat itu kami sedang duduk bersama dan mendengar sekelompok orang bicara, dia bertanya pada saya, kenapa mereka rebutan membicarakan diri mereka sendiri, kenapa mereka terus bilang saya, saya, saya, saya? Saat itu kami berdebat kecil karena saya tidak setuju dengannya. Tapi semakin kesini, sepertinya saya semakin paham dengan apa yang ia bicarakan saat itu.

Hal yang kurang lebih sama juga diceritakan salah satu teman saya yang lain baru-baru ini. Teman saya yang menurutnya dulunya lebih suka didengar daripada mendengar ini mengatakan bahwa ternyata banyak hal yang ia dapatkan dengan mendengarkan dengan baik apa yang dibicarakan orang lain.

pexels-photo-29672

Mendengar membantu kita memahami orang lain

Saat kita diam dan mendengarkan orang lain bicara, terkadang kita bisa belajar dari apa yang mereka ceritakan. Bahkan meskipun yang didengar adalah curhatan seseorang tentang masalah mereka. Setidaknya kita jadi paham, ternyata ada orang yang memiliki masalah yang lebih rumit dari masalah kita. Atau mungkin ketika mereka menceritakan kesuksesannya, kita jadi tahu bahwa ada banyak orang-orang hebat di luar sana, jadi kita tidak punya alasan untuk menjadi congkak. Seperti kata pepatah yang sudah banyak didengar tapi sulit dipraktekan, “diatasnya langit, masih ada langit”.

Dengan diam dan berpikir terlebih dulu, kita terhindar dari mengatakan hal-hal yang nantinya mungkin akan kita sesali. Kadang tidak sadar kita ingin mengambil kesempatan bicara sebelum orang lain. Akhirnya kita asal bicara tanpa benar-benar memahami apa yang kita bicarakan atau mengapa kita harus membicarakannya. Hasilnya? Ya kita tidak benar-benar didengarkan, atau yang lebih buruk, kita mengatakan hal yang seharusnya tidak boleh kita ucapkan.

Mendengar juga berarti memungkinkan kita untuk “meminjam” sudut pandang si pembicara untuk sejenak dan memahaminya apa yang mereka bicarakan. Selanjutnya, kita juga memiliki waktu untuk membiarkan mereka selesai bicara sekaligus memikirkan versi sudut pandang kita sendiri. Jadi, kita tidak terburu-buru membuat kesimpulan yang bisa jadi salah gara-gara kita terburu-buru merespon dan tidak benar-benar memahami apa yang dibicarakan orang lain.

pexels-photo-38940

Kalau ingin didengar saat bicara, sudah saatnya kita mendengar lain orang bicara, kan?

Kadang waktu kita ngobrol dan saking asyiknya bercerita, kita lupa untuk benar-benar mendengarkan. Kita ingin ikut berbicara dan membagi apa yang kita ketahui, atau bahkan menunjukkan apa yang kita ketahui. Memang, jadi pusat perhatian itu bisa menyenangkan, tapi egois sekali kita kalau cuma ingin didengarkan tapi tidak mau mendengar?

Sebagai seseorang yang cerewet dan ceriwis, saya paham betul banyak hal penting dan istimewa yang tidak sadar telah saya lewatkan selama ini. Seandainya dulu saya lebih banyak mendengar, dan tidak banyak bicara, pasti banyak hal yang berbeda saat ini. Tapi ya begitulah manusia. Kadang kita memang perlu menengok ke belakang, melihat apa yang telah kita lakukan, dan mulai memperbaiki apa yang salah. Karena kalau tetap melakukan kesalahan yang sama ya bebal namanya. 😀

 

 

Hal Paling Sia-sia yang Seharusnya Memang Tidak Perlu Dilakukan Lagi

Banyak hal kita lakukan untuk menjalani hidup dengan lebih baik dan menjauh dari masalah. Tapi seperti yang sudah kita semua ketahui, tidak semua hal berjalan seperti kemauan kita. Malah beberapa terkadang benar-benar berkebalikan dari apa yang kita harapkan.

Semakin bertambah usia, semakin saya sadar bahwa beberapa hal memang tidak bisa saya paksakan dan lakukan. Semakin saya berjuang melakukannya, semakin terbuang percuma waktu dan usaha saya, alias sia-sia. Bukan berarti menyerah, tapi jika pada akhirnya tidak menguntungkan dan justru membuat saya semakin sengsara, mengapa harus terus dilakukan?

Berusaha Menang dalam Setiap Percakapan

Percakapan itu seharusnya timbal balik dan tidak didominasi oleh satu orang saja. Memang kebanyakan orang suka didengarkan, tapi terkadang begitu sukanya didengar sampai lupa membiarkan orang lain bicara. Apalagi jika berusaha meyakinkan seseorang yang berseberangan dengan dirinya.

Berusaha memenangkan percakapan seperti ini dan berjuang untuk diakui adalah hal yang sia-sia. Selantang dan sesering apapun kita bicara, mereka yang tidak suka akan tetap tidak suka dan tetap tidak yakin dengan apa yang kita katakan. Lalu, kenapa harus membuang-buang waktu?

Berusaha Membuat Orang Menyukai Kita

Salah satu hal yang paling saya takuti adalah dibenci seseorang. Begitu takutnya saya dibenci, saya sering kurang tidur gara-gara memikirkan apakah hari itu saya mengatakan hal yang salah atau melakukan hal yang menyinggung orang lain. Di satu sisi, hal itu memang membuat seseorang menjadi lebih berhati-hati, tapi di saat yang sama juga membuat saya terus berada dalam kekhawatiran.

Pada akhirnya, saya memahami bahwa tidak semua orang menyukai kita, dan itu tidak masalah. Berusaha membuat semua orang menyukai kita malah membuat kita tidak bisa menjadi diri sendiri. Kita menjadi merasa terkekang dan dibatasi karena takut seseorang membenci kita bahkan untuk hal-hal yang paling sepele. Parahnya lagi, saya pernah sampai menjadi pribadi yang tidak bisa mengeluarkan uneg-uneg, dan selalu menahan diri karena takut dibenci. Pernah juga dikira seperti bunglon yang selalu memiliki wajah berbeda-beda, padahal alasan dasarnya hanya satu, takut tidak disukai.

Semakin bertambah usia, semakin saya mengerti bahwa tidak masalah jika kita tidak disukai seseorang. Karena nantinya kita juga akan menemukan seseorang yang cocok dengan sifat dan karakter kita.

Berusaha Mengubah Seseorang

Hal lain yang menurut saya sama sia-sianya adalah berusaha mengubah seseorang. Apalagi jika itu sudah menjadi karakter atau kebiasaan mereka. Bahkan meskipun hal yang ingin Anda ubah itu adalah hal yang buruk dan hanya demi kebaikan mereka saja.

Berusaha mengubah kebiasaan seseorang yang memang tidak ingin berubah bukan saja sia-sia, tapi juga terkadang malah menimbulkan perasaan tidak enak atau tidak nyaman. Terkadang cara terbaik adalah membiarkan mereka menyadarinya sendiri. Pada akhirnya, mereka sendiri juga yang akan menyelesaikan masalah tersebut pada waktu dan dengan cara mereka sendiri.

Berjuang untuk mencapai apa yang kita inginkan memang merupakan hal yang bagus untuk terus dilakukan. Tapi kita juga perlu menjadi cukup bijak untuk memahami apa yang tidak bisa kita ubah.