Bersosialisasi, Salah Satu Perjuangan Freelancer yang Kadang Terlupakan

Bekerja freelance di rumah yang tidak perlu ke kantor can be heaven at times. Bagaimana tidak, kita tidak perlu bingung buru-buru berangkat ngantor pagi-pagi, kena macet, kalau ngantuk tinggal merem, tidak pusing milih baju yang mau dipakai, bahkan kalau mau, tidak usah mandi sekalian juga tidak akan ada yang tahu atau protes.

Meski begitu, kehidupan freelancer tidak selamanya berbunga-bunga, ada banyak juga ngeri-ngeri sedapnya freelancer yang harus diperjuangkan. Salah satunya adalah bersosialisasi alias hangout alias bertemu dengan kawan-kawan.

Kerja yang tidak perlu ke kantor kadang bisa bikin kita jadi jarang ke luar rumah, apalagi bersosialisasi. Saat masih ngantor, kita masih bisa ketemu banyak interaksi sosial secara langsung dengan rekan kerja. Tapi begitu kita bekerja di rumah, interaksinya jadi hanya lewat dunia maya. Waktu bersosialisasi juga makin berkurang.

 

kerja-di-rumah
Kerja di rumah kadang bikin kesepian

 

Hal inilah yang sangat saya rasakan setelah beberapa kali sempat menjadi orang yang kerjanya tidak ngantor. Beberapa tahun lalu saat masih kerja di rumah, saya hampir tidak pernah ke luar rumah untuk sekadar ngumpul atau bertemu teman-teman. Jelas efeknya terasa sekali, mulai dari perlahan kehilangan teman gara-gara dikira sombong atau tidak mau bergaul, sampai jadi stress sendiri karena tidak punya teman bicara.

Dari situ saya belajar bahwa kali ini, meski bekerja freelancer dan tidak perlu ngantor, setidaknya meluangkan waktu untuk bersosialisasi itu jelas sangat perlu. Tidak melulu harus ngafe (karena kalau keseringan juga bikin boros. :D), bisa juga olahraga bareng, atau main ke rumah atau kosan teman-teman.

Jadilah saya mulai datang di acara-acara reuni (yang dulunya hampir tidak pernah mau ikut), ngumpul bersama teman-teman, ikutan nonton konser (untuk pertama kalinya!), nginep di kosan teman-teman, hingga olahraga bareng. Lalu perbedaan apa yang saya rasakan? Banyak!

 

bersosialisasi
Momen hangout bareng teman yang diabadikan. 😀

 

Stres kerjaan itu bisa dikatakan tidak terlalu terasa. Saya juga memiliki banyak teman ngobrol dan diskusi yang banyak menambah motivasi, wawasan, bahkan ide-ide baru. Ngumpul dan bersosialisasi bareng teman-teman juga membuat saya jadi bisa menambah koneksi dan memperbaiki hubungan-hubungan lama yang sempat renggang. Intinya, saya justru bisa semakin merasa lebih positif.

Buat saya yang dulunya selalu takut ngomong dengan seseorang, hangout dan ngumpul bareng teman jelas langkah besar. Tapi pelan-pelan, berkat saran dari teman-teman dan motivasi mereka juga, saya akhirnya berani ngomong, mengungkapkan pikiran dan perasaan, bahkan ngobrol dengan orang baru.

Nah, untuk alasan-alasan inilah, saya bakal tetep rutin ikut olahraga bareng dan ngumpul bareng, asalkan tidak ada deadline yang mendesak harus selesai hari itu juga. 😀

Iklan

Berdansa dengan Musik Vintage yang Classy ala Postmodern Jukebox

Setiap kali ditanya musik seperti apa yang saya sukai, saya tidak akan punya jawaban spesifik. Pasalnya, genre musik yang saya sukai berada di spektrum yang cukup luas, mulai dari yang dianggap sebagai musiknya orang tua seperti campursari dan langgam jawa, sampai ke musik hits zaman sekarang semacam EDM. Tidak ada genre khusus yang saya sukai. Apapun itu, kalau cocok di telinga ya ayo saja.

Salah satu musik jenis musik yang paling saya sukai adalah berbagai genre vintage. Nah, beberapa waktu lalu (sudah cukup lama juga sih), saya mengenal Postmodern Jukebox di Youtube. Pertama kali saya mendengarnya musiknya, saat itu pula saya langsung jatuh cinta.

Postmodern Jukebox alias PMJ terkenal mengaransemen ulang lagu-lagu populer modern menjadi berbagai genre vintage seperti swing, jazz ala awal tahun 20-an, sock hop, dan banyak lagi. Sebenarnya PMJ sudah ada sejak tahun 2011, tapi saya baru mulai mengenalnya sekitar tahun lalu (2015). Tapi tidak masalah, better late than never kan?

PMJ didirikan oleh seorang pianis dan pengaransemen musik, Scott Bradlee. Bersama dengan teman-teman musisinya, mereka menampilkan musik vintage yang berkelas dan sayang rasanya untuk tidak ikut berdansa ketika mendengar karya gubahan mereka.

Kesuksesan mereka kini sudah begitu meluas. Hingga artikel ini ditulis saat ini, Postmodern Jukebox sudah memiliki 2,3 juta lebih subscriber. Lagu yang mereka aransemen ulang juga sudah mencapai lebih dari 150 buah lagu karena mereka rutin mengunggah setidaknya 1 video setiap minggunya. Bahkan, mereka juga sudah melakukan tur konser di Amerika hingga Eropa. Sayangnya mereka sepertinya masih belum berencana untuk konser di Indonesia.

