Belajar Lebih dengan Mengurangi Bicara dan Perbanyak Mendengar

Mereka yang sudah kenal baik dengan saya, tahu betul bahwa saya bisa sangat cerewet dan suka sekali bicara. Meskipun kadang saya bisa sangat pemalu dan diam saja jika bertemu dengan orang-orang baru. Tapi siapa sangka, ternyata dengan diam dan lebih banyak mendengar, ada lebih banyak hal yang bisa didapatkan.

Beberapa tahun lalu, saya bertemu seseorang yang tidak banyak bicara dan lebih suka diam. Saat itu kami sedang duduk bersama dan mendengar sekelompok orang bicara, dia bertanya pada saya, kenapa mereka rebutan membicarakan diri mereka sendiri, kenapa mereka terus bilang saya, saya, saya, saya? Saat itu kami berdebat kecil karena saya tidak setuju dengannya. Tapi semakin kesini, sepertinya saya semakin paham dengan apa yang ia bicarakan saat itu.

Hal yang kurang lebih sama juga diceritakan salah satu teman saya yang lain baru-baru ini. Teman saya yang menurutnya dulunya lebih suka didengar daripada mendengar ini mengatakan bahwa ternyata banyak hal yang ia dapatkan dengan mendengarkan dengan baik apa yang dibicarakan orang lain.

pexels-photo-29672

Mendengar membantu kita memahami orang lain

Saat kita diam dan mendengarkan orang lain bicara, terkadang kita bisa belajar dari apa yang mereka ceritakan. Bahkan meskipun yang didengar adalah curhatan seseorang tentang masalah mereka. Setidaknya kita jadi paham, ternyata ada orang yang memiliki masalah yang lebih rumit dari masalah kita. Atau mungkin ketika mereka menceritakan kesuksesannya, kita jadi tahu bahwa ada banyak orang-orang hebat di luar sana, jadi kita tidak punya alasan untuk menjadi congkak. Seperti kata pepatah yang sudah banyak didengar tapi sulit dipraktekan, “diatasnya langit, masih ada langit”.

Dengan diam dan berpikir terlebih dulu, kita terhindar dari mengatakan hal-hal yang nantinya mungkin akan kita sesali. Kadang tidak sadar kita ingin mengambil kesempatan bicara sebelum orang lain. Akhirnya kita asal bicara tanpa benar-benar memahami apa yang kita bicarakan atau mengapa kita harus membicarakannya. Hasilnya? Ya kita tidak benar-benar didengarkan, atau yang lebih buruk, kita mengatakan hal yang seharusnya tidak boleh kita ucapkan.

Mendengar juga berarti memungkinkan kita untuk “meminjam” sudut pandang si pembicara untuk sejenak dan memahaminya apa yang mereka bicarakan. Selanjutnya, kita juga memiliki waktu untuk membiarkan mereka selesai bicara sekaligus memikirkan versi sudut pandang kita sendiri. Jadi, kita tidak terburu-buru membuat kesimpulan yang bisa jadi salah gara-gara kita terburu-buru merespon dan tidak benar-benar memahami apa yang dibicarakan orang lain.

pexels-photo-38940

Kalau ingin didengar saat bicara, sudah saatnya kita mendengar lain orang bicara, kan?

Kadang waktu kita ngobrol dan saking asyiknya bercerita, kita lupa untuk benar-benar mendengarkan. Kita ingin ikut berbicara dan membagi apa yang kita ketahui, atau bahkan menunjukkan apa yang kita ketahui. Memang, jadi pusat perhatian itu bisa menyenangkan, tapi egois sekali kita kalau cuma ingin didengarkan tapi tidak mau mendengar?

Sebagai seseorang yang cerewet dan ceriwis, saya paham betul banyak hal penting dan istimewa yang tidak sadar telah saya lewatkan selama ini. Seandainya dulu saya lebih banyak mendengar, dan tidak banyak bicara, pasti banyak hal yang berbeda saat ini. Tapi ya begitulah manusia. Kadang kita memang perlu menengok ke belakang, melihat apa yang telah kita lakukan, dan mulai memperbaiki apa yang salah. Karena kalau tetap melakukan kesalahan yang sama ya bebal namanya. 😀

 

 

Iklan

[Review] Corine de Farme Micellar Cleansing Foam

Sudah lama sekali saya selalu merasa bahwa kulit wajah saya itu berminyak gara-gara banyak sekali produksi minyak di wajah. Tapi ternyata banyak produk yang buat kulit berminyak ternyata tidak cocok buat saya. Sekitar tiga bulan lalu, saya ke Guardian mau beli pelembab yang biasa saya pakai. Mbak penjaga yang lihat kulit wajah saya bilang, kayaknya tipe kulit saya tidak hanya berminyak, tapi sensitif, jadi mending cari yang tidak terlalu “harsh”.

