[Review] Bio Oil Digunakan Sebagai Pelembab Wajah?

Setelah sekian lama nggak muncul di peredaran, akhirnya saya kembali membawa satu misi yaitu mereview salah satu beauty produk. Kali ini, saya mau mereview Bio Oil PurCellin Oil™ yang sudah dua mingguan ini rutin saya pakai sebagai pelembab wajah tiap pagi dan malam.

Seperti yang udah saya sebutkan di artikel Review Corine de Farme Micellar Cleansing Foam, kulit saya cenderung berminyak dan sensitif. Jadi salah produk muka sedikit saja, dijamin jerawat dan bruntusan bakal bermunculan. Sialnya, kemarin saya sempat tidak setia pada Corine selama sekitar 1 bulan, akhirnya jerawat kembali menyerang.

 

Bio Oil

Bio Oil

 

Saat beli stok Corine de Farme itulah saya diperkenalkan dengan Bio Oil. Kata mbak SPG-nya, produk ini mampu membantu menyamarkan bekas jerawat. Akhirnya saya beli Bio Oil yang 60 ml, dengan harga kurang lebih 120 ribu. Dengan harga segitu, jelas cukup mahal, tapi karena pemakaiannya hanya 2 tetes, saya rasa 60 ml bisa tahan sampai 1 bulan lebih.

Saat pertama kali membuka tutupnya, yang pertama kita notice adalah aromanya yang wangi dan calming, hampir mirip baby oil.

Meskipun berbentuk minyak, produk ini tidak terlalu pekat, kok. Masih terasa nyaman ketika diteteskan ke kulit dan tidak lengket. Karena teksturnya yang tidak terlalu pekat, Bio Oil jadi mudah meresap di kulit saat dipakai.

Menurut labelnya, Bio Oil ini bisa digunakan sebagai perawatan kulit untuk bekas luka, stretch mark, warna kulit yang tidak merata, dan kulit kering. Jadi, saya memilih produk ini memang karena ingin mencoba bagaimana manfaatnya untuk bekas jerawat dan warna kulit wajah saya.

Tekstur Bio Oil

Meskipun kulit wajah saya tergolong berminyak, ternyata produk ini tidak membuat wajah saya makin seperti ‘kilang minyak’. Hanya dipakai dua tetes dan dipijatkan ke seluruh wajah, Bio Oil akan langsung meresap tanpa meninggalkan rasa lengket dan berminyak, tapi tetap terasa lembab.

Setelah dua minggu pemakaian setiap pagi dan sore, jerawat yang tadinya bermunculan di wajah gara-gara salah pembersih muka mulai mengering dan kempes. Jerawat yang muncul terakhir memang masih terlihat bekasnya, tapi di bagian tempat jerawat lama sempat muncul, warnanya mulai memudar.

Selain jerawat yang mulai mengering dan warnanya yang mulai pudar, warna kulit wajah juga mulai kelihatan rata. Kulit wajah saya memang gelap sejak lahir, jadi tidak mungkin saya berharap berubah jadi putih, kan? Tapi memang jadi terlihat lebih segar dan warnya lebih merata.

Sejauh ini, saya suka dengan produk Bio Oil karena tidak membuat kulit saya bruntusan, jerawatan, atau kelihatan seperti kilang minyak. Sebaliknya, kulit jadi terasa lembab, halus dan kenyal. Tapi sekali lagi, karena setiap orang punya tipe wajah yang beda-beda, maka efek yang dihasilkan dari produk perawatan juga akan berbeda. 😊

 

Iklan

[Review Novel] Berpetualang di Italia Zaman Renaissance Lewat Novel Poison

Memasuki awal tahun 2017, saya kembali tenggelam dalam novel dan buku-buku lainnya. Dimulai pada malam tahun baru, saya memulai dengan membaca novel bersetting Italia pada masa Renaissance, Poison. Nah, untuk itu, postingan kali ini saya akan membuat review novel Poison ini secara singkat saja.

Secara garis besar, Poison menceritakan perjuangan seorang wanita bernama Francesca untuk mencari tahu alasan kematian ayahnya yang mengenaskan dan untuk melakukan balas dendam. Untuk mencapai tujuannya, maka ia mengikuti jalan ayahnya semasa hidupnya dengan bekerja sebagai seorang ahli racun untuk keluarga paling terkenal di Italia, keluarga Cardinal Rodrigo Borgia.

poison-by-sara-poole

Novel Poison karya Sara Poole

Demi mencapai ambisinya untuk membalas dendam, Francesca mempertaruhkan banyak hal, dan bahkan melakukan berbagai langkah tak terduga, berbahaya, bahkan hingga melakukan pembunuhan. Dalam novel ini, diceritakan pula bagaimana Francesca akhirnya juga membantu Rodrigo mencapai ambisinya untuk menjadi Paus menggantikan Paus Inosensius VIII yang saat itu mulai sakit dan melakukan beragam upaya demi menghindari kematian. Maka munculah kisah mengenai Francesca yang terjebak antara balas dendam, membantu ambisi Il Cardinale atau menghentikan kekejaman Paus Inosensius VIII dengan membunuhnya.

