Satu Tahun Full Freelance, How Does It Feel?

Nggak kerasa udah satu tahun aja jadi seorang Full Freelancer. Ada banyak hal yang aku rasakan saat baru jadi freelancer, nggak melulu enak, kendala tetep ada juga. Kalau pengen tahu apa aja, bisa diintip di sini. Sejauh ini, nikmat dan enggaknya tetep sama dengan saat pertama kali terjun jadi freelancer. Tapi setelah satu tahun, ternyata masih ada kejutan-kejutan lainnya.

Saat pertama kali memutuskan freelance, saya punya keinginan untuk kerja sambil traveling. Pindah-pindah kota, biar bisa lihat banyak hal. Kan gampang sekarang kerjanya, tinggal nenteng laptop lalu berangkat. Sekalian belajar biar bisa lebih berani (Karena saya super pemalu dan penakut XD). Ternyata meski udah freelance, traveling tetap nggak segampang tinggal nenteng barang bawaan (setidaknya buat saya).

Ada banyak hal yang harus dipikirkan, mulai dari gimana menyesuaikan waktu perjalanan (yang otomatis gak bisa kerja maksimal) dengan deadline yang mepet, gimana atur waktu kerja di kota tujuan sekaligus jalan-jalan (karena kalau udah nyampe kota tujuan tapi ternyata tetep harus diam di satu tempat selama berjam-jam buat kerja adalah sia-sia), gimana kalau sedang jalan-jalan ternyata tiba-tiba dihubungi dengan pekerjaan urgent, dan seterusnya. Sepertinya saya nggak sanggup traveling sambil kerja. Karena saya ternyata tipe orang yang kalau main harus full main, kalau kerja harus full kerja. Nggak bisa main sambil kerja, atau kerja sambil main dijamin berantakan kerjaannya. 😀

Meski begitu, keputusan pengen liburan berapa lama dan berapa kali ada di tangan kita. Artinya, nggak perlu khawatir kena marah karena terlalu sering ambil cuti. Toh, pendapatan yang didapat sesuai dengan jumlah kerjaan yang dilakukan. Makin rajin kerja ya makin banyak, makin banyak liburan ya makin dikit pendapatannya. Simple.

Hal selanjutnya adalah, it’s fine to refuse a job, although it’s not easy at all. Ketika deadline makin banyak, kerjaan makin banyak berdatangan, it’s fine to refuse a job. Dulu di awal, saya selalu menerima segala job yang datang, berpikir bahwa saya punya cukup waktu atau karena merasa sungkan untuk menolak. Tapi yang seperti itu ternyata malah mempersulit diri sendiri. Selain jadi kurang tidur karena terlalu sering lembur, kadang kerjaan juga kurang bagus hasilnya.

Memang sih kadang menolak pekerjaan itu nggak gampang, karena rasanya sayang banget nolak pendapatan. Apalagi sumber pendapatan freelance memang berdasarkan jumlah klien yang kita dapat. Tapi daripada klien nggak puas karena kerjaan yang nggak maksimal atau kita yang jadi sakit karena kecapekan, mending negosiasi buat memundurkan deadline. Kalau nggak bisa, it’s okay to refuse it. Yakin deh, rejeki bisa datang dari mana aja kok.

Salah satu hal yang bikin saya puas dengan profesi saya sekarang adalah, I have time for taking a nap. Yup, siang hari adalah jam paling ngantuk buat saya. Sejak memutuskan mengurangi minum kopi, tidur siang sebentar jadi pilihan saya ketika mulai ngantuk dan loyo di siang hari. Pasalnya, waktu ngopi saya berasa seperti dipaksa melek, sedangkan kalau tidur siang, saya berasa seperti menerima reward setelah kerja dari pagi. Istirahatnya juga lebih lega, karena mata ikutan istirahat setelah lama melototin layar monitor. Ketika bangun tidur, badan dan otak sudah fresh lagi buat lanjut kerta. Meski bisa tidur siang, tetap saja nggak bisa keterusan molor. Istirahat tidur siang tetep dibatasi biar nggak keterusan sampai sore dan lupa dengan kerjaan.

Selanjutnya adalah status pekerjaan di mata masyarakat. Fakta bahwa saya lebih sering berada di rumah dan tidak berangkat pagi pulang sore seperti karyawan lainnya membuat saya sering dikira pengangguran. Yah tapi masalah ini sih gampang diselesaikan, asalkan yang mengira saya pengangguran memutuskan untuk bertanya. Yang susah itu kalau nggak tanya tapi lalu dijadikan gosip. 😀

Nah, itu tadi cuma sebagian hal yang saya rasakan setelah 1 tahun lebih jadi freelancer. Antara freelancer satu dan lain tentu nggak sama, karena disesuaikan dengan karakter dan cara kerja masing-masing individu. Meski begitu sejauh ini, saya ternyata tetap menikmati pekerjaan ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Iklan

Bersosialisasi, Salah Satu Perjuangan Freelancer yang Kadang Terlupakan

Bekerja freelance di rumah yang tidak perlu ke kantor can be heaven at times. Bagaimana tidak, kita tidak perlu bingung buru-buru berangkat ngantor pagi-pagi, kena macet, kalau ngantuk tinggal merem, tidak pusing milih baju yang mau dipakai, bahkan kalau mau, tidak usah mandi sekalian juga tidak akan ada yang tahu atau protes.

