Alasan Menulis Blog dan Lahirnya Tetalogi

Beberapa hari lalu saya memutuskan untuk ikutan challenge Blogger Perempuan untuk menulis di blog selama 30 hari berturut-turut di bulan November-Desember. Saya memutuskan untuk ikutan, sekalian melatih komitmen saya buat rajin menulis di blog. Ya setidaknya agar blog ini tidak berdebu dan segala macam ide tulisan yang terpampang di depan meja kerja bisa segera ditulis dan tidak hanya jadi pajangan motivasi yang ternyata tidak berhasil memotivasi. ūüôā¬†I know it doesn’t happen to me only.

Topik pertama¬†challenge¬† ini adalah¬†‘Kenapa Menulis Blog’. Alasan sederhananya adalah karena saya suka menulis. Alasan yang kurang sederhananya adalah berbagi ide atau pemikiran yang ada di kepala yang terkadang jarang saya ungkapkan pada orang lain. Harapannya, jika saya bisa konsisten untuk terus membuat konten positif, orang lain juga tergoda untuk membuat konten positif juga. Intinya sih ya untuk saling menyemangati, memotivasi dan mendorong orang lain agar mau berpikir dan bersikap positif.

Menulis blog bagi saya adalah sarana berbagi pemikiran sekaligus menguraikan beragam hal yang kusut di pikiran. Dengan menulis, terkadang saya bisa melihat suatu masalah dengan lebih jelas, menganalisanya dari berbagai sudut pandang, kemudian berusaha mencari solusi atau penyelesaian yang bisa membuat diri dan pikiran saya tenang.

Busy working
Menulis di blog [source: pexels.com]
Blog ini memang tidak memiliki satu niche atau topik yang khusus dan spesifik. Isinya lebih mirip gado-gado, berbagai macam topik tersedia meskipun yang jelas semua sudah dikelompokkan dalam kategori sesuai jenisnya. Ada kategori inspirasi, review tentang kecantikan, buku, aplikasi, serta musik. Mungkin nanti juga akan saya tambah dengan review film, mengingat saya juga sangat suka film.

Jika kamu sudah sering mampir di tetalogi, kamu tentu paham betul bahwa topik yang paling sering saya isi adalah inspirasi. Di topik tersebut, saya mencoba berbagi tentang ide, pemikiran atau pengalaman saya tentang banyak hal saat menjalani hari-hari sebagai seorang freelancer. Jelas tulisan tersebut dibuat tanpa maksud menggurui, namun lebih ke berbagi pengalaman saja.

Jika kamu hanya melihat tulisan bernada positif di dalam tulisan-tulisan dengan kategori inspirasi di blog ini, itu semua karena saya berusaha membuat tulisan yang sepositif mungkin. Harapannya adalah orang lain ikut merasa senang dan bersemangat setiap hari. Karena terkadang, manusia perlu pengingat dan inspirasi untuk kembali bangkit dari rasa kesal dan stres sehari-hari,¬†at least that’s how I am, and I know I am not alone.

Bagi saya, hidup terkadang bisa sangat sulit dengan banyak masalah yang menghimpit. Tapi setidaknya, saya berharap hidup akan lebih dapat dijalani dengan baik dan tenang jika kita bisa menemukan hal-hal yang dapat membantu kita tetap berpikir positif. Harapannya kita bisa lebih fokus dengan ‘apa yang penting’ dari pada harus membuang energi dan pikiran untuk sesuatu yang percuma ataupun sia-sia.

Dengan segala harapan tersebut maka tetalogi lahir.

 

 

 

 

 

Iklan

Tetap Berekspresi Tanpa Berusaha Membuat Kagum

Express without having to impress, atau ‘berekspresi tanpa harus membuat kagum’.

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan ekspresi tersebut dan merasa aneh dengan konsepnya. Setahu saya, seseorang berekspresi karena ingin diakui, mendapatkan validasi, atau sederhananya adalah membuat orang lain kagum. Untuk apa seseorang memotret foto, seorang pemusik menciptakan lagu-lagu indah, seorang penulis menuturkan sebuah cerita selain untuk membuat para penikmatnya ternganga kagum?