Kalau kamu familiar dengan tokoh-tokoh era Renaissance di Italia, maka kamu juga pasti akan familiar dengan nama-nama tokoh pada novel ini. Pasalnya, novel ini juga menggunakan banyak sosok penting dalam sejarah seperti keluarga Borgia (termasuk Lucrezia dan Cesare, bahkan Giulia yang konon merupakan kekasih Rodrigo), serta kisah seputar kematian Paus Inosensius VIII. Kalau kamu termasuk seseorang yang suka cerita sejarah terutama yang mengangkat masa Renaissance di Italia, maka novel ini cocok untuk kamu.

novel-poison

Membaca Sambil Ngeteh! 😀

Namun yang harus diingat, meskipun novel ini mengambil beberapa karakter yang memang ada dalam sejarah, kisahnya sendiri tetap kisah fiksi. Kisah mengenai skandal yang meliputi keluarga Borgia dan Paus Inosensius VII pun hingga kini masih menjadi perdebatan karena tidak ada catatan pasti mengenai beberapa kejadian tersebut.

Secara keseluruhan, kisah Poison karya Sara Poole ini cukup menarik. Ketegangan dalam alur ceritanya akan membuat kamu sulit untuk meletakkan novel ini sebelum selesai membacanya. Bahkan hingga akhir kisahnya, kamu akan berharap bahwa novel ini memiliki sequel. Selain itu, meski mengangkat sisi skandal dalam sejarah, novel ini cukup ringan untuk dinikmati dan tidak akan membuat pembaca terlalu pusing berpikir.

[Review] Corine de Farme Micellar Cleansing Foam

Sudah lama sekali saya selalu merasa bahwa kulit wajah saya itu berminyak gara-gara banyak sekali produksi minyak di wajah. Tapi ternyata banyak produk yang buat kulit berminyak ternyata tidak cocok buat saya. Sekitar tiga bulan lalu, saya ke Guardian mau beli pelembab yang biasa saya pakai. Mbak penjaga yang lihat kulit wajah saya bilang, kayaknya tipe kulit saya tidak hanya berminyak, tapi sensitif, jadi mending cari yang tidak terlalu “harsh”.

Waktu itu, kondisi kulit saya bruntusan parah dan banyak jerawat kecil-kecil terutama di daerah kening.  Lalu orangnya memberi saran buat pakai Corine de Farme Micellar Cleansing Foam. Pertama nyoba saya agak khawatir juga, karena jujur belum pernah dengar brand ini. Lalu reviewnya juga belum terlalu banyak dan jarang terdengar. Tapi karena mbak-mbak Guardiannya kelihatan meyakinkan, akhirnya ya dicobain aja.

Dilihat dari botolnya, isinya memang cair dan bening kayak air biasa. Tapi ternyata pas pump-nya ditekan, keluarnya jadi foam. Jadi tidak perlu khawatir cepet habis gara-gara kebanyakan dituang. Tidak perlu kelamaan membusakan sabun pula, soalnya udah jadi busa sendiri. Lalu, karena bentuknya pump, juga jadi tidak mudah tumpah. Secara packaging sip lah kalau menurut saya.

corine-de-farme-micellaire-cleansing-foam

Corine de Farme Micellar Cleansing Foam

Ada bau wangi khas dari Corine de Farme ini, menurut saya sih baunya enak seperti bau tanaman dan tidak terlalu mengganggu. Tapi buat mereka yang tidak suka ada bau-bauan di skincare mereka, mungkin tidak akan terlalu suka karena wanginya memang kuat.

Setelah pakai cleansing foam ini, ternyata bruntusan saya beneran ilang, lho! Jerawat juga tidak muncul, ya kecuali hanya waktu siklus wajar saat mau menstruasi. Di luar itu, saya hampir tidak pernah berjerawat atau bruntusan lagi. Efeknya ini mulai terlihat di wajah saya kurang lebih setelah 2 mingguan. Tapi mungkin untuk orang lain, efeknya bisa berbeda.