Waktu itu, kondisi kulit saya bruntusan parah dan banyak jerawat kecil-kecil terutama di daerah kening.  Lalu orangnya memberi saran buat pakai Corine de Farme Micellar Cleansing Foam. Pertama nyoba saya agak khawatir juga, karena jujur belum pernah dengar brand ini. Lalu reviewnya juga belum terlalu banyak dan jarang terdengar. Tapi karena mbak-mbak Guardiannya kelihatan meyakinkan, akhirnya ya dicobain aja.

Dilihat dari botolnya, isinya memang cair dan bening kayak air biasa. Tapi ternyata pas pump-nya ditekan, keluarnya jadi foam. Jadi tidak perlu khawatir cepet habis gara-gara kebanyakan dituang. Tidak perlu kelamaan membusakan sabun pula, soalnya udah jadi busa sendiri. Lalu, karena bentuknya pump, juga jadi tidak mudah tumpah. Secara packaging sip lah kalau menurut saya.

corine-de-farme-micellaire-cleansing-foam

Corine de Farme Micellar Cleansing Foam

Ada bau wangi khas dari Corine de Farme ini, menurut saya sih baunya enak seperti bau tanaman dan tidak terlalu mengganggu. Tapi buat mereka yang tidak suka ada bau-bauan di skincare mereka, mungkin tidak akan terlalu suka karena wanginya memang kuat.

Setelah pakai cleansing foam ini, ternyata bruntusan saya beneran ilang, lho! Jerawat juga tidak muncul, ya kecuali hanya waktu siklus wajar saat mau menstruasi. Di luar itu, saya hampir tidak pernah berjerawat atau bruntusan lagi. Efeknya ini mulai terlihat di wajah saya kurang lebih setelah 2 mingguan. Tapi mungkin untuk orang lain, efeknya bisa berbeda.

Foamnya tidak bikin kering di wajah, tapi terasa banget bersihnya. Wajah juga tidak terasa seperti ketarik, tapi lembut dan enak pas disentuh. Masih terasa lembabnya, tapi juga tidak terlalu berminyak. Selain itu, wajah juga tidak teriritasi dan bruntusan sama jerawat ilang semua. Jadi, sejauh ini saya puas pakai Corine de Farme Micellar Cleansing Foam ini.

 

tekstur-foam

Meskipun bentuknya cair, ternyata pas dipencet jadi foam 😀

 

Harganya kalau tidak salah sekitar 150 ribu dengan ukuran botol 150 ml. Saya kira harga segitu cukup mahal, tapi ternyata punya saya bisa bertahan tiga bulanan. Mungkin karena keluarnya sudah langsung berbentuk foam, jadi pencet sedikit aja udah jadi foam banyak, jadi lebih hemat.

Sudah tiga bulan saya pakai facial foam ini dan tidak punya komplain. Jadi, definitely repurchase, karena sudah lama saya belum nemu facial foam yang cocok. 😀 Tapi ya gitu, skincare itu cocok-cocokan ya. Apa yang cocok di saya (setelah sekian lama), belum tentu cocok di kamu. But that is my honest review setelah tiga bulan pemakaian. 🙂

Bersosialisasi, Salah Satu Perjuangan Freelancer yang Kadang Terlupakan

Bekerja freelance di rumah yang tidak perlu ke kantor can be heaven at times. Bagaimana tidak, kita tidak perlu bingung buru-buru berangkat ngantor pagi-pagi, kena macet, kalau ngantuk tinggal merem, tidak pusing milih baju yang mau dipakai, bahkan kalau mau, tidak usah mandi sekalian juga tidak akan ada yang tahu atau protes.

Meski begitu, kehidupan freelancer tidak selamanya berbunga-bunga, ada banyak juga ngeri-ngeri sedapnya freelancer yang harus diperjuangkan. Salah satunya adalah bersosialisasi alias hangout alias bertemu dengan kawan-kawan.