Beberapa orang mungkin akan merasa bahwa apa yang kita buat sudah selayaknya mendapat apresiasi yang demikian. Untuk mendapatkannya, kita mempelajari orang di sekitar yang akan melihat karya dan diri kita, kira-kira hal seperti apa yang mereka inginkan dan apa yang akan membuat mereka kagum dengan karya atau diri kita? Tanpa disadari, kita menciptakan sesuatu¬†by demand¬†alias ‘atas permintaan’ agar mereka yang ada di sekitar mampu mengagumi apa yang kita ciptakan, tampilkan, ekpresikan.

Sesuatu yang ‘by demand’¬†bukanlah hal yang buruk, apalagi jika memang berkecimpung di dunia bisnis, di mana hubungan jual beli terikat dengan¬†supply¬†dan¬†demand. Tapi, sayang sekali jika pada akhirnya segala aspek hidup kita menjadi seperti bisnis yang bergantung pada¬†supply dan¬†demand.

Ingin tampil hebat, keren, dan sukses adalah hal yang normal, lagipula, siapa yang tidak ingin demikian? Hanya saja, banyak juga yang menginginkan hal ini karena ingin membuat orang lain kagum, entah itu teman, keluarga, atau bahkan orang yang dibenci. Anehnya, mengapa kita merasa perlu membuat orang lain kagum sementara orang lain tersebut belum tentu memperhatikan atau memikirkan kita.

Beberapa orang mungkin merasa perlu membuat orang lain kagum karena mereka merasa insecure dengan diri sendiri, tidak percaya diri sehingga selalu berusaha membuktikan dirinya. Bisa juga karena selalu membandingkan diri dengan orang lain, untuk menunjukkan bahwa dirinya termasuk dalam suatu kelompok tertentu dan agar diterima oleh orang lain.

Bayangkan, betapa lelahnya jika kita harus terus menerus berusaha membuat orang lain kagum, hidup di atas status ekonomi yang dimiliki sebenarnya, terus saja memberi makan ego, atau bahkan tampil seperti sosok yang sebenarnya sama sekali bukan diri kita sendiri demi diterima atau diakui oleh seseorang yang bahkan belum tentu peduli bahwa kita ada.

Status sosial sepertinya telah menjadi tujuan sekaligus momok bagi banyak orang. Kita berlomba-lomba untuk mencapai definisi status kelas atas, ingin menjadi sosok yang berada di atas orang lain di lingkaran kita. Hanya saja yang jarang kita ingat, ‘lingkaran’ tersebut tidak akan pernah ada habisnya. Ketika kita berhasil mengungguli lingkaran lingkungan tersebut, maka kita akan menemukan lingkaran baru yang berisi orang-orang baru dengan pencapaian yang jauh di atas kita. Maka kita akan kembali berjuang melewati lingkaran tersebut lagi. Begitu seterusnya sampai kita mungkin tidak akan lagi puas dengan apa yang kita kerjakan dan miliki.

Mengapa kita tidak melakukan atau membuat sesuatu yang kita suka? Toh pada akhirnya, kita akan menarik orang-orang dan lingkaran yang tepat dengan berekspresi sesuai dengan siapa kita dan bagaimana diri kita sebenarnya tanpa perlu kelelahan berbuat sesuatu yang jauh dari jati diri kita sebenarnya.

‘We will find the right people when we stay true to ourselves’

 

 

Mengapa Terkadang Kita Perlu Menjauh dari Kompetisi?

Hello again! Sudah lumayan lama sejak postingan blog terakhir. Jika terakhir kali saya mencoba bercerita tentang definisi sukses, kali ini saya ingin bercerita tentang sifat kompetitif. Sesuatu yang entah disadari atau tidak sebenarnya selalu mengiringi setiap langkah kita di dunia kerja, bahkan hidup sehari-hari. Oh atau mungkin dalam keluarga kita sendiri.