Kalau saya ditanya mana yang paling saya sukai diantara musik yang diaransemen ulang oleh PMH, hmm… akan sulit menjawabnya. Pasti malah akan menjadi deretan yang sangat panjang. Well, yeah. That’s how much I love their music. Bahkan, buat milih beberapa video-nya buat di cantumin di artikel ini saja saya bingung setengah mati. Karena banyak banget favorit saya.

Salah satu yang paling membuat saya ternganga adalah aransemen ulangnya untuk lagu Kanye West yang berjudul Only One. Saya bukan fans nya Kanye, dan tidak tertarik dengan lagunya juga. Saya tidak begitu suka dengan musik yang dibuat oleh versi Kanye sendiri. Tapi begitu mendengar aransemen ulang yang dibuat Postmodern Jukebox, saya begitu terpesona sampai merinding! Kalau penasaran lagunya, langsung cek di sini. Aransemen mereka untuk lagu Bye Bye Bye – nya N’Sync juga sangat amazing. Apalagi cover-cover mereka yang menggunakan Christina Gatti di posisi vokal. I’m in love with her voice!

Kalau kamu termasuk orang yang suka musik vintage, ayo deh, langsung aja cek youtube mereka. Buat yang udah pernah atau sering dengerin musik mereka, lagu mana sih yang menjadi favorit kamu? 😀

 

Aplikasi Unik yang Bisa Bantu Kamu “Naik Level”

Semua orang bijak pasti akan bilang kalau kita nggak boleh berhenti belajar dan berusaha mencapai sesuatu. Hanya saja, dengan kehidupan yang serba cepat dan serba sibuk seperti sekarang ini, kadang kesempatan untuk mengembangkan diri juga terlewat begitu saja. Akhirnya kita lebih sering stuck di tempat dan kegiatan yang itu-itu saja. Ini juga yang sering kejadian dengan saya sendiri. Stuck di kegiatan dan tempat yang itu-itu saja.

Nah, beberapa waktu lalu, saya iseng browsing aplikasi di handphone (kayaknya ini sudah jadi semacam hobi baru). Ada satu aplikasi unik yang lumayan bisa dipakai buat membantu mengembangkan diri sekaligus spare time killer kalau lagi tidak ada kerjaan. Namanya “Level Up Live”

Achievement di Level up Life
Beberapa kategori achievement

Sesuai namanya, aplikasi ini emang dibuat untuk membantu usernya buat level-up. Jadi, bakal ada beberapa daftar achievement yang bisa kamu capai buat naik level. Desainnya seperti game RPG, ada level, XP, dan beberapa kategori achievement. Jadi, setiap kali kamu menyelesaikan 1 task, XP kamu akan bertambah. Semakin banyak XP bertambah, maka semakin naik pula levelnya.

Semakin tinggi level kamu, achievement yang harus kamu capai nantinya juga makin sulit atau kompleks. Beberapa achievement bakal terkunci sampai kamu mencapai level yang diperlukan. Jadi, kamu bakal tetep termotivasi buat menyelesaikan achievement agar bisa membuka achievement selanjutnya. (Terutama kalau kamu gampang penasaran seperti saya. :D)

Daftar achievement
Kerjakan semua targetnya biar cepat naik level

Semua achievement harian di aplikasi ini dibuat sesuai kehidupan sehari-hari. Jadi sama sekali tidak sulit untuk memainkannya. Ada Arts & Creativity, Career & Finances, Fitness & Health, Food & Cooking, Fun, Household & DIY, Humanity, Mental, Outdoors, Reading, School & Learning, Social, dan Travel. Nah, tinggal kamu tinggal pilih deh, mana yang ingin kamu lakukan dulu di waktu luang kamu.

Selain dalam bentuk aplikasi di smartphone, game ini juga bisa diakses lewat websitenya: lvluplife.com. Jadi tinggal log in saja, dan kamu sudah bisa melanjutkanmu ber-levelup ria. Buat yang berjiwa kompetitif, aplikasi ini juga punya peringkat umum, jadi kamu juga bakal tahu berapa peringkat kamu di antara para user level up lainnya.

Profil Level Up Life
Masih level 1 😀

Menurut saya, aplikasi ini cocok buat mereka yang sering melontarkan pertanyaan “hmm… enaknya ngapain ya”, atau yang sering bosan karena tidak ada kegiatan, atau buat yang memang lagi ingin mencoba hal-hal baru tapi tidak tahu mau mulai dari mana (Nah… saya kategori yang terakhir nih.. :p). Saya sendiri baru seminggu pakai aplikasi ini, tapi sejauh ini memang seru dan masih menjadi favorit. Meski masih belum bisa rajin-rajin main soalnya kerjaan masih numpuk banget. 😀 Tapi, so far, aplikasi ini layak coba!

Perasaan Campur Aduk di Usia Akhir 20-an

Ada banyak hal yang terjadi ketika kita berada di usia 20-an. Di usia yang jelas sudah bisa disebut dewasa, lebih banyak hal yang mulai kita alami dan pahami dan macam-macam pula cara kita menghadapinya. Apalagi saat sudah mulai menginjak akhir 20-an, ada banyak perasaan campur aduk yang kita alami yang kadang jauh lebih kompleks dari sekadar pertanyaan kapan kawin. (*ups)

Di akhir usia 20an, kebanyakan dari kita mungkin sudah mulai memikirkan untuk hidup sendiri dan mulai mandiri. Meskipun kalau melihat di budaya negara kita, kebanyakan dari kita nggak akan keluar rumah sebelum menikah. Tapi setidaknya, kita mulai merasa bisa mengendalikan hidup sendiri karena sudah mulai bekerja menata karir, hidup dan masa depan.