Kerja yang tidak perlu ke kantor kadang bisa bikin kita jadi jarang ke luar rumah, apalagi bersosialisasi. Saat masih ngantor, kita masih bisa ketemu banyak interaksi sosial secara langsung dengan rekan kerja. Tapi begitu kita bekerja di rumah, interaksinya jadi hanya lewat dunia maya. Waktu bersosialisasi juga makin berkurang.

 

kerja-di-rumah

Kerja di rumah kadang bikin kesepian

 

Hal inilah yang sangat saya rasakan setelah beberapa kali sempat menjadi orang yang kerjanya tidak ngantor. Beberapa tahun lalu saat masih kerja di rumah, saya hampir tidak pernah ke luar rumah untuk sekadar ngumpul atau bertemu teman-teman. Jelas efeknya terasa sekali, mulai dari perlahan kehilangan teman gara-gara dikira sombong atau tidak mau bergaul, sampai jadi stress sendiri karena tidak punya teman bicara.

Dari situ saya belajar bahwa kali ini, meski bekerja freelancer dan tidak perlu ngantor, setidaknya meluangkan waktu untuk bersosialisasi itu jelas sangat perlu. Tidak melulu harus ngafe (karena kalau keseringan juga bikin boros. :D), bisa juga olahraga bareng, atau main ke rumah atau kosan teman-teman.

Jadilah saya mulai datang di acara-acara reuni (yang dulunya hampir tidak pernah mau ikut), ngumpul bersama teman-teman, ikutan nonton konser (untuk pertama kalinya!), nginep di kosan teman-teman, hingga olahraga bareng. Lalu perbedaan apa yang saya rasakan? Banyak!

 

bersosialisasi

Momen hangout bareng teman yang diabadikan. 😀

 

Stres kerjaan itu bisa dikatakan tidak terlalu terasa. Saya juga memiliki banyak teman ngobrol dan diskusi yang banyak menambah motivasi, wawasan, bahkan ide-ide baru. Ngumpul dan bersosialisasi bareng teman-teman juga membuat saya jadi bisa menambah koneksi dan memperbaiki hubungan-hubungan lama yang sempat renggang. Intinya, saya justru bisa semakin merasa lebih positif.

Buat saya yang dulunya selalu takut ngomong dengan seseorang, hangout dan ngumpul bareng teman jelas langkah besar. Tapi pelan-pelan, berkat saran dari teman-teman dan motivasi mereka juga, saya akhirnya berani ngomong, mengungkapkan pikiran dan perasaan, bahkan ngobrol dengan orang baru.

Nah, untuk alasan-alasan inilah, saya bakal tetep rutin ikut olahraga bareng dan ngumpul bareng, asalkan tidak ada deadline yang mendesak harus selesai hari itu juga. 😀

Berdansa dengan Musik Vintage yang Classy ala Postmodern Jukebox

Setiap kali ditanya musik seperti apa yang saya sukai, saya tidak akan punya jawaban spesifik. Pasalnya, genre musik yang saya sukai berada di spektrum yang cukup luas, mulai dari yang dianggap sebagai musiknya orang tua seperti campursari dan langgam jawa, sampai ke musik hits zaman sekarang semacam EDM. Tidak ada genre khusus yang saya sukai. Apapun itu, kalau cocok di telinga ya ayo saja.

Salah satu musik jenis musik yang paling saya sukai adalah berbagai genre vintage. Nah, beberapa waktu lalu (sudah cukup lama juga sih), saya mengenal Postmodern Jukebox di Youtube. Pertama kali saya mendengarnya musiknya, saat itu pula saya langsung jatuh cinta.

Postmodern Jukebox alias PMJ terkenal mengaransemen ulang lagu-lagu populer modern menjadi berbagai genre vintage seperti swing, jazz ala awal tahun 20-an, sock hop, dan banyak lagi. Sebenarnya PMJ sudah ada sejak tahun 2011, tapi saya baru mulai mengenalnya sekitar tahun lalu (2015). Tapi tidak masalah, better late than never kan?

PMJ didirikan oleh seorang pianis dan pengaransemen musik, Scott Bradlee. Bersama dengan teman-teman musisinya, mereka menampilkan musik vintage yang berkelas dan sayang rasanya untuk tidak ikut berdansa ketika mendengar karya gubahan mereka.