Foamnya tidak bikin kering di wajah, tapi terasa banget bersihnya. Wajah juga tidak terasa seperti ketarik, tapi lembut dan enak pas disentuh. Masih terasa lembabnya, tapi juga tidak terlalu berminyak. Selain itu, wajah juga tidak teriritasi dan bruntusan sama jerawat ilang semua. Jadi, sejauh ini saya puas pakai Corine de Farme Micellar Cleansing Foam ini.

 

tekstur-foam

Meskipun bentuknya cair, ternyata pas dipencet jadi foam 😀

 

Harganya kalau tidak salah sekitar 150 ribu dengan ukuran botol 150 ml. Saya kira harga segitu cukup mahal, tapi ternyata punya saya bisa bertahan tiga bulanan. Mungkin karena keluarnya sudah langsung berbentuk foam, jadi pencet sedikit aja udah jadi foam banyak, jadi lebih hemat.

Sudah tiga bulan saya pakai facial foam ini dan tidak punya komplain. Jadi, definitely repurchase, karena sudah lama saya belum nemu facial foam yang cocok. 😀 Tapi ya gitu, skincare itu cocok-cocokan ya. Apa yang cocok di saya (setelah sekian lama), belum tentu cocok di kamu. But that is my honest review setelah tiga bulan pemakaian. 🙂

Aplikasi Unik yang Bisa Bantu Kamu “Naik Level”

Semua orang bijak pasti akan bilang kalau kita nggak boleh berhenti belajar dan berusaha mencapai sesuatu. Hanya saja, dengan kehidupan yang serba cepat dan serba sibuk seperti sekarang ini, kadang kesempatan untuk mengembangkan diri juga terlewat begitu saja. Akhirnya kita lebih sering stuck di tempat dan kegiatan yang itu-itu saja. Ini juga yang sering kejadian dengan saya sendiri. Stuck di kegiatan dan tempat yang itu-itu saja.

Nah, beberapa waktu lalu, saya iseng browsing aplikasi di handphone (kayaknya ini sudah jadi semacam hobi baru). Ada satu aplikasi unik yang lumayan bisa dipakai buat membantu mengembangkan diri sekaligus spare time killer kalau lagi tidak ada kerjaan. Namanya “Level Up Live”

Achievement di Level up Life

Beberapa kategori achievement

Sesuai namanya, aplikasi ini emang dibuat untuk membantu usernya buat level-up. Jadi, bakal ada beberapa daftar achievement yang bisa kamu capai buat naik level. Desainnya seperti game RPG, ada level, XP, dan beberapa kategori achievement. Jadi, setiap kali kamu menyelesaikan 1 task, XP kamu akan bertambah. Semakin banyak XP bertambah, maka semakin naik pula levelnya.

Semakin tinggi level kamu, achievement yang harus kamu capai nantinya juga makin sulit atau kompleks. Beberapa achievement bakal terkunci sampai kamu mencapai level yang diperlukan. Jadi, kamu bakal tetep termotivasi buat menyelesaikan achievement agar bisa membuka achievement selanjutnya. (Terutama kalau kamu gampang penasaran seperti saya. :D)

Daftar achievement

Kerjakan semua targetnya biar cepat naik level

Semua achievement harian di aplikasi ini dibuat sesuai kehidupan sehari-hari. Jadi sama sekali tidak sulit untuk memainkannya. Ada Arts & Creativity, Career & Finances, Fitness & Health, Food & Cooking, Fun, Household & DIY, Humanity, Mental, Outdoors, Reading, School & Learning, Social, dan Travel. Nah, tinggal kamu tinggal pilih deh, mana yang ingin kamu lakukan dulu di waktu luang kamu.

Selain dalam bentuk aplikasi di smartphone, game ini juga bisa diakses lewat websitenya: lvluplife.com. Jadi tinggal log in saja, dan kamu sudah bisa melanjutkanmu ber-levelup ria. Buat yang berjiwa kompetitif, aplikasi ini juga punya peringkat umum, jadi kamu juga bakal tahu berapa peringkat kamu di antara para user level up lainnya.

Profil Level Up Life

Masih level 1 😀

Menurut saya, aplikasi ini cocok buat mereka yang sering melontarkan pertanyaan “hmm… enaknya ngapain ya”, atau yang sering bosan karena tidak ada kegiatan, atau buat yang memang lagi ingin mencoba hal-hal baru tapi tidak tahu mau mulai dari mana (Nah… saya kategori yang terakhir nih.. :p). Saya sendiri baru seminggu pakai aplikasi ini, tapi sejauh ini memang seru dan masih menjadi favorit. Meski masih belum bisa rajin-rajin main soalnya kerjaan masih numpuk banget. 😀 Tapi, so far, aplikasi ini layak coba!