Ada kalanya kompetisi memang diperlukan untuk memastikan kita tetap punya target dan motivasi. Pasalnya, dengan kompetisi dan persaingan, kita jadi terpicu untuk selalu berinovasi dan melakukan sesuatu yang lebih baik lagi. Hanya saja, kadang kita terlalu fokus pada kompetisi dan persaingan, sampai lupa bahwa tidak semua hal perlu dijadikan ajang kompetisi.

Saya sempat merasa instagram membuat saya menjadi kompetitif akan hal yang tidak perlu. Melihat beberapa teman yang berhasil traveling ke berbagai tempat menarik dan mengabadikan fotonya dimana-mana, saya ingin melakukan hal yang sama. Melihat beberapa teman pergi ke cafe, berfoto dengan makanan yang ditata sempurna, saya juga ingin melakukannya. Akhirnya saya mencoba melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan kebanyakan orang tersebut, dan ternyata melelahkan juga. Barulah kemudian saya paham, sebenarnya saya tidak perlu berkompetisi untuk sesuatu yang sebenarnya tidak saya butuhkan.

Saya pernah berada pada fase ketika memilih foto untuk upload di instagram saja makan waktu begitu lama. Untuk posting foto, saya berpikir panjang apakah saya terlihat menarik, keren, dan seterusnya. Belum lagi memilih caption yang seru dan menarik. Tentu saja semua itu tidak ada salahnya, karena setiap orang memang menggunakan sosial media dengan tujuan dan cara yang berbeda. Tetapi untuk saya pribadi, ternyata ritual foto-memilih foto-membuat caption itu sangat melelahkan. Maka kemudian saya ingat, saya tidak harus melakukan itu semua.

Saat tenggelam dalam kompetisi dan keinginan untuk bisa menjadi seperti si A, B, C, atau bahkan melebihi mereka, terkadang secara tidak sadar kita mulai meniru mereka. Kita terlalu fokus pada orang lain dan tidak lagi memperhatikan diri sendiri. Tidak lagi memperhatikan apa yang sebenarnya kita sukai, inginkan, dan bisa lakukan. Lebih buruk lagi, kita kehilangan identitas. Berkaca pada orang lain sebagai standar untuk menilai diri sendiri bukanlah hal yang tepat. Bagus kalau hal tersebut bisa memacu diri untuk menjadi lebih baik. Tapi kalau pada akhirnya malah memaksa diri meraih sesuatu yang berada di luar jangkauan, sama dengan menyiksa diri namanya.

Ada beberapa hal yang terkadang kita tidak sadar menjadikannya sebagai suatu kompetisi. Misalnya tentang bagaimana penampilan kita, hubungan percintaan, barang yang kita punya, kesuksesan kita, dan banyak lagi. Komentar seperti,¬†‘Kapan ya saya bisa sekurus dia’, ‘wah dia sudah menikah, saya kapan?’ atau ‘wah dia sudah beli mobil, saya kapan?’¬†sepertinya sudah tidak asing di telinga kita. Setujukah Anda jika saya menyebutnya sebagai kompetisi? Saya merasa bahwa secara tidak disadari, komentar-komentar tersebut juga merupakan bentuk kompetisi, dan merupakan kompetisi yang tidak perlu.

Daripada membuat orang lain sebagai standar kita, mengapa kita tidak membuat standar untuk diri sendiri? Tentu dengan mempertimbangkan segala situasi yang masuk akal dan bukan karena memaksa diri atau sebagai alasan untuk bermalas-malasan.

Saya menemukan kutipan menarik tentang kompetisi:

‚ÄúYour competition is not other people but the time you kill, the ill will you create, the knowledge you neglect to learn, the connections you fail to build, the health you sacrifice along the path, your inability to generate ideas, the people around you who don‚Äôt support and love your efforts, and whatever god you curse for your bad luck.‚ÄĚ
‚Äď James Altucher

Bagi saya, kompetisi itu perlu, namun harus berupa kompetisi yang sehat, serta sesuatu yang memang perlu menjadi kompetisi. Sebagai pemicu dan motivasi diri, bukan sekedar untuk menjadi pemenang di antara para pecundang.