Kesuksesan mereka kini sudah begitu meluas. Hingga artikel ini ditulis saat ini, Postmodern Jukebox sudah memiliki 2,3 juta lebih subscriber. Lagu yang mereka aransemen ulang juga sudah mencapai lebih dari 150 buah lagu karena mereka rutin mengunggah setidaknya 1 video setiap minggunya. Bahkan, mereka juga sudah melakukan tur konser di Amerika hingga Eropa. Sayangnya mereka sepertinya masih belum berencana untuk konser di Indonesia.

Kalau saya ditanya mana yang paling saya sukai diantara musik yang diaransemen ulang oleh PMH, hmm… akan sulit menjawabnya. Pasti malah akan menjadi deretan yang sangat panjang. Well, yeah. That’s how much I love their music. Bahkan, buat milih beberapa video-nya buat di cantumin di artikel ini saja saya bingung setengah mati. Karena banyak banget favorit saya.

Salah satu yang paling membuat saya ternganga adalah aransemen ulangnya untuk lagu Kanye West yang berjudul Only One. Saya bukan fans nya Kanye, dan tidak tertarik dengan lagunya juga. Saya tidak begitu suka dengan musik yang dibuat oleh versi Kanye sendiri. Tapi begitu mendengar aransemen ulang yang dibuat Postmodern Jukebox, saya begitu terpesona sampai merinding! Kalau penasaran lagunya, langsung cek di sini. Aransemen mereka untuk lagu Bye Bye Bye – nya N’Sync juga sangat amazing. Apalagi cover-cover mereka yang menggunakan Christina Gatti di posisi vokal. I’m in love with her voice!

Kalau kamu termasuk orang yang suka musik vintage, ayo deh, langsung aja cek youtube mereka. Buat yang udah pernah atau sering dengerin musik mereka, lagu mana sih yang menjadi favorit kamu? 😀

 

Hal Paling Sia-sia yang Seharusnya Memang Tidak Perlu Dilakukan Lagi

Banyak hal kita lakukan untuk menjalani hidup dengan lebih baik dan menjauh dari masalah. Tapi seperti yang sudah kita semua ketahui, tidak semua hal berjalan seperti kemauan kita. Malah beberapa terkadang benar-benar berkebalikan dari apa yang kita harapkan.

Semakin bertambah usia, semakin saya sadar bahwa beberapa hal memang tidak bisa saya paksakan dan lakukan. Semakin saya berjuang melakukannya, semakin terbuang percuma waktu dan usaha saya, alias sia-sia. Bukan berarti menyerah, tapi jika pada akhirnya tidak menguntungkan dan justru membuat saya semakin sengsara, mengapa harus terus dilakukan?

Berusaha Menang dalam Setiap Percakapan

Percakapan itu seharusnya timbal balik dan tidak didominasi oleh satu orang saja. Memang kebanyakan orang suka didengarkan, tapi terkadang begitu sukanya didengar sampai lupa membiarkan orang lain bicara. Apalagi jika berusaha meyakinkan seseorang yang berseberangan dengan dirinya.

Berusaha memenangkan percakapan seperti ini dan berjuang untuk diakui adalah hal yang sia-sia. Selantang dan sesering apapun kita bicara, mereka yang tidak suka akan tetap tidak suka dan tetap tidak yakin dengan apa yang kita katakan. Lalu, kenapa harus membuang-buang waktu?

Berusaha Membuat Orang Menyukai Kita

Salah satu hal yang paling saya takuti adalah dibenci seseorang. Begitu takutnya saya dibenci, saya sering kurang tidur gara-gara memikirkan apakah hari itu saya mengatakan hal yang salah atau melakukan hal yang menyinggung orang lain. Di satu sisi, hal itu memang membuat seseorang menjadi lebih berhati-hati, tapi di saat yang sama juga membuat saya terus berada dalam kekhawatiran.