Masalahnya, perasaan mengendalikan hidup sendiri ini juga kadang diikuti dengan rasa khawatir karena tanggung jawab yang juga makin besar. Mikir beli rumah, tabungan masa depan, kesehatan orang tua, dan masih banyak lagi. Atau yang akan semakin sering terjadi biasanya adalah pengeluaran tiba-tiba yang bisa membuat kita kelabakan terutama jika kita tidak memiliki tabungan untuk situasi seperti ini. Di saat seperti inilah kita sadar bahwa kadang kita tidak bisa benar-benar mengendalikan keadaan.

Tapi kabar baiknya, sebagian dari kita biasanya sudah memiliki pandangan karir dan hidup seperti apa yang kita inginkan. Kita juga mulai mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapainya. Sayangnya, usaha keras yang dilakukan untuk mencapai ambisi itu kadang membuat kita terlalu sibuk dan tidak bisa menikmati waktu. Mungkin karena ada rasa khawatir bahwa hidup yang diimpikan tersebut tidak kunjung tercapai. Tapi kalau dipikir-pikir, jika kita tidak bisa menikmati hidup, apa enaknya?

Merasakan usia kita semakin bertambah kadang juga membuat kita menyadari segala perubahan yang ada di sekeliling kita. Tiba-tiba kita sudah punya banyak keponakan, atau adik kita sudah besar, atau dulu ada anggota keluarga yang masih bayi, sekarang tiba-tiba sudah smp. Melihat semua perubahan tersebut tentu ada rasa nostalgia yang menyenangkan, bahwa anggota keluarga kita bertambah, dan bahwa bayi-bayi lucu itu sekarang sudah ABG dan mulai membuat kita pusing dengan gaya mereka. Tapi di saat yang sama, kita juga sadar bahwa orang tua kita pun makin menua dan lemah. Rasa takut kehilangan juga semakin besar. Hal ini mau tidak mau juga membuat kita berpikir bahwa waktu memang terus berjalan dan tidak pernah memberi kesempatan bagi kita untuk berhenti sejenak.

Banyak perasaan campur aduk yang hinggap ketika mencapai usia akhir 20an. Dan campur aduknya memang terkadang lebih memusingkan daripada sekadar pertanyaan kapan kawin, meskipun itu juga bisa jadi salah satu alasannya. But let’s keep going and keep moving. Yang bisa kita lakukan ya memang cuma berusaha sebaik mungkin menjalaninya. Karena kita hidup juga cuma numpang lewat, kan? Yang penting berusaha tidak menyakiti orang lain sambil berusaha agar kita bisa hidup layak dan membahagiakan sebanyak mungkin orang termasuk diri sendiri.

Bosan dengan Pekerjaan? Kita Semua Pernah Mengalaminya

Saat pertama masuk kerja, apalagi di bidang yang selama ini diinginkan, pasti lah rasanya menyenangkan sekali. Semangat sedang tinggi-tingginya, mengerjakan segala macam proyek setiap saat, rajin berangkat kerja, selalu membicarakan pekerjaan di mana saja, kita semua pernah mengalami hal itu. Saat-saat seperti ini bisa membuat kita merasa begitu bangga dan bersemangat. Tapi kadang perasaan seperti ini bisa hilang begitu saja. Tiba-tiba kita merasa bosan setengah mati dengan rutinitas pekerjaan yang dulu begitu kita cintai.

Rasa bosan dan tidak termotivasi itu jelas perasaan yang paling buruk di dunia kerja. Tapi tenang, ternyata banyak juga orang yang merasakan hal seperti ini. Bahkan pekerjaan yang menurut kita terbaik pun juga pasti ada masa-masanya sendiri yang membuat seseorang merasa bosan. Jangan dikira ada pekerjaan yang sempurna di dunia ini. There’re always ups and downs in everything.

Jangan Terburu-buru Kabur dan Cari Pekerjaan Baru

Merasa bosan dan tidak termotivasi jangan dijadikan alasan untuk buru-buru kabur dari pekerjaan dan mencari pekerjaan lain. Setidaknya, cari tahu terlebih dulu apa yang membuat kita bosan dengan pekerjaan tersebut dan cari solusinya.

Jangan sampai saat akhirnya sudah mengundurkan diri, ternyata malah merindukan pekerjaan lama atau menyesal karena pekerjaan lama ternyata jauh lebih baik. Cari tahu apa yang membuat kita bosan. Jika masalahnya hanya ada pada rutinitas atau pola kerja yang monoton, jelas ini masih bisa diatasi.

Buat Batasan Antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi

Terkadang kita bosan karena banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan setiap hari kerja. Apalagi jika sampai harus lembur dan membawa pekerjaan pulang ke rumah. Sebesar apapun cinta dan dedikasi kita dengan pekerjaan, usahakan untuk tetap memiliki batas antara kehidupan pribadi dan karir. Hal inilah yang nantinya akan membantu kita agar lebih bebas dari stress dan bosan.

Pernah suatu ketika saya begitu cinta dengan pekerjaan sampai segala proyek dan saya lakukan. Saya tidak liburan, bersosialisasi, dan hanya fokus bekerja. Yep, saya pernah begitu ambisius sampai melupakan hal lain selain pekerjaan. Hasilnya, saya kehilangan teman, selalu stress, bahkan hingga dianggap caper dengan atasan. T_T Berangkat ke kantor jadi terasa berat dan waktu bekerja juga semakin membosankan.

Cari Tantangan dalam Pekerjaan

Kalau kita mengerjakan tugas yang itu-itu saja, jelas rasa bosan bisa muncul setiap saat. Coba cari tantangan baru dalam pekerjaan. Jika atasan menawarkan tugas baru, jangan ragu untuk mengambilnya. Karena ini bisa jadi sedikit perubahan baru untuk rutinitas kita. Selain itu, siapa tahu ini bisa menjadi pijakan buat kita untuk mendapatkan promosi atau melangkah ke jenjang karir yang selanjutnya.