Cheers!

Belajar Mencintai Tubuh Kita Sendiri

Lama sekali rasanya saya nggak update cerita dan berbagi kisah di blog. Tapi hari ini saya kembali dan ingin berbicara mengenai low self esteem atau rendah diri. Saya bisa mengatakan bahwa sudah cukup lama saya merasa nggak percaya diri. Ada banyak ketidakpuasan yang saya rasakan, dan salah satu diantaranya adalah mengenai fisik, sesuatu yang bisa langsung dilihat oleh orang lain.

Sudah jadi rahasia umum bahwa kriteria ‘cantik’ yang sering kita dengar adalah perawakan yang ramping, hidung kecil dan mancung, dahi kecil, kulit putih, dan seterusnya. Sementara saya berada di spektrum yang berlawanan. Ditambah lagi dengan stigma yang dulu sering saya dengar (yang menurut saya jahat) bahwa “cantik/tampan itu relatif, sedangkan jelek itu mutlak”.

Kepercayaan diri
Belajar mencintai diri sendiri demi mengalahkan low self-esteem

Mengetahui semua itu, jelas saja saya nggak puas dan sering kali merasa iri dengan mereka yang cantik. Tapi, di saat yang sama, saya mulai menyadari banyak. Keadaan fisik yang nggak sejalan dengan kriteria umum tentang cantik ternyata juga nggak pernah menghalangi saya untuk menikmati hidup atau melakukan aktivitas sehari-hari. Saya tetap bisa bekerja, bergaul, melakukan apa saja. Saya punya tubuh yang lengkap dan berfungsi dengan baik, jadi mengapa tidak puas?

Sampai sekarang, saya masih punya banyak teman, dan orang-orang yang mencintai saya. Mereka juga nggak pernah mempermasalahkan bagaimana penampilan fisik saya. Bukankah berarti ada kualitas tertentu yang membuat mereka mau bersama saya? Sesuatu yang jauh lebih penting dan menarik dari sekadar penampilan fisik.

Memahami Bahwa Manusia Diciptakan Berbeda

Mari belajar menerima bahwa setiap manusia diciptakan dengan bentuk yang berbeda dan ingatlah bahwa ada beberapa bagian dari diri kita yang sebenarnya juga menarik. Mungkin kita mewarisi kulit gelap dari ayah, pinggul besar dari ibu, tapi lalu mengapa itu menjadi masalah? Menginginkan tubuh kecil, badan tinggi dan kulit putih pucat seperti seseorang yang bahkan tidak berasal dari ras yang sama dengan kita itu nggak realistis.

Sportsquad
Ini dia sportsquad saya. Teman-teman yang suka olahraga.

Berkumpul dengan Orang-orang yang Positif

Siapa orang di sekitar kita mempengaruhi cara kita memandang diri kita sendiri. Jadi, ada baiknya jika kita berkumpul dengan orang-orang yang mampu memberi semangat dan memperingatkan ketika mulai melenceng dari target untuk hidup lebih sehat. Kalau perlu, bisa sekalian membuat sportsquad, jadi kita lebih bersemangat saat berolahraga bersama. Berkumpul dengan seseorang berpandangan positif juga berarti mereka yang tidak akan menilai kita hanya dari penampilan fisik saja.

Memastikan Diri Selalu Bersih dan Rapi

Terkadang karena sudah terlalu lama merasa tidak percaya diri, sebagian orang jadi pasrah dan tidak mau berbenah. Menerima dan mencintai diri sendiri bukan berarti membiarkannya kita begitu saja. Justru mencintai diri sendiri berarti harus merawat kondisinya. Selain dengan cara menjaga agar tubuh tetap sehat, selalu berpenampilan rapi dan bersih juga bentuk bahwa kita peduli dengan tubuh kita.

