Mini Refreshing di Sela Tumpukan Pekerjaan

Finally! I came back!

Beberapa bulan terakhir terasa hectic banget buat saya. Target-target baru dan pekerjaan dengan deadline yang saling kejar-kejaran adalah salah satu yang membuat saya merasa agak kewalahan beberapa waktu terakhir ini. Jadi saya bahkan tidak punya energi atau ide untuk mengisi blog sesering yang saya harapkan. I’m not complaining though, because I obviously love my job and I have targets I’m working hard to achieve.

Tapi ya gitu, secinta-cintanya kita sama pekerjaan, terkadang akan ada masa ketika kita merasa overwhelmed. Lelah, kewalahan, dan ingin istirahat, atau bahkan mungkin ingin liburan, kabur sejenak. Maka saya memutuskan bahwa hari ini akan menjadi waktu bagi saya untuk unwinding myself atau refresh kembali keseharian saya.

Bicara soal refreshing atau unwinding my life, yang terlintas di pikiran kita terkadang adalah liburan, wisata, dan sejenisnya. Tapi sayangnya, untuk saat ini bagi saya having a long holiday is not my option yet. Meski begitu, belum bisa liburan panjang bukan berarti kita nggak bisa refresh ourselves kok.

Pagi hari saya awali dengan bangun jogging pagi yang sudah beberapa bulan saya lewatkan. Tanpa olahraga, saya memang merasa lebih cepat lesu dan mood saya gampang kacau. Mungkin karena itu juga beberapa bulan terakhir saya merawa kewalahan sekali dan gampang stress.

jogging

Jogging pagi [Image Source]

Dalam perjalanan ke dan dari track jogging, I drive slow. Saya memacu motor dengan santai, tanpa terburu-buru, sambil menikmati apa saja yang bisa saya lihat di sepanjang jalang. And it was fun! Nyetir tanpa rasa terburu-buru ingin cepat sampai membuat saya merasa lebih rileks. I didn’t get the pressure of wanting to be there as soon as possible or feel angry for bad drivers that cut me off or those drivers that drive too close to me. Nyetir jadi berasa lebih enak aja. Nggak ada stress di jalan.

Pulang jogging lanjut dengan mandi, sarapan, pasang musik, kemudian menata meja kerja.  I don’t know about you, tapi menata ulang meja kerja itu kegiatan yang seru buat saya. Saya bukan tipe yang menata meja kerja rutin setiap hari, jadi terkadang akan sedikit berantakan dan perlu ditata kembali. Terlebih lagi saya masih belum bisa menatanya sesuai keinginan saya pribadi karena saya masih tinggal dengan orang tua and have to share spaces. But hopefully my place will be ready soon and I can have my own space. Can’t wait! 😀

Saudara-saudara saya atau keponakan juga suka ‘nitip’ meletakkan barang/mainan mereka di meja saya. Kadang ini bikin sebel, tapi ya gak bisa komplain. 😀 Memang sih menata space saya pribadi jadi tidak optimal, but it works though. Setiap perubahan terkecil yang kita buat itu akan memberi pengaruh, kok. Dan justru dari hal-hal terkecil ini kadang kita bisa menyegarkan diri kita kembali.

Selesai menata ini itu, lanjut kerja lagi deh. Buat saya, refreshing nggak berarti harus nggak kerja sama sekali dalam sehari. Karena sebenarnya setelah sedikit penyegaran seperti menata meja dan jogging, saya sudah merasa siap lagi buat bekerja. Jadi saya lanjut deh kerja sampai siang sebelum akhirnya makan siang dan tiduran.