Duolingo, Aplikasi Gemesin Buat Belajar Bahasa

Sebenarnya udah lama banget gemes pengen bikin nulis soal aplikasi keren ini. Namanya Duolingo. Buat mereka yang hobi banget belajar bahasa, aplikasi ini termasuk a must have di smartphone kamu. Pasalnya, aplikasi ini bisa membantu belajar bahasa dengan cara yang menyenangkan banget. Tanpa bosan!

Banyak bahasa yang bisa dipilih

Meski namanya duolingo, bukan berarti aplikasi ini cuma menawarkan 2 bahasa aja buat dipelajari. Ada cukup banyak bahasa yang bisa dipilih. Pilihan bahasanya dikategorikan sesuai dengan penutur bahasa pengguna. Sayangnya buat penutur bahasa Indonesia, yang ditawarkan hanya belajar bahasa Inggris.

Duolingo punya banyak pilihan bahasa

Duolingo punya banyak pilihan bahasa

Tapi kalau kamu bisa menggunakan bahasa Inggris, ada banyak bahasa lagi yang bisa kamu eksplor, misalnya Spanyol, Italia, Rusia, Perancis, Portugis, Belanda, Jerman, dan banyak lagi. Sayangnya saya masih nggak nemu bahasa Jepang atau Korea buat penutur bahasa Indonesia ataupun Inggris. *Padahal sudah gemes banget pengen lanjutin belajar bahasa Jepang.

Belajar bahasa rasa main game

Belajar bahasa pakai aplikasi ini berasa kayak main game. Kita nggak bakal dibombardir dengan deretan kata-kata beserta artinya dan harus ngapalin, lalu diberi kuis nanti. No no no.. metodenya lebih seru. Kita bakal langsung diberi pertanyaan tentang arti suatu kata, lalu ada pilihan jawaban yang berupa gambar. Jadi, bisa lebih ngena di kepala. Kuis dengan jawaban bergambar ini adalah basic dari tema tertentu. Ketika level makin meningkat, tentu gambar sudah nggak ada lagi, yang ada cuma pilihan jawaban tertulis.

Ini bagian quiz-nya

Ini bagian quiz-nya

Nggak cuma milih arti kata, kita juga akan belajar membuat frasa dan kalimat, serta menyusun kata. Secara otomatis, kita juga bakal terbiasa dengan tata bahasa dari bahasa yang sedang dipelajari. Setiap kata, frasa atau kalimat yang disebutkan, akan ada suara yang menunjukkan cara membacanya. Jadi, telinga kita juga lama-lama terbiasa dengan bahasa tersebut. Serunya lagi, nanti juga akan ada pertanyaan listening, jadi kita mendengar kalimat apa yang diucapkan, lalu tugas kita menulis kalimat yang diucapkan tadi. Bahkan, ada speaking nya juga, lho. Jadi nanti kita akan diberikan kalimat dan diminta untuk membacanya. Sementara duolingo nanti akan memeriksa apakah cara baca kita sudah benar. Mantap toh?

Kamu nggak hanya bisa milih satu bahasa. Kalau kamu mau, kamu bisa kok langsung belajar beberapa bahasa sekaligus. Kalau sudah agak bosan main satu bahasa, tinggal pilih ke pelajaran bahasa lain. Tapi yang perlu diingat, kalau satu bahasa lama nggak “dimainkan”, strength level dia bakal berkurang. Ya sama kayak belajar bahasa, kalau nggak pernah dipake kan bisa lupa. Jadi biar strength levelnya penuh lagi, kamu bakal perlu mengulangi beberapa materi yang sebelumnya yang diberikan.

Bisa milih banyak bahasa dan lihat progress-nya juga

Bisa milih banyak bahasa dan lihat progress-nya juga

Karena tekniknya seperti main game, ada peningkatan level, dan beberapa tema hanya bisa di “unlock” setelah naik level, main duolingo ini memang berasa seru banget. Nggak berasa kalo lagi belajar, seperti maen game biasa aja. Yah setidaknya bagi saya yang memang obsesi sama belajar bahasa. 😀

Aplikasi ini gratis, ads nya juga bukan yang suka tiba-tiba muncul di pop ups dan menuh2in layar, atau di lokasi yang susah banget ditutupnya. Jadi nggak mengganggu sama sekali. Jadi, buat sekedar main game dan nambah pengetahuan soal bahasa, aplikasi ini layak buat dicoba.