Kita harus berhenti mengikuti anggapan populer tentang definisi normal, cantik, atau menarik dan lakukan¬†hal yang benar dan baik untuk tubuh kita. Mari fokus pada hal yang lebih penting yaitu bahwa kita sehat dan tubuh berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya. ūüėÄ

Belajar Lebih dengan Mengurangi Bicara dan Perbanyak Mendengar

Mereka yang sudah kenal baik dengan saya, tahu betul bahwa saya bisa sangat cerewet dan suka sekali bicara. Meskipun kadang saya bisa sangat pemalu dan diam saja jika bertemu dengan orang-orang baru. Tapi siapa sangka, ternyata dengan diam dan lebih banyak mendengar, ada lebih banyak hal yang bisa didapatkan.

Beberapa tahun lalu, saya bertemu seseorang yang tidak banyak bicara dan lebih suka diam. Saat itu kami sedang duduk bersama dan mendengar sekelompok orang bicara, dia bertanya pada saya, kenapa mereka rebutan membicarakan diri mereka sendiri, kenapa mereka terus bilang saya, saya, saya, saya? Saat itu kami berdebat kecil karena saya tidak setuju dengannya. Tapi semakin kesini, sepertinya saya semakin paham dengan apa yang ia bicarakan saat itu.

Hal yang kurang lebih sama juga diceritakan salah satu teman saya yang lain baru-baru ini. Teman saya yang menurutnya dulunya lebih suka didengar daripada mendengar ini mengatakan bahwa ternyata banyak hal yang ia dapatkan dengan mendengarkan dengan baik apa yang dibicarakan orang lain.

pexels-photo-29672
Mendengar membantu kita memahami orang lain

Saat kita diam dan mendengarkan orang lain bicara, terkadang kita bisa belajar dari apa yang mereka ceritakan.¬†Bahkan meskipun yang didengar adalah curhatan seseorang tentang masalah mereka. Setidaknya kita jadi paham, ternyata ada orang yang memiliki masalah yang lebih rumit dari masalah kita. Atau mungkin ketika mereka menceritakan kesuksesannya, kita jadi tahu bahwa ada banyak orang-orang hebat di luar sana, jadi kita tidak punya alasan untuk menjadi congkak. Seperti kata pepatah yang sudah banyak didengar tapi sulit dipraktekan, “diatasnya langit, masih ada langit”.

Dengan diam dan berpikir terlebih dulu, kita terhindar dari mengatakan hal-hal yang nantinya mungkin akan kita sesali. Kadang tidak sadar kita ingin mengambil kesempatan bicara sebelum orang lain. Akhirnya kita asal bicara tanpa benar-benar memahami apa yang kita bicarakan atau mengapa kita harus membicarakannya. Hasilnya? Ya kita tidak benar-benar didengarkan, atau yang lebih buruk, kita mengatakan hal yang seharusnya tidak boleh kita ucapkan.

Mendengar juga berarti memungkinkan kita untuk “meminjam” sudut pandang si pembicara untuk sejenak dan memahaminya apa yang mereka bicarakan. Selanjutnya, kita juga memiliki waktu untuk membiarkan mereka selesai bicara sekaligus memikirkan versi sudut pandang kita sendiri. Jadi, kita tidak terburu-buru membuat kesimpulan yang bisa jadi salah gara-gara kita terburu-buru merespon dan tidak benar-benar memahami apa yang dibicarakan orang lain.

pexels-photo-38940
Kalau ingin didengar saat bicara, sudah saatnya kita mendengar lain orang bicara, kan?

Kadang waktu kita ngobrol dan saking asyiknya bercerita, kita lupa untuk benar-benar mendengarkan. Kita ingin ikut berbicara dan membagi apa yang kita ketahui, atau bahkan menunjukkan apa yang kita ketahui. Memang, jadi pusat perhatian itu bisa menyenangkan, tapi egois sekali kita kalau cuma ingin didengarkan tapi tidak mau mendengar?