Sorenya, lanjut dengan menulis jurnal. Sudah lama sekali saya tidak menulis jurnal tentang apa yang saya inginkan, harapan, target-target, serta proyek-proyek yang sedang direncanakan. Beberapa tahun terakhir, saya cenderung membiarkan semuanya mengalir begitu saja dan nggak merencanakan apa-apa. My life have been good the past year meski saya nggak menulis jurnal, tapi saya jadi gampang kewalahan karena sering bingung dengan perkembangan yang tiba-tiba terjadi dan saya nggak tahu harus berbuat apa. Dengan menulis jurnal, harapan saya adalah saya jadi bisa mengantisipasi kemungkinan yang terjadi dan nggak bingung-bingung amat atau jadi merasa terlalu overwhelmed. Selain itu saya juga berharap agar rencana-rencana yang dibuat juga jadi bisa lebih terstruktur dan terlaksana dengan baik.

Buku

[Image Source]

Tentu saja hidup nggak selamanya berbunga-bunga, indah, dan kerja melulu.  I have personal problems too yang terkadang nggak bisa saya kendalikan. Tapi dengan berusaha mengendalikan dan menata aspek hidup saya lain, harapannya adalah  saya bisa lebih bahagia, dan sehat. Tapi jangan lupa bersyukur yah. Terlalu fokus mengendalikan hidup tanpa bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki dan capai juga pada akhirnya hanya akan membuat hidup kita seperti kegiatan ‘kejar-kejaran’ yang tidak jelas targetnya. Tanpa bersyukur, apapun yang kita capai tidak akan membuat kita puas karena selalu merasa ada yang kurang.

That’s all for the update folks because I have to get back to work. 😀

Stay happy and blessed. :*

Iklan

Satu Tahun Full Freelance, How Does It Feel?

Nggak kerasa udah satu tahun aja jadi seorang Full Freelancer. Ada banyak hal yang aku rasakan saat baru jadi freelancer, nggak melulu enak, kendala tetep ada juga. Kalau pengen tahu apa aja, bisa diintip di sini. Sejauh ini, nikmat dan enggaknya tetep sama dengan saat pertama kali terjun jadi freelancer. Tapi setelah satu tahun, ternyata masih ada kejutan-kejutan lainnya.

Saat pertama kali memutuskan freelance, saya punya keinginan untuk kerja sambil traveling. Pindah-pindah kota, biar bisa lihat banyak hal. Kan gampang sekarang kerjanya, tinggal nenteng laptop lalu berangkat. Sekalian belajar biar bisa lebih berani (Karena saya super pemalu dan penakut XD). Ternyata meski udah freelance, traveling tetap nggak segampang tinggal nenteng barang bawaan (setidaknya buat saya).

Ada banyak hal yang harus dipikirkan, mulai dari gimana menyesuaikan waktu perjalanan (yang otomatis gak bisa kerja maksimal) dengan deadline yang mepet, gimana atur waktu kerja di kota tujuan sekaligus jalan-jalan (karena kalau udah nyampe kota tujuan tapi ternyata tetep harus diam di satu tempat selama berjam-jam buat kerja adalah sia-sia), gimana kalau sedang jalan-jalan ternyata tiba-tiba dihubungi dengan pekerjaan urgent, dan seterusnya. Sepertinya saya nggak sanggup traveling sambil kerja. Karena saya ternyata tipe orang yang kalau main harus full main, kalau kerja harus full kerja. Nggak bisa main sambil kerja, atau kerja sambil main dijamin berantakan kerjaannya. 😀

Meski begitu, keputusan pengen liburan berapa lama dan berapa kali ada di tangan kita. Artinya, nggak perlu khawatir kena marah karena terlalu sering ambil cuti. Toh, pendapatan yang didapat sesuai dengan jumlah kerjaan yang dilakukan. Makin rajin kerja ya makin banyak, makin banyak liburan ya makin dikit pendapatannya. Simple.

Hal selanjutnya adalah, it’s fine to refuse a job, although it’s not easy at all. Ketika deadline makin banyak, kerjaan makin banyak berdatangan, it’s fine to refuse a job. Dulu di awal, saya selalu menerima segala job yang datang, berpikir bahwa saya punya cukup waktu atau karena merasa sungkan untuk menolak. Tapi yang seperti itu ternyata malah mempersulit diri sendiri. Selain jadi kurang tidur karena terlalu sering lembur, kadang kerjaan juga kurang bagus hasilnya.