Meski begitu, kehidupan freelancer tidak selamanya berbunga-bunga, ada banyak juga ngeri-ngeri sedapnya freelancer yang harus diperjuangkan. Salah satunya adalah bersosialisasi alias hangout alias bertemu dengan kawan-kawan.

Kerja yang tidak perlu ke kantor kadang bisa bikin kita jadi jarang ke luar rumah, apalagi bersosialisasi. Saat masih ngantor, kita masih bisa ketemu banyak interaksi sosial secara langsung dengan rekan kerja. Tapi begitu kita bekerja di rumah, interaksinya jadi hanya lewat dunia maya. Waktu bersosialisasi juga makin berkurang.

 

kerja-di-rumah

Kerja di rumah kadang bikin kesepian

 

Hal inilah yang sangat saya rasakan setelah beberapa kali sempat menjadi orang yang kerjanya tidak ngantor. Beberapa tahun lalu saat masih kerja di rumah, saya hampir tidak pernah ke luar rumah untuk sekadar ngumpul atau bertemu teman-teman. Jelas efeknya terasa sekali, mulai dari perlahan kehilangan teman gara-gara dikira sombong atau tidak mau bergaul, sampai jadi stress sendiri karena tidak punya teman bicara.

Dari situ saya belajar bahwa kali ini, meski bekerja freelancer dan tidak perlu ngantor, setidaknya meluangkan waktu untuk bersosialisasi itu jelas sangat perlu. Tidak melulu harus ngafe (karena kalau keseringan juga bikin boros. :D), bisa juga olahraga bareng, atau main ke rumah atau kosan teman-teman.

Jadilah saya mulai datang di acara-acara reuni (yang dulunya hampir tidak pernah mau ikut), ngumpul bersama teman-teman, ikutan nonton konser (untuk pertama kalinya!), nginep di kosan teman-teman, hingga olahraga bareng. Lalu perbedaan apa yang saya rasakan? Banyak!

 

bersosialisasi

Momen hangout bareng teman yang diabadikan. 😀

 

Stres kerjaan itu bisa dikatakan tidak terlalu terasa. Saya juga memiliki banyak teman ngobrol dan diskusi yang banyak menambah motivasi, wawasan, bahkan ide-ide baru. Ngumpul dan bersosialisasi bareng teman-teman juga membuat saya jadi bisa menambah koneksi dan memperbaiki hubungan-hubungan lama yang sempat renggang. Intinya, saya justru bisa semakin merasa lebih positif.

Buat saya yang dulunya selalu takut ngomong dengan seseorang, hangout dan ngumpul bareng teman jelas langkah besar. Tapi pelan-pelan, berkat saran dari teman-teman dan motivasi mereka juga, saya akhirnya berani ngomong, mengungkapkan pikiran dan perasaan, bahkan ngobrol dengan orang baru.

Nah, untuk alasan-alasan inilah, saya bakal tetep rutin ikut olahraga bareng dan ngumpul bareng, asalkan tidak ada deadline yang mendesak harus selesai hari itu juga. 😀

Ngeri-ngeri Sedapnya Jadi Seorang Freelancer

Kerja freelance bisa jadi impian bagi sebagian orang. Soalnya pekerjaan seperti ini terkadang memang terlihat lebih menyenangkan dan seru. Lebih bebas, tanpa aturan yang terlalu mengikat, dan lain sebagainya. Apalagi freelance yang kerjanya di rumah, wih… terkadang bisa bikin para pekerja tetap ngiri. Apa sih yang lebih seru dari kerja di rumah, nggak perlu dandan rapi-rapi, atau bahkan bisa nggak pake mandi. :p

Dalam bahasa Jawa, ada istilah “sawang sinawang“, atau artinya saling memandang. Nah, kita kadang berpikiran bahwa hidup (atau dalam hal ini pekerjaan) orang lain itu lebih enak dari hidup kita. Padahal nggak juga. Freelance juga sama, ada enak dan nggak enaknya. Ada ngeri-ngeri sedapnya juga.