Sebagai seseorang yang cerewet dan ceriwis, saya paham betul banyak hal penting dan istimewa yang tidak sadar telah saya lewatkan selama ini. Seandainya dulu saya lebih banyak mendengar, dan tidak banyak bicara, pasti banyak hal yang berbeda saat ini. Tapi ya begitulah manusia. Kadang kita memang perlu menengok ke belakang, melihat apa yang telah kita lakukan, dan mulai memperbaiki apa yang salah. Karena kalau tetap melakukan kesalahan yang sama ya bebal namanya. ūüėÄ

 

 

Hal Paling Sia-sia yang Seharusnya Memang Tidak Perlu Dilakukan Lagi

Banyak hal kita lakukan untuk menjalani hidup dengan lebih baik dan menjauh dari masalah. Tapi seperti yang sudah kita semua ketahui, tidak semua hal berjalan seperti kemauan kita. Malah beberapa terkadang benar-benar berkebalikan dari apa yang kita harapkan.

Semakin bertambah usia, semakin saya sadar bahwa beberapa hal memang tidak bisa saya paksakan dan lakukan. Semakin saya berjuang melakukannya, semakin terbuang percuma waktu dan usaha saya, alias sia-sia. Bukan berarti menyerah, tapi jika pada akhirnya tidak menguntungkan dan justru membuat saya semakin sengsara, mengapa harus terus dilakukan?

Berusaha Menang dalam Setiap Percakapan

Percakapan itu seharusnya timbal balik dan tidak didominasi oleh satu orang saja. Memang kebanyakan orang suka didengarkan, tapi terkadang begitu sukanya didengar sampai lupa membiarkan orang lain bicara. Apalagi jika berusaha meyakinkan seseorang yang berseberangan dengan dirinya.

Berusaha memenangkan percakapan seperti ini dan berjuang untuk diakui adalah hal yang sia-sia. Selantang dan sesering apapun kita bicara, mereka yang tidak suka akan tetap tidak suka dan tetap tidak yakin dengan apa yang kita katakan. Lalu, kenapa harus membuang-buang waktu?

Berusaha Membuat Orang Menyukai Kita

Salah satu hal yang paling saya takuti adalah dibenci seseorang. Begitu takutnya saya dibenci, saya sering kurang tidur gara-gara memikirkan apakah hari itu saya mengatakan hal yang salah atau melakukan hal yang menyinggung orang lain. Di satu sisi, hal itu memang membuat seseorang menjadi lebih berhati-hati, tapi di saat yang sama juga membuat saya terus berada dalam kekhawatiran.

Pada akhirnya, saya memahami bahwa tidak semua orang menyukai kita, dan itu tidak masalah. Berusaha membuat semua orang menyukai kita malah membuat kita tidak bisa menjadi diri sendiri. Kita menjadi merasa terkekang dan dibatasi karena takut seseorang membenci kita bahkan untuk hal-hal yang paling sepele. Parahnya lagi, saya pernah sampai menjadi pribadi yang tidak bisa mengeluarkan uneg-uneg, dan selalu menahan diri karena takut dibenci. Pernah juga dikira seperti bunglon yang selalu memiliki wajah berbeda-beda, padahal alasan dasarnya hanya satu, takut tidak disukai.

Semakin bertambah usia, semakin saya mengerti bahwa tidak masalah jika kita tidak disukai seseorang. Karena nantinya kita juga akan menemukan seseorang yang cocok dengan sifat dan karakter kita.

Berusaha Mengubah Seseorang

Hal lain yang menurut saya sama sia-sianya adalah berusaha mengubah seseorang. Apalagi jika itu sudah menjadi karakter atau kebiasaan mereka. Bahkan meskipun hal yang ingin Anda ubah itu adalah hal yang buruk dan hanya demi kebaikan mereka saja.

Berusaha mengubah kebiasaan seseorang yang memang tidak ingin berubah bukan saja sia-sia, tapi juga terkadang malah menimbulkan perasaan tidak enak atau tidak nyaman. Terkadang cara terbaik adalah membiarkan mereka menyadarinya sendiri. Pada akhirnya, mereka sendiri juga yang akan menyelesaikan masalah tersebut pada waktu dan dengan cara mereka sendiri.

Berjuang untuk mencapai apa yang kita inginkan memang merupakan hal yang bagus untuk terus dilakukan. Tapi kita juga perlu menjadi cukup bijak untuk memahami apa yang tidak bisa kita ubah.