Memang sih kadang menolak pekerjaan itu nggak gampang, karena rasanya sayang banget nolak pendapatan. Apalagi sumber pendapatan freelance memang berdasarkan jumlah klien yang kita dapat. Tapi daripada klien nggak puas karena kerjaan yang nggak maksimal atau kita yang jadi sakit karena kecapekan, mending negosiasi buat memundurkan deadline. Kalau nggak bisa, it’s okay to refuse it. Yakin deh, rejeki bisa datang dari mana aja kok.

Salah satu hal yang bikin saya puas dengan profesi saya sekarang adalah, I have time for taking a nap. Yup, siang hari adalah jam paling ngantuk buat saya. Sejak memutuskan mengurangi minum kopi, tidur siang sebentar jadi pilihan saya ketika mulai ngantuk dan loyo di siang hari. Pasalnya, waktu ngopi saya berasa seperti dipaksa melek, sedangkan kalau tidur siang, saya berasa seperti menerima reward setelah kerja dari pagi. Istirahatnya juga lebih lega, karena mata ikutan istirahat setelah lama melototin layar monitor. Ketika bangun tidur, badan dan otak sudah fresh lagi buat lanjut kerta. Meski bisa tidur siang, tetap saja nggak bisa keterusan molor. Istirahat tidur siang tetep dibatasi biar nggak keterusan sampai sore dan lupa dengan kerjaan.

Selanjutnya adalah status pekerjaan di mata masyarakat. Fakta bahwa saya lebih sering berada di rumah dan tidak berangkat pagi pulang sore seperti karyawan lainnya membuat saya sering dikira pengangguran. Yah tapi masalah ini sih gampang diselesaikan, asalkan yang mengira saya pengangguran memutuskan untuk bertanya. Yang susah itu kalau nggak tanya tapi lalu dijadikan gosip. 😀

Nah, itu tadi cuma sebagian hal yang saya rasakan setelah 1 tahun lebih jadi freelancer. Antara freelancer satu dan lain tentu nggak sama, karena disesuaikan dengan karakter dan cara kerja masing-masing individu. Meski begitu sejauh ini, saya ternyata tetap menikmati pekerjaan ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Belajar Mencintai Tubuh Kita Sendiri

Lama sekali rasanya saya nggak update cerita dan berbagi kisah di blog. Tapi hari ini saya kembali dan ingin berbicara mengenai low self esteem atau rendah diri. Saya bisa mengatakan bahwa sudah cukup lama saya merasa nggak percaya diri. Ada banyak ketidakpuasan yang saya rasakan, dan salah satu diantaranya adalah mengenai fisik, sesuatu yang bisa langsung dilihat oleh orang lain.

Sudah jadi rahasia umum bahwa kriteria ‘cantik’ yang sering kita dengar adalah perawakan yang ramping, hidung kecil dan mancung, dahi kecil, kulit putih, dan seterusnya. Sementara saya berada di spektrum yang berlawanan. Ditambah lagi dengan stigma yang dulu sering saya dengar (yang menurut saya jahat) bahwa “cantik/tampan itu relatif, sedangkan jelek itu mutlak”.

Kepercayaan diri

Belajar mencintai diri sendiri demi mengalahkan low self-esteem

Mengetahui semua itu, jelas saja saya nggak puas dan sering kali merasa iri dengan mereka yang cantik. Tapi, di saat yang sama, saya mulai menyadari banyak. Keadaan fisik yang nggak sejalan dengan kriteria umum tentang cantik ternyata juga nggak pernah menghalangi saya untuk menikmati hidup atau melakukan aktivitas sehari-hari. Saya tetap bisa bekerja, bergaul, melakukan apa saja. Saya punya tubuh yang lengkap dan berfungsi dengan baik, jadi mengapa tidak puas?

Sampai sekarang, saya masih punya banyak teman, dan orang-orang yang mencintai saya. Mereka juga nggak pernah mempermasalahkan bagaimana penampilan fisik saya. Bukankah berarti ada kualitas tertentu yang membuat mereka mau bersama saya? Sesuatu yang jauh lebih penting dan menarik dari sekadar penampilan fisik.

Memahami Bahwa Manusia Diciptakan Berbeda

Mari belajar menerima bahwa setiap manusia diciptakan dengan bentuk yang berbeda dan ingatlah bahwa ada beberapa bagian dari diri kita yang sebenarnya juga menarik. Mungkin kita mewarisi kulit gelap dari ayah, pinggul besar dari ibu, tapi lalu mengapa itu menjadi masalah? Menginginkan tubuh kecil, badan tinggi dan kulit putih pucat seperti seseorang yang bahkan tidak berasal dari ras yang sama dengan kita itu nggak realistis.

Sportsquad

Ini dia sportsquad saya. Teman-teman yang suka olahraga.

Berkumpul dengan Orang-orang yang Positif

Siapa orang di sekitar kita mempengaruhi cara kita memandang diri kita sendiri. Jadi, ada baiknya jika kita berkumpul dengan orang-orang yang mampu memberi semangat dan memperingatkan ketika mulai melenceng dari target untuk hidup lebih sehat. Kalau perlu, bisa sekalian membuat sportsquad, jadi kita lebih bersemangat saat berolahraga bersama. Berkumpul dengan seseorang berpandangan positif juga berarti mereka yang tidak akan menilai kita hanya dari penampilan fisik saja.

Memastikan Diri Selalu Bersih dan Rapi

Terkadang karena sudah terlalu lama merasa tidak percaya diri, sebagian orang jadi pasrah dan tidak mau berbenah. Menerima dan mencintai diri sendiri bukan berarti membiarkannya kita begitu saja. Justru mencintai diri sendiri berarti harus merawat kondisinya. Selain dengan cara menjaga agar tubuh tetap sehat, selalu berpenampilan rapi dan bersih juga bentuk bahwa kita peduli dengan tubuh kita.

Kita harus berhenti mengikuti anggapan populer tentang definisi normal, cantik, atau menarik dan lakukan hal yang benar dan baik untuk tubuh kita. Mari fokus pada hal yang lebih penting yaitu bahwa kita sehat dan tubuh berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya. 😀

Pertemanan Seharusnya Nggak Rumit dan Jangan Dibuat Rumit!

Bagi mereka yang kenal betul dengan saya, mereka tahu betapa awkward alias canggungnya saya ketika harus bertemu orang baru atau bersosialiasi. Tapi, ternyata kecanggungan seperti itu pelan-pelan bisa dikurangi dan sekarang saya bersemangat setiap kali diajak ngumpul bersama teman-teman atau kenalan dengan orang-orang baru. Dari banyak cerita dan pengalaman yang akhirnya saya temui sepanjang perjalanan membuat sebuah hubungan pertemanan dan berusaha memperbaiki pertemanan, saya akhirnya paham bahwa berteman itu sebenarnya nggak rumit dan memang nggak perlu dibuat rumit.

Kadang, kita sendiri yang membuat pertemanan itu menjadi rumit. Banyak dari kita menyamakan pertemanan dengan kegiatan bersama-sama, merayakan sesuatu bersama-sama, semua harus serba bersama-sama. Interaksi seharusnya tidak menunggu ada perayaan atau kegiatan bersama yang melibatkan kita saling bertemu satu sama lain. Sebenarnya juga tidak apa-apa sih, tapi teman nggak akan membutuhkan alasan untuk menemui satu sama lain dan mencari kabar mereka.

Kerumitan lainnya muncul ketika ada perselisihan antara kita dengan teman. Yang banyak terjadi, biasanya kita cenderung mendiamkan masalah daripada membicarakannya karena merasa tidak enak. Kadang kita sering lupa bahwa mendiamkan masalah itu nggak akan membuat masalah menjadi selesai begitu saja. Bahkan sering kali akhirnya malah semakin bergulir dan menghasilkan masalah yang lebih besar lagi dan hubungan pertemanan putus tiba-tiba. Jangan sampai ini terjadi!

pertemanan-tidak-perlu-rumit

Kadang yang kita perlukan saat menghadapi jalan buntu dengan teman adalah membicarakannya. One on one, face to face, saling berhadapan langsung dengan membicarakan pokok permasalahannya dengan orang yang terlibat. Dengan demikian, kita bisa langsung saling terbuka dengan apa sebenarnya yang menjadi masalah tanpa perlu ada salah paham. Masalah yang sebenarnya hanya di antara dua orang, harus selesai di antara dua orang itu saja. Nggak perlu ada orang ketiga, keempat, kelima, atau bahkan kesekian. Percaya atau nggak, ketika kita membicarakan rasa nggak enak terhadap seorang teman dengan orang lain, belum tentu juga hal tersebut akan membantu menyelesaikan permasalahan. Kecuali jika apa yang kita anggap penyelesaian adalah memutuskan pertemanan dengannya.

Nggak jarang juga, ketika kita ‘curhat’ dengan orang yang nggak tepat tentang masalah tersebut, yang ada malah membuat kita semakin merasa kesal atau marah. Bisa jadi karena orang yang kita curhati juga sebenarnya punya masalah dengan teman kita tadi. Sehingga pendapatnya menjadi bias dan cenderung memojokkan. Tapi apapun itu, kita juga harus fair dalam memperlakukan teman yang punya masalah dengan kita tadi. Masalah kita dengannya, harusnya tidak ada hubungannya dengan masalah orang lain dengan teman kita tersebut. Jangan sampai mencampuradukkan masalah dari dua orang kalau nggak mau masalah kita tersebut makin ribet, ruwet, dan rumit.

ice-cream-date

Terjebak dalam situasi dimana kita harus memusuhi seseorang dan menjadikannya “mantan” teman itu sama sekali tidak menyenangkan. Apalagi sampai harus berpura-pura baik-baik saja saat bertemu sementara sebenarnya ada masalah besar yang mengganjal. Bukankah lebih baik untuk segera menghilangkan ganjalan tersebut? Komunikasi, menghargai, dan berani meminta maaf, harusnya bisa membantu menjaga sebuah hubungan pertemanan.

Pertemanan sebenarnya tidak harus rumit, meski kadang kita sendiri yang tanpa sadar membuatnya menjadi rumit. Karakter dan sifat orang memang berbeda-beda, tapi toh kita punya rasa toleransi dan penghargaan yang harusnya bisa menjembatani perbedaan, bukan?

 

 

Ketika Pacar Kamu Nggak Tertarik Valentine, Apa Sih Tindakanmu?

Memasuki bulan Februari, kebanyakan orang sepertinya sudah langsung teringat dengan satu hari istimewa yaitu valentine. Entah mereka merayakan hari kasih sayang itu ataupun nggak, setuju dengan perayaannya atau bahkan menolaknya. Buat yang sedang kasmaran, biasanya sih memang sudah akan menunggu-nunggu hari istimewa ini buat merayakannya dengan pasangan. Tapi, ternyata juga nggak semua orang tertarik dengan hari kasih sayang ini.

Pasangan yang nggak tertarik dengan hari valentine juga kadang jadi salah satu pemicu pertengkaran. Misalnya si cewek pengen sesuatu yang istimewa di hari valentine, eh pacarnya nggak tertarik yang seperti itu. Jadilah muncul pertengkaran cuma gara-gara si cewek merasa tidak cukup diperhatikan atau dicintai. (Been there, done that. Hehe.. Maaf ya mas pacar. Jangan marah ya :D). Tapi, masak sih tolak ukur kasih sayang itu cuman dari kado valentine?

Jadi begini, usut punya usut, ternyata, sesungguhnya (halah!), cuma karena si dia nggak mau merayakan valentine, bukan berarti dia nggak sayang sama kita atau kadar cinta mereka cuma receh. Justru kalau kita cuma menilai kadar cinta mereka dari perayaan valentine, jangan-jangan cinta kita ke mereka yang cuma receh? Toh si pacar selalu punya rasa kasih sayang dan cinta yang mereka tunjukkan lewat perbuatan mereka ke kita selama ini? Ya kan.. ya kan…?

pacar-nggak-suka-valentine

Foto waktu main by mas (c) Boni Sutanto

Kalau si dia memang nggak suka valentine, ya sudah, berkompromilah. Kalau memang pengen semacam perayaan, ya rayakan dengan sahabat dan keluarga. Toh cinta itu juga bukan cuma buat pacar, kan? Nggak masalah kalau si dia nggak pengen ikutan gabung kamu dan teman-temanmu bersenang-senang, kamu bisa membiarkannya menikmati hari dengan caranya sendiri di hari valentine tersebut. Dengan begini, kan semua sama-sama senang, kan?

Mungkin bagi sebagian orang, valentine yang terlalu dikomersilkan inilah yang membuat jengah. Seolah-olah valentine itu harus memberi kado, bunga, cokelat, makan malam romantis, dan sejenisnya. Padahal, merayakan hari valentine juga sebenarnya nggak harus gitu-gitu amat. Karena cinta kan harusnya memang nggak melulu soal hadiah-hadiah dan kado-kado semacam itu?

gambar-hati

Kadang pertengkaran gara-gara valentine ini terjadi karena satu pihak memang bersifat romantis, sementara pasangannya cenderung selow alias biasa saja atau bahkan hampir cuek. Nah, tapi kita pasti sudah mengenal bagaimana pasangan kita kan, sayang sekali jika kita memicu pertengkaran karena nggak mau berkompromi gara-gara satu hari ini.

Sebenarnya, kalau kita percaya bahwa dia mencintai kita, kita nggak akan terlalu peduli apakah dia melakukan sesuatu yang istimewa untuk kita di hari tertentu. Karena toh dia selalu ada buat kita setiap harinya, bukan?

 

Belajar Lebih dengan Mengurangi Bicara dan Perbanyak Mendengar

Mereka yang sudah kenal baik dengan saya, tahu betul bahwa saya bisa sangat cerewet dan suka sekali bicara. Meskipun kadang saya bisa sangat pemalu dan diam saja jika bertemu dengan orang-orang baru. Tapi siapa sangka, ternyata dengan diam dan lebih banyak mendengar, ada lebih banyak hal yang bisa didapatkan.

Beberapa tahun lalu, saya bertemu seseorang yang tidak banyak bicara dan lebih suka diam. Saat itu kami sedang duduk bersama dan mendengar sekelompok orang bicara, dia bertanya pada saya, kenapa mereka rebutan membicarakan diri mereka sendiri, kenapa mereka terus bilang saya, saya, saya, saya? Saat itu kami berdebat kecil karena saya tidak setuju dengannya. Tapi semakin kesini, sepertinya saya semakin paham dengan apa yang ia bicarakan saat itu.

Hal yang kurang lebih sama juga diceritakan salah satu teman saya yang lain baru-baru ini. Teman saya yang menurutnya dulunya lebih suka didengar daripada mendengar ini mengatakan bahwa ternyata banyak hal yang ia dapatkan dengan mendengarkan dengan baik apa yang dibicarakan orang lain.

pexels-photo-29672

Mendengar membantu kita memahami orang lain

Saat kita diam dan mendengarkan orang lain bicara, terkadang kita bisa belajar dari apa yang mereka ceritakan. Bahkan meskipun yang didengar adalah curhatan seseorang tentang masalah mereka. Setidaknya kita jadi paham, ternyata ada orang yang memiliki masalah yang lebih rumit dari masalah kita. Atau mungkin ketika mereka menceritakan kesuksesannya, kita jadi tahu bahwa ada banyak orang-orang hebat di luar sana, jadi kita tidak punya alasan untuk menjadi congkak. Seperti kata pepatah yang sudah banyak didengar tapi sulit dipraktekan, “