Kalau dihitung-hitung, total aku sudah kerja kantoran/pegawai itu kurang lebih 5 tahun. Resmi freelance sih masih relatif sebentar, 4 bulanan. Tapi udah kerasa banget perbedaannya dengan kerja kantoran. Biar makin ngiri, kita bahas yang enak-enak dulu aja ya… (lalu ditimpuk sepatu) 😀

Bisa Ngatur Waktu Sendiri Jam Kerjanya

You’re the boss for yourself! Nah, keren nggak tuh. Sebagai bos diri sendiri, kita bisa ngatur sendiri kapan jam kerja kita. Mau kerja mulai jam 7 pagi? Ok. Nggak bisa bangun pagi dan mau kerja mulai jam 10? Monggo. Mau kerja sehari 6 jam? Silahkan. Mau sampe malem? Sip.. Nggak ada yang bakal marah-marah dan ngelarang. Enak banget kan? Kita bisa memilih sendiri jam kerja yang paling disukai, dan yang paling produktif buat kita. Karena terkadang jam produktif orang itu beda-beda.

Tapi, seperti kata paklik nya Spiderman, “With great power, comes great responsibility”. Emang sih kita punya kekuatan ngatur jam kerja sesuka hati, tapi itu juga bakal mempengaruhi apa yang kita dapat nantinya. Kalau kita memilih buat semau sendiri saat kerja, maka hasil yang didapat juga nggak bakal menjadi sesuatu yang amazing. Hasilnya juga bakal biasa-biasa saja. Tapi kalau kita rela bekerja keras, hasilnya nggak bakal mengecewakan.

Bisa Ngatur Seberapa Banyak Pekerjaan yang Kita Mau

Sebagai seorang freelancer, kita bisa memilih seberapa banyak pekerjaan yang kita mau dan pekerjaan mana yang mau diambil atau tidak. Semua bebas karena kitasendiri yang menentukannya. Nggak ada perasaan tertekan karena takut suatu kerjaan nggak bisa beres kalau kita mengambil pekerjaan yang memang kita tahu bisa kerjakan dengan mudah dan cepat.

But this is the tricky part, terkadang kita bakal terlena buat ambil pekerjaan yang enak-enak dan gampang saja. Nah, justru inilah “jebakannya”. Jika kita cuma memilih pekerjaan yang gampang, kita nggak bakal bisa mengembangkan skill. Job yang kita dapat akhirnya juga monoton, hanya yang itu-itu saja. Kita jadi nggak tahu potensi apa yang sebenarnya bisa kita dapat. Memang sih, ambil pekerjaan yang lebih sulit itu terkadang bikin grogi, tapi begitu pekerjaan tersebut selesai, rasa puas-nya itu lho nagihin. Fee-nya juga nagihin sih.. 😀

Bebas Kerja Dimanapun Kita Mau

Sebagai seorang freelancer, kita nggak perlu lagi pusing dengan transportasi dan kemacetan di pagi hari. Setidaknya sih nggak setiap weekdays alias hari kerja. Kita bisa kerja di manapun kita berada, di rumah, di kafe, sambil liburan, you name it. Asalkan situasi dan peralatannya mendukung, kita bisa bekerja dimanapun kita mau. Jadi, kerja sambil liburan harusnya sudah bukan sekedar impian.

Tapi kita juga nggak bisa asal berangkat ngafe setiap atau traveling setiap saat. Kalau sampai gaji habis untuk ngafe dan traveling, kapan nabungnya? Justru karena bekerja sebagai freelance, artinya kita juga harus pinter-pinter menabung. Karena nantinya kita nggak akan mendapatkan uang pensiun di usia tua nanti, kita harus bisa mempersiapkan diri sendiri.

Potensi Dapat Fee Rate yang Lebih Gede

Ngomongin, soal pilihan pekerjaan, apalagi yang mampir di kepala kita kalau bukan soal gaji? Sebagai pegawai, kita akan mendapatkan gaji tetap setiap bulan. Kesempatan naik gaji atau dapat bonus pasti ada, tapi tentu jumlahnya nggak banyak karena harus dibagi sebagai keuntungan perusahannya juga.

Kalau bekerja sebagai freelance, kita yang menentukan sendiri rate alias nilai alias harga kita per proyek. Segala keuntungan dan bonus yang didapat juga untuk kita sendiri. Bisa kamu simpan untuk tabungan masa depan, mengembangkan usahamu, atau membuat rencana bisnis baru. Banyak kemungkinan yang bisa kita dapatkan.

Semakin besar usaha yang kita lakukan untuk mendapatkan proyek, dan semakin besar usaha kita untuk menyelesaikan proyek sebaik mungkin, maka semakin besar pula pendapatan yang akan kita dapatkan. Kuncinya adalah melakukan semua sebaik mungkin.Semangat!!! 😀

Nah, itu tadi bagian sedapnya, meski ada ngerinya juga. Sekarang, khusus yang ngeri-ngeri aja.