Pada akhirnya, saya memahami bahwa tidak semua orang menyukai kita, dan itu tidak masalah. Berusaha membuat semua orang menyukai kita malah membuat kita tidak bisa menjadi diri sendiri. Kita menjadi merasa terkekang dan dibatasi karena takut seseorang membenci kita bahkan untuk hal-hal yang paling sepele. Parahnya lagi, saya pernah sampai menjadi pribadi yang tidak bisa mengeluarkan uneg-uneg, dan selalu menahan diri karena takut dibenci. Pernah juga dikira seperti bunglon yang selalu memiliki wajah berbeda-beda, padahal alasan dasarnya hanya satu, takut tidak disukai.

Semakin bertambah usia, semakin saya mengerti bahwa tidak masalah jika kita tidak disukai seseorang. Karena nantinya kita juga akan menemukan seseorang yang cocok dengan sifat dan karakter kita.

Berusaha Mengubah Seseorang

Hal lain yang menurut saya sama sia-sianya adalah berusaha mengubah seseorang. Apalagi jika itu sudah menjadi karakter atau kebiasaan mereka. Bahkan meskipun hal yang ingin Anda ubah itu adalah hal yang buruk dan hanya demi kebaikan mereka saja.

Berusaha mengubah kebiasaan seseorang yang memang tidak ingin berubah bukan saja sia-sia, tapi juga terkadang malah menimbulkan perasaan tidak enak atau tidak nyaman. Terkadang cara terbaik adalah membiarkan mereka menyadarinya sendiri. Pada akhirnya, mereka sendiri juga yang akan menyelesaikan masalah tersebut pada waktu dan dengan cara mereka sendiri.

Berjuang untuk mencapai apa yang kita inginkan memang merupakan hal yang bagus untuk terus dilakukan. Tapi kita juga perlu menjadi cukup bijak untuk memahami apa yang tidak bisa kita ubah.

 

Aplikasi Unik yang Bisa Bantu Kamu “Naik Level”

Semua orang bijak pasti akan bilang kalau kita nggak boleh berhenti belajar dan berusaha mencapai sesuatu. Hanya saja, dengan kehidupan yang serba cepat dan serba sibuk seperti sekarang ini, kadang kesempatan untuk mengembangkan diri juga terlewat begitu saja. Akhirnya kita lebih sering stuck di tempat dan kegiatan yang itu-itu saja. Ini juga yang sering kejadian dengan saya sendiri. Stuck di kegiatan dan tempat yang itu-itu saja.

Nah, beberapa waktu lalu, saya iseng browsing aplikasi di handphone (kayaknya ini sudah jadi semacam hobi baru). Ada satu aplikasi unik yang lumayan bisa dipakai buat membantu mengembangkan diri sekaligus spare time killer kalau lagi tidak ada kerjaan. Namanya “Level Up Live”

Achievement di Level up Life

Beberapa kategori achievement

Sesuai namanya, aplikasi ini emang dibuat untuk membantu usernya buat level-up. Jadi, bakal ada beberapa daftar achievement yang bisa kamu capai buat naik level. Desainnya seperti game RPG, ada level, XP, dan beberapa kategori achievement. Jadi, setiap kali kamu menyelesaikan 1 task, XP kamu akan bertambah. Semakin banyak XP bertambah, maka semakin naik pula levelnya.

Semakin tinggi level kamu, achievement yang harus kamu capai nantinya juga makin sulit atau kompleks. Beberapa achievement bakal terkunci sampai kamu mencapai level yang diperlukan. Jadi, kamu bakal tetep termotivasi buat menyelesaikan achievement agar bisa membuka achievement selanjutnya. (Terutama kalau kamu gampang penasaran seperti saya. :D)

Daftar achievement

Kerjakan semua targetnya biar cepat naik level

Semua achievement harian di aplikasi ini dibuat sesuai kehidupan sehari-hari. Jadi sama sekali tidak sulit untuk memainkannya. Ada Arts & Creativity, Career & Finances, Fitness & Health, Food & Cooking, Fun, Household & DIY, Humanity, Mental, Outdoors, Reading, School & Learning, Social, dan Travel. Nah, tinggal kamu tinggal pilih deh, mana yang ingin kamu lakukan dulu di waktu luang kamu.

Selain dalam bentuk aplikasi di smartphone, game ini juga bisa diakses lewat websitenya: lvluplife.com. Jadi tinggal log in saja, dan kamu sudah bisa melanjutkanmu ber-levelup ria. Buat yang berjiwa kompetitif, aplikasi ini juga punya peringkat umum, jadi kamu juga bakal tahu berapa peringkat kamu di antara para user level up lainnya.