Memang bukan hal yang mudah untuk mau menerima tantangan seperti ini. Pasti akan ada rasa ragu atau takut gagal. Tapi setidaknya dengan mencoba, kita jadi tahu kemampuan kita dan ada kesempatan untuk semakin meningkatkan kemampuan tersebut.

Apakah Kita Membuat Perbedaan?

Salah satu alasan beberapa orang tidak puas dengan pekerjaannya adalah mengetahui apakah mereka membuat perbedaan atau tidak. Baik untuk masyarakat atau perusahaan tempatnya bekerja. Terkadang kita merasa melakukan pekerjaan yang percuma dan sia-sia, dan hal inilah yang bisa membuat kita kehilangan motivasi dan merasa bosan.

Ketika kita mulai merasa lagi-lagi melakukan pekerjaan yang sia-sia, coba pikirkan kembali perbedaan apa yang sudah kita perbuat. Tidak perlu sesuatu yang besar, (meski kalau ada sih itu lebih baik), mungkin berhasil melakukan pekerjaan customer service dengan baik, membuat pelanggan puas dan senang, menjaga nama baik perusahaan, dan banyak lagi. Berhentilah sejenak untuk mencari manfaat dan perbedaan apa yang sudah kita lakukan saat mengerjakan pekerjaan kita. Dari situ, motivasi mungkin akhirnya bisa muncul kembali.

Jangan Lupa Liburan!

Nah, liburan juga tidak kalah penting. Manfaatkan hari libur untuk memanjakan diri tanpa memikirkan pekerjaan. Tidak harus liburan panjang ke luar kota, kok. Melakukan hobi yang paling kita sukai juga sudah bisa menjadi liburan tersendiri untuk menyegarkan pikiran. Membaca, nonton film, jalan-jalan di kota, apapun yang bisa membantumu kembali rileks, lakukan saja.

Apakah kamu juga pernah mengalami kebosanan dalam pekerjaan? Apa sih yang kamu lakukan buat mengatasinya?

Dari Paranoid ke Sadar Kesehatan Berkat Kerjaan

Beberapa bulan terakhir ini aku banyak membaca artikel dan jurnal kesehatan karena pekerjaan. Berbagai macam penyakit dari A sampai Z mulai dari ciri-ciri, gejala, penyembuhannya, semua akhirnya kebaca. Jelas ini menguntungkan, karena selain fee (hehehe), aku juga jadi dapet banyak pengetahuan tentang kesehatan.

Dari segala macam jurnal dan artikel tersebut, akhirnya jadi ngerti gejala-gejala apa saja yang mungkin muncul buat penyakit tertentu. Lumayan, bisa jadi waspada kalau ternyata aku atau orang di sekitarku punya tanda-tanda penyakit tertentu, bisa jadi waspada. Mau nggak mau, akhirnya jadi lumayan perhatian sama segala gejala-gejala atau tanda-tanda yang ada. Sejak ngerjain jurnal dan artikel-artikel tersebut, entah gimana kepala otomatis mulai main “cocoklogi” dengan gejala-gejala yang aku alami sendiri.

Nah, dari cocoklogi inilah mulai tumbuh ke-paranoid-an. Muncul gejala sedikit aja, langsung aku kait-kaitkan sama penyakit tertentu. Bahkan dulu sampai lemes gara-gara merasa punya penyakit tertentu. Tapi ternyata gejalanya juga ilang-ilang sendiri dan aku sehat-sehat aja. 😀 Kalau seperti ini, sudah bukan waspada lagi sih namanya, tapi jadi paranoid!

Dari keseringan paranoid, akhirnya mulai sadar kalau hidup sehat itu emang penting. Bukan apa-apa sih, ngeri aja waktu baca semua gejala-gejala penyakit itu. Ya memang, sakit kan nggak akan bisa diduga dan bisa datang kapan aja. Daripada nungguin penyakitnya datang dulu, ngerasain sakit dulu, lalu baru ngontrol diri, kan ya mending jaga kesehatan mulai sekarang?

Dulu seneng banget makan sambel dan yang pedes-pedes, lalu ingat gak enaknya pas tipes sama setelah baca-baca penyakit yang berhubungan sama usus, langsung deh ngurangin maem pedes. Dulu yang males banget mau gerak, sejak baca-baca tentang penyakit kardiovaskular, langsung deh rutin olahraga. Apalagi di keluargaku juga ada riwayat beberapa penyakit, jadi daripada aku diem dan pasrah, seenggaknya kan udah mulai berusaha tetap sehat buat mengurangi risiko terkena penyakit. Karena sakit kan nggak enak dan nggak akan pernah enak!

Duolingo, Aplikasi Gemesin Buat Belajar Bahasa

Sebenarnya udah lama banget gemes pengen bikin nulis soal aplikasi keren ini. Namanya Duolingo. Buat mereka yang hobi banget belajar bahasa, aplikasi ini termasuk a must have di smartphone kamu. Pasalnya, aplikasi ini bisa membantu belajar bahasa dengan cara yang menyenangkan banget. Tanpa bosan!

Banyak bahasa yang bisa dipilih

Meski namanya duolingo, bukan berarti aplikasi ini cuma menawarkan 2 bahasa aja buat dipelajari. Ada cukup banyak bahasa yang bisa dipilih. Pilihan bahasanya dikategorikan sesuai dengan penutur bahasa pengguna. Sayangnya buat penutur bahasa Indonesia, yang ditawarkan hanya belajar bahasa Inggris.

Duolingo punya banyak pilihan bahasa
Duolingo punya banyak pilihan bahasa

Tapi kalau kamu bisa menggunakan bahasa Inggris, ada banyak bahasa lagi yang bisa kamu eksplor, misalnya Spanyol, Italia, Rusia, Perancis, Portugis, Belanda, Jerman, dan banyak lagi. Sayangnya saya masih nggak nemu bahasa Jepang atau Korea buat penutur bahasa Indonesia ataupun Inggris. *Padahal sudah gemes banget pengen lanjutin belajar bahasa Jepang.

Belajar bahasa rasa main game

Belajar bahasa pakai aplikasi ini berasa kayak main game. Kita nggak bakal dibombardir dengan deretan kata-kata beserta artinya dan harus ngapalin, lalu diberi kuis nanti. No no no.. metodenya lebih seru. Kita bakal langsung diberi pertanyaan tentang arti suatu kata, lalu ada pilihan jawaban yang berupa gambar. Jadi, bisa lebih ngena di kepala. Kuis dengan jawaban bergambar ini adalah basic dari tema tertentu. Ketika level makin meningkat, tentu gambar sudah nggak ada lagi, yang ada cuma pilihan jawaban tertulis.

Ini bagian quiz-nya
Ini bagian quiz-nya

Nggak cuma milih arti kata, kita juga akan belajar membuat frasa dan kalimat, serta menyusun kata. Secara otomatis, kita juga bakal terbiasa dengan tata bahasa dari bahasa yang sedang dipelajari. Setiap kata, frasa atau kalimat yang disebutkan, akan ada suara yang menunjukkan cara membacanya. Jadi, telinga kita juga lama-lama terbiasa dengan bahasa tersebut. Serunya lagi, nanti juga akan ada pertanyaan listening, jadi kita mendengar kalimat apa yang diucapkan, lalu tugas kita menulis kalimat yang diucapkan tadi. Bahkan, ada speaking nya juga, lho. Jadi nanti kita akan diberikan kalimat dan diminta untuk membacanya. Sementara duolingo nanti akan memeriksa apakah cara baca kita sudah benar. Mantap toh?

Kamu nggak hanya bisa milih satu bahasa. Kalau kamu mau, kamu bisa kok langsung belajar beberapa bahasa sekaligus. Kalau sudah agak bosan main satu bahasa, tinggal pilih ke pelajaran bahasa lain. Tapi yang perlu diingat, kalau satu bahasa lama nggak “dimainkan”, strength level dia bakal berkurang. Ya sama kayak belajar bahasa, kalau nggak pernah dipake kan bisa lupa. Jadi biar strength levelnya penuh lagi, kamu bakal perlu mengulangi beberapa materi yang sebelumnya yang diberikan.

Bisa milih banyak bahasa dan lihat progress-nya juga
Bisa milih banyak bahasa dan lihat progress-nya juga

Karena tekniknya seperti main game, ada peningkatan level, dan beberapa tema hanya bisa di “unlock” setelah naik level, main duolingo ini memang berasa seru banget. Nggak berasa kalo lagi belajar, seperti maen game biasa aja. Yah setidaknya bagi saya yang memang obsesi sama belajar bahasa. 😀

Aplikasi ini gratis, ads nya juga bukan yang suka tiba-tiba muncul di pop ups dan menuh2in layar, atau di lokasi yang susah banget ditutupnya. Jadi nggak mengganggu sama sekali. Jadi, buat sekedar main game dan nambah pengetahuan soal bahasa, aplikasi ini layak buat dicoba.

Ngeri-ngeri Sedapnya Jadi Seorang Freelancer

Kerja freelance bisa jadi impian bagi sebagian orang. Soalnya pekerjaan seperti ini terkadang memang terlihat lebih menyenangkan dan seru. Lebih bebas, tanpa aturan yang terlalu mengikat, dan lain sebagainya. Apalagi freelance yang kerjanya di rumah, wih… terkadang bisa bikin para pekerja tetap ngiri. Apa sih yang lebih seru dari kerja di rumah, nggak perlu dandan rapi-rapi, atau bahkan bisa nggak pake mandi. :p

Dalam bahasa Jawa, ada istilah “sawang sinawang“, atau artinya saling memandang. Nah, kita kadang berpikiran bahwa hidup (atau dalam hal ini pekerjaan) orang lain itu lebih enak dari hidup kita. Padahal nggak juga. Freelance juga sama, ada enak dan nggak enaknya. Ada ngeri-ngeri sedapnya juga.

Kalau dihitung-hitung, total aku sudah kerja kantoran/pegawai itu kurang lebih 5 tahun. Resmi freelance sih masih relatif sebentar, 4 bulanan. Tapi udah kerasa banget perbedaannya dengan kerja kantoran. Biar makin ngiri, kita bahas yang enak-enak dulu aja ya… (lalu ditimpuk sepatu) 😀

Bisa Ngatur Waktu Sendiri Jam Kerjanya

You’re the boss for yourself! Nah, keren nggak tuh. Sebagai bos diri sendiri, kita bisa ngatur sendiri kapan jam kerja kita. Mau kerja mulai jam 7 pagi? Ok. Nggak bisa bangun pagi dan mau kerja mulai jam 10? Monggo. Mau kerja sehari 6 jam? Silahkan. Mau sampe malem? Sip.. Nggak ada yang bakal marah-marah dan ngelarang. Enak banget kan? Kita bisa memilih sendiri jam kerja yang paling disukai, dan yang paling produktif buat kita. Karena terkadang jam produktif orang itu beda-beda.

Tapi, seperti kata paklik nya Spiderman, “With great power, comes great responsibility”. Emang sih kita punya kekuatan ngatur jam kerja sesuka hati, tapi itu juga bakal mempengaruhi apa yang kita dapat nantinya. Kalau kita memilih buat semau sendiri saat kerja, maka hasil yang didapat juga nggak bakal menjadi sesuatu yang amazing. Hasilnya juga bakal biasa-biasa saja. Tapi kalau kita rela bekerja keras, hasilnya nggak bakal mengecewakan.

Bisa Ngatur Seberapa Banyak Pekerjaan yang Kita Mau

Sebagai seorang freelancer, kita bisa memilih seberapa banyak pekerjaan yang kita mau dan pekerjaan mana yang mau diambil atau tidak. Semua bebas karena kitasendiri yang menentukannya. Nggak ada perasaan tertekan karena takut suatu kerjaan nggak bisa beres kalau kita mengambil pekerjaan yang memang kita tahu bisa kerjakan dengan mudah dan cepat.

But this is the tricky part, terkadang kita bakal terlena buat ambil pekerjaan yang enak-enak dan gampang saja. Nah, justru inilah “jebakannya”. Jika kita cuma memilih pekerjaan yang gampang, kita nggak bakal bisa mengembangkan skill. Job yang kita dapat akhirnya juga monoton, hanya yang itu-itu saja. Kita jadi nggak tahu potensi apa yang sebenarnya bisa kita dapat. Memang sih, ambil pekerjaan yang lebih sulit itu terkadang bikin grogi, tapi begitu pekerjaan tersebut selesai, rasa puas-nya itu lho nagihin. Fee-nya juga nagihin sih.. 😀

Bebas Kerja Dimanapun Kita Mau

Sebagai seorang freelancer, kita nggak perlu lagi pusing dengan transportasi dan kemacetan di pagi hari. Setidaknya sih nggak setiap weekdays alias hari kerja. Kita bisa kerja di manapun kita berada, di rumah, di kafe, sambil liburan, you name it. Asalkan situasi dan peralatannya mendukung, kita bisa bekerja dimanapun kita mau. Jadi, kerja sambil liburan harusnya sudah bukan sekedar impian.

Tapi kita juga nggak bisa asal berangkat ngafe setiap atau traveling setiap saat. Kalau sampai gaji habis untuk ngafe dan traveling, kapan nabungnya? Justru karena bekerja sebagai freelance, artinya kita juga harus pinter-pinter menabung. Karena nantinya kita nggak akan mendapatkan uang pensiun di usia tua nanti, kita harus bisa mempersiapkan diri sendiri.

Potensi Dapat Fee Rate yang Lebih Gede

Ngomongin, soal pilihan pekerjaan, apalagi yang mampir di kepala kita kalau bukan soal gaji? Sebagai pegawai, kita akan mendapatkan gaji tetap setiap bulan. Kesempatan naik gaji atau dapat bonus pasti ada, tapi tentu jumlahnya nggak banyak karena harus dibagi sebagai keuntungan perusahannya juga.

Kalau bekerja sebagai freelance, kita yang menentukan sendiri rate alias nilai alias harga kita per proyek. Segala keuntungan dan bonus yang didapat juga untuk kita sendiri. Bisa kamu simpan untuk tabungan masa depan, mengembangkan usahamu, atau membuat rencana bisnis baru. Banyak kemungkinan yang bisa kita dapatkan.

Semakin besar usaha yang kita lakukan untuk mendapatkan proyek, dan semakin besar usaha kita untuk menyelesaikan proyek sebaik mungkin, maka semakin besar pula pendapatan yang akan kita dapatkan. Kuncinya adalah melakukan semua sebaik mungkin.Semangat!!! 😀

Nah, itu tadi bagian sedapnya, meski ada ngerinya juga. Sekarang, khusus yang ngeri-ngeri aja.

Kerja Freelance Artinya Kita Butuh Pendapatan yang Lebih dari Pekerjaan Sebagai Pegawai

Seperti yang udah disebutin di atas, kerja sebagai freelance artinya kita nggak dapat tunjangan, nggak ada reimburse kalau ke dokter, nggak ada tunjangan hari tua. Artinya, kita harus bisa mempersiapkan semua itu sendiri. Nggak sakit bukan berarti kita nggak perlu mempersiapkan uang untuk kalau kita sakit, masih muda nggak berarti kita bisa santai mikirin nanti kalau sudah tua dan tiba saatnya pensiun.

Justru karena sebagai freelance kita nggak memiliki semua keistimewaan itu, kita harus mempersiapkannya sendiri sejak awal. Yang artinya, kita harus berusaha menghasilkan pendapatan yang lebih dari penghasilan pegawai biasa. Jangan puas hanya dengan menghasilkan pendapatan yang sama dengan saat masih menjadi pegawai. Idealnya, kalau memutuskan jadi freelance, minimal pendapatan yang diterima tidak hanya sama dengan gaji pegawai, tapi juga sekaligus segala keuntungan saat menjadi pegawai. Ini bisa termasuk asuransi, tunjangan hari tua, libur yang dibayar, dsb. Nah, untuk mendapatkan pendapatan yang lebih besar, artinya kita juga harus bekerja lebih giat. Siap nggak? 😀

Harus Mahir Multitasking!

Kerja freelance bukan berarti kita cuma mengurusi satu bidang saja. Adakalanya kita juga harus beralih fungsi sebagai akuntan (menghitung pendapatan, membayar tagihan), marketing (saat berusaha mencari klien baru), dst.. dst..

Harus Bisa Mengatasi Pendapatan yang Tidak Konsisten

Kecuali kita punya klien rutin yang setiap bulan selalu memberi pekerjaan, ada kalanya kita harus siap menghadapi pendapatan yang tidak konsisten. Terkadang kita bisa menerima pendapatan yang bagus, terkadang bisa kurang dari bulan sebelumnya. Ada kalanya juga invoice tidak dibayar tepat waktu, akhirnya kita jadi pusing menunggu pendapatan sambil harap-harap cemas dengan beberapa tagihan yang mulai mendekat tanggal pembayarannya. Atau dengan persediaan makanan yang mulai menipis dan dompet yang juga makin menipis sementara fee belum juga masuk.

Nah, masalah-masalah seperti ini nggak akan terjadi kalau kita bekerja sebagai pegawai tetap. Karena pegawai selalu mendapatkan gaji di tanggal yang tetap. Jadi lebih mudah memperhitungkan segala pembayaran tagihan juga.

Kadang Kita Perlu Kerja Tak Kenal Waktu

Memang sih, sebagai seorang freelance, kita bisa kerja kapanpun kita mau karena nggak ada aturan tetap. Tapi, bukan berarti juga kita bisa bebas seenaknya sendiri. Ada kalanya klien ngasih pekerjaan di waktu yang nggak enak atau mendadak banget atau bahkan pas dini hari. Tentu kita bisa menolaknya kalau nggak mau. Tapi, kadang menjalin hubungan dengan klien itu berarti kita perlu sedikit berkorban. Berkorban dikit buat dikejar-kejar deadline demi menuntaskan pekerjaan dan demi membangun nama atau brand kita. Repot? Pasti. Tapi sekali lagi, hasil kerja keras itu nggak bakal bikin kita kecewa, kok. Lagipula kalau bidang freelance kita itu sesuatu yang disukai, kita bakal tetap bisa menikmatinya. Serius.

Jadi, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, semua itu cuma sawang sinawang. Sama dengan kerja kantoran, freelance juga punya sisi positif dan negatifnya juga. Nggak ada yang 100% enak kerja kantoran atau 100% lebih enak kerja freelance. Itu tergantung gimana kita menghadapinya aja. Bagi beberapa orang, kerja kantoran lebih cocok buat mereka, bagi orang lain sih belum tentu. Masing-masing punya resikonya sendiri.

Nah… Pesen buat kalian yang lagi bosen kerja kantoran dan pengen nyoba kerja di rumah atau freelance, jangan terburu-buru. Pikir dulu mateng-mateng, karena freelance itu nggak selalu berbunga-bunga. Butuh kerja keras dan pengorbanan juga, sama aja kayak kerja kantoran. Jangan sampai langsung termakan jargon-jargon “YOLO”, “kejar passion”, dan lain sebagainya. Kehidupan sehari-hari dan rencana masa depan juga perlu dipikirkan masak-masak agar tidak kecewa nantinya.

Jadiiii…. Apapun pekerjaan kita, jangan lupa semangat yaaa!!! 😀

 

 

Bangun Pagi Adalah Awal Buat Memulai Hidup yang Lebih Teratur

Begadang, males bangun, males beranjak dari kasur, kayaknya itu semua sudah jadi kebiasaan yang susah banget buah diubah. Nggak, aku nggak akan bilang itu buruk since I don’t know people’s live cycle. Aku juga pernah berada di posisi itu dan akhirnya gampang banget capek dan ngantuk di siang harinya, atau juga berasa lemes seharian dan kangen banget sama kasur dan selimut.

BUT! Aku mulai mencoba mengubah pola dan kebiasaanku sehari-hari dan melihat apa benar ada efeknya? Maka aku mulai bikin kebiasaan baru yang diawali dengan bangun pagi sejak memasuki bulan Mei lalu. Dan yep, bangun pagi benar-benar memberi banyak hasil positif!

Badan dan pikiran jadi lebih seger dengan bangun pagi

I’m an easily distracted person. Aku termasuk orang yang gampang banget kehilangan fokus. Bukan cuma waktu sedang mengerjakan sesuatu, bahkan juga dari target-target yang pernah aku buat. Berusaha tetap fokus itu susah banget, apalagi pas mulai siang. Baru bangun tidur aja udah capek, dan itu juga yang bikin susah produktif.

Kemudian mulailah aku mencoba bangun pagi. Awalnya aku sama sekali nggak melihat korelasinya, karena kalau kecapekan, logikanya bakal butuh lebih banyak waktu buat tidur. Tapi bangun pagi dan mulai beraktifitas lebih awal ternyata bikin badan dan pikiran berasa lebih fresh dan bersemangat. Aku mulai bisa fokus lagi dan lebih banyak hal yang bisa aku kerjakan selama seharian.

Pagi adalah waktu yang sempurna buat bikin planning

Setelah mulai terbiasa bangun pagi, aku sadar ada banyak waktu yang bisa dimanfaatkan. Jadi mulailah aku membuat jadwal atau semacam to do list tentang apa yang harus dilakukan selama seharian nanti. Mulai dari rencana kerja, apa saja yang harus dikerjakan pulang nanti, ingin pergi ke mana, dan banyak lagi.

Membuat rencana di pagi hari ternyata cukup banyak membantu agar tetap fokus seharian. Membuat rencana di malam hari nggak terlalu efektif buatku karena biasanya mata sudah nggak bisa diajak kompromi dan pengen merem. Otak juga udah nggak mau mikir sehingga percuma saja menyiapkan planning di malam hari.

Waktu me time yang bikin mood jadi bagus

Bangun dengan terburu-buru buat ngantor atau kuliah itu sama sekali nggak enak. Jadi sering kelupaan sesuatu gara-gara panik, udara yang udah panas bikin tambah males berangkat, belum lagi kalau sampai masih harus kena tegur dosen atau atasan.

Pagi hari ternyata juga pas banget untuk me time, nggak cuma weekend aja. Akhir-akhir ini, me time buatku adalah jogging keliling kompleks sambil dengerin musik. Ternyata olahraga ringan seperti itu nggak bikin kelelahwan waktu di kantor. Sebaliknya aku merasa lebih energik dan ceria seharian, dan bebas ngantuk waktu siang hari. Moodku jadi bagus dan nggak gampang ngomel lagi deh. 🙂

Jadi punya lebih banyak waktu

Bangun lebih awal bikin kamu punya waktu luang yang cukup banyak selama seharian nanti. Bayangkan, jika kamu bangun 2,5 jam lebih awal saja, kamu sudah punya 150 menit yang bisa kamu manfaatkan.

Itu baru satu hari, dalam seminggu kamu punya tambahan 17 jam, lebih dari 70 jam per bulan, dan 840 jam perhari. Dengan waktu sebanyak itu, masak sih masih beralasan nggak punya waktu?

 

Kadang Kita Perlu Menyingkir dari Orang-orang Negatif

Semua orang juga pasti pengen sukses, dan segala impiannya tercapai. Tapi toh nggak selamanya semua yang direncanakan bisa berjalan semulus aspal jalan tol. Kadang ada aja kendalnya.

Mungkin usaha kita kurang keras, atau cara yang dijalani ternyata salah. Atau bahkan juga mungkin karena kita bergaul dengan orang-orang yang salah yaitu mereka yang selalu bersikap negatif. Nah, yang seperti ini perlu diwaspadai…

Sadar atau nggak, sikap negatif itu menular

Pernah nggak sih kamu mencoba cerita ke seseorang tentang mimpi dan harapanmu? Harapannya sih mereka bakal mendukung, tapi nggak tahunya malah langsung membuatmu down dengan mengatakan bahwa kamu nggak realistis atau mimpinya ketinggian. Mendengar komentar seperti ini bakal bikin kebanyakan orang langsung down dan bahkan batal menjalankan rencananya. Akhirnya kamu malah kalah sebelum berperang.

Orang-orang dengan sikap negatif lebih sering mengecilkan hatimu daripada mendukung dengan sepenuh hati. Seandainya rencanamu memang benar-benar nggak masuk akal, maka orang yang benar-benar peduli padamu akan memberikan saran dan perspektif yang baru, bukan cuma sekadar bilang kalau apa yang pengen kamu lakukan itu hal mustahil.

Masalahnya, ketika kita terlalu sering kumpul bareng dan mendengarkan orang-orang negatif seperti ini, perlahan cara berpikir mereka juga akan mempengaruhimu. Tanpa disadari, lama-lama kamu ikut jadi orang yang pesimis dan selalu berpikir negatif. And it’s not a good thing!

Reputasimu juga ikut terpengaruh

Semua orang juga tahu bahwa kita nggak bisa menilai orang dari luarnya saja. Tapi kenyataannya kebanyakan orang juga akan menilai dari apa yang dilihat. Termasuk dengan siapa saja kamu bergaul setiap harinya. Saat kamu berkumpul dengan orang yang sharp dan cerdas, maka kamu juga terlihat memiliki kualitas yang sama. Begitu juga sebaliknya.

Saat kamu berkumpul dengan orang-orang negatif, lama-kelamaan orang lain juga akan menilaimu sebagai sosok yang negatif. Meski sebenarnya bisa jadi kamu punya sifat yang lebih optimis atau nggak peduli dengan hal-hal negatif yang sedang beredar. Tapi karena kamu kumpulnya dengan mereka yang negatif dan hobi gosip, orang juga berpikir kamu sama saja.

Mereka nggak memberi dukungan

Kadang akan ada waktu ketika kamu merasa down atau sedih karena masalah yang kamu alami. Masalahnya para pesimistis ini sangat mahir memberikan saran negatif dan kadang kita merasa apa yang dikatakan itu masuk akal. Bahwa mungkin kamu harus berhenti berusaha dan santai saja dulu.

Pada masa-masa sulit seperti ini, yang kamu butuhkan itu mereka yang dengan senang hati mendukung dan meyakinkanmu bahwa masalah apapun bisa dihadapi. Bahwa kamu bisa melakukannya dan menyerah bukanlah pilihan yang tepat.

Malah membuat makin banyak drama

Saat punya masalah, mereka yang punya pribadi negatif biasanya susah sekali untuk melepaskan diri. Kadang yang bikin repot, orang disekitarnya juga ikut dibawa masuk dalam masalahnya yang nggak kunjung selesai. Meski sebenarnya masalah tersebut harusnya bukan urusanmu.

Orang-orang negatif mudah membangun drama dan senang hidup di dalamnya. Tapi yang perlu kamu ingat, kamu nggak perlu terlibat dalam drama mereka. Apalagi jika masalahnya juga sebenarnya nggak ada hubungannya denganmu. Jangan biarkan kamu diseret dalam segala pesimisme dan pandangan negatidnya terhadap banyak hal.

Hidup ini terlalu pendek untuk dihabiskan dengan kebanyakan mengeluh

Nggak banyak orang yang memikirkannya, tapi hidup itu sebenarnya pendek. Kita nggak tahu berapa lama hidup di dunia, dan sayang banget jika waktu yang pendek itu dihabiskan dengan orang-orang yang selalu pesiming, ngomel, mengeluh atau marah-marah. Sikap seperti ini seringkali bikin hidup terasa menyebalkan, padahal hidup penuh kebahagiaan itu lebih menyenangkan.

Terserah bagaimana kamu mau menjalani hidup, tapi sayang sekali jika harus dihabiskan dengan bersedih. Padahal setiap orang juga bisa memilih hidup yang berkualitas dan bahagia asalkan mau mencobanya. Bukan berarti kamu harus memutuskan hubungan dengan orang-orang negatif, tapi cukup dengan membatasi saja. Yang penting jangan biarkan kamu ikut berpikiran negatif dan pesimis juga.