Kerja Freelance Artinya Kita Butuh Pendapatan yang Lebih dari Pekerjaan Sebagai Pegawai

Seperti yang udah disebutin di atas, kerja sebagai freelance artinya kita nggak dapat tunjangan, nggak ada reimburse kalau ke dokter, nggak ada tunjangan hari tua. Artinya, kita harus bisa mempersiapkan semua itu sendiri. Nggak sakit bukan berarti kita nggak perlu mempersiapkan uang untuk kalau kita sakit, masih muda nggak berarti kita bisa santai mikirin nanti kalau sudah tua dan tiba saatnya pensiun.

Justru karena sebagai freelance kita nggak memiliki semua keistimewaan itu, kita harus mempersiapkannya sendiri sejak awal. Yang artinya, kita harus berusaha menghasilkan pendapatan yang lebih dari penghasilan pegawai biasa. Jangan puas hanya dengan menghasilkan pendapatan yang sama dengan saat masih menjadi pegawai. Idealnya, kalau memutuskan jadi freelance, minimal pendapatan yang diterima tidak hanya sama dengan gaji pegawai, tapi juga sekaligus segala keuntungan saat menjadi pegawai. Ini bisa termasuk asuransi, tunjangan hari tua, libur yang dibayar, dsb. Nah, untuk mendapatkan pendapatan yang lebih besar, artinya kita juga harus bekerja lebih giat. Siap nggak? 😀

Harus Mahir Multitasking!

Kerja freelance bukan berarti kita cuma mengurusi satu bidang saja. Adakalanya kita juga harus beralih fungsi sebagai akuntan (menghitung pendapatan, membayar tagihan), marketing (saat berusaha mencari klien baru), dst.. dst..

Harus Bisa Mengatasi Pendapatan yang Tidak Konsisten

Kecuali kita punya klien rutin yang setiap bulan selalu memberi pekerjaan, ada kalanya kita harus siap menghadapi pendapatan yang tidak konsisten. Terkadang kita bisa menerima pendapatan yang bagus, terkadang bisa kurang dari bulan sebelumnya. Ada kalanya juga invoice tidak dibayar tepat waktu, akhirnya kita jadi pusing menunggu pendapatan sambil harap-harap cemas dengan beberapa tagihan yang mulai mendekat tanggal pembayarannya. Atau dengan persediaan makanan yang mulai menipis dan dompet yang juga makin menipis sementara fee belum juga masuk.

Nah, masalah-masalah seperti ini nggak akan terjadi kalau kita bekerja sebagai pegawai tetap. Karena pegawai selalu mendapatkan gaji di tanggal yang tetap. Jadi lebih mudah memperhitungkan segala pembayaran tagihan juga.

Kadang Kita Perlu Kerja Tak Kenal Waktu

Memang sih, sebagai seorang freelance, kita bisa kerja kapanpun kita mau karena nggak ada aturan tetap. Tapi, bukan berarti juga kita bisa bebas seenaknya sendiri. Ada kalanya klien ngasih pekerjaan di waktu yang nggak enak atau mendadak banget atau bahkan pas dini hari. Tentu kita bisa menolaknya kalau nggak mau. Tapi, kadang menjalin hubungan dengan klien itu berarti kita perlu sedikit berkorban. Berkorban dikit buat dikejar-kejar deadline demi menuntaskan pekerjaan dan demi membangun nama atau brand kita. Repot? Pasti. Tapi sekali lagi, hasil kerja keras itu nggak bakal bikin kita kecewa, kok. Lagipula kalau bidang freelance kita itu sesuatu yang disukai, kita bakal tetap bisa menikmatinya. Serius.

Jadi, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, semua itu cuma sawang sinawang. Sama dengan kerja kantoran, freelance juga punya sisi positif dan negatifnya juga. Nggak ada yang 100% enak kerja kantoran atau 100% lebih enak kerja freelance. Itu tergantung gimana kita menghadapinya aja. Bagi beberapa orang, kerja kantoran lebih cocok buat mereka, bagi orang lain sih belum tentu. Masing-masing punya resikonya sendiri.

Nah… Pesen buat kalian yang lagi bosen kerja kantoran dan pengen nyoba kerja di rumah atau freelance, jangan terburu-buru. Pikir dulu mateng-mateng, karena freelance itu nggak selalu berbunga-bunga. Butuh kerja keras dan pengorbanan juga, sama aja kayak kerja kantoran. Jangan sampai langsung termakan jargon-jargon “YOLO”, “kejar passion”, dan lain sebagainya. Kehidupan sehari-hari dan rencana masa depan juga perlu dipikirkan masak-masak agar tidak kecewa nantinya.

Jadiiii…. Apapun pekerjaan kita, jangan lupa semangat yaaa!!! 😀