Profil Level Up Life

Masih level 1 😀

Menurut saya, aplikasi ini cocok buat mereka yang sering melontarkan pertanyaan “hmm… enaknya ngapain ya”, atau yang sering bosan karena tidak ada kegiatan, atau buat yang memang lagi ingin mencoba hal-hal baru tapi tidak tahu mau mulai dari mana (Nah… saya kategori yang terakhir nih.. :p). Saya sendiri baru seminggu pakai aplikasi ini, tapi sejauh ini memang seru dan masih menjadi favorit. Meski masih belum bisa rajin-rajin main soalnya kerjaan masih numpuk banget. 😀 Tapi, so far, aplikasi ini layak coba!

Perasaan Campur Aduk di Usia Akhir 20-an

Ada banyak hal yang terjadi ketika kita berada di usia 20-an. Di usia yang jelas sudah bisa disebut dewasa, lebih banyak hal yang mulai kita alami dan pahami dan macam-macam pula cara kita menghadapinya. Apalagi saat sudah mulai menginjak akhir 20-an, ada banyak perasaan campur aduk yang kita alami yang kadang jauh lebih kompleks dari sekadar pertanyaan kapan kawin. (*ups)

Di akhir usia 20an, kebanyakan dari kita mungkin sudah mulai memikirkan untuk hidup sendiri dan mulai mandiri. Meskipun kalau melihat di budaya negara kita, kebanyakan dari kita nggak akan keluar rumah sebelum menikah. Tapi setidaknya, kita mulai merasa bisa mengendalikan hidup sendiri karena sudah mulai bekerja menata karir, hidup dan masa depan.

Masalahnya, perasaan mengendalikan hidup sendiri ini juga kadang diikuti dengan rasa khawatir karena tanggung jawab yang juga makin besar. Mikir beli rumah, tabungan masa depan, kesehatan orang tua, dan masih banyak lagi. Atau yang akan semakin sering terjadi biasanya adalah pengeluaran tiba-tiba yang bisa membuat kita kelabakan terutama jika kita tidak memiliki tabungan untuk situasi seperti ini. Di saat seperti inilah kita sadar bahwa kadang kita tidak bisa benar-benar mengendalikan keadaan.

Tapi kabar baiknya, sebagian dari kita biasanya sudah memiliki pandangan karir dan hidup seperti apa yang kita inginkan. Kita juga mulai mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapainya. Sayangnya, usaha keras yang dilakukan untuk mencapai ambisi itu kadang membuat kita terlalu sibuk dan tidak bisa menikmati waktu. Mungkin karena ada rasa khawatir bahwa hidup yang diimpikan tersebut tidak kunjung tercapai. Tapi kalau dipikir-pikir, jika kita tidak bisa menikmati hidup, apa enaknya?

Merasakan usia kita semakin bertambah kadang juga membuat kita menyadari segala perubahan yang ada di sekeliling kita. Tiba-tiba kita sudah punya banyak keponakan, atau adik kita sudah besar, atau dulu ada anggota keluarga yang masih bayi, sekarang tiba-tiba sudah smp. Melihat semua perubahan tersebut tentu ada rasa nostalgia yang menyenangkan, bahwa anggota keluarga kita bertambah, dan bahwa bayi-bayi lucu itu sekarang sudah ABG dan mulai membuat kita pusing dengan gaya mereka. Tapi di saat yang sama, kita juga sadar bahwa orang tua kita pun makin menua dan lemah. Rasa takut kehilangan juga semakin besar. Hal ini mau tidak mau juga membuat kita berpikir bahwa waktu memang terus berjalan dan tidak pernah memberi kesempatan bagi kita untuk berhenti sejenak.

Banyak perasaan campur aduk yang hinggap ketika mencapai usia akhir 20an. Dan campur aduknya memang terkadang lebih memusingkan daripada sekadar pertanyaan kapan kawin, meskipun itu juga bisa jadi salah satu alasannya. But let’s keep going and keep moving. Yang bisa kita lakukan ya memang cuma berusaha sebaik mungkin menjalaninya. Karena kita hidup juga cuma numpang lewat, kan? Yang penting berusaha tidak menyakiti orang lain sambil berusaha agar kita bisa hidup layak dan membahagiakan sebanyak mungkin orang termasuk diri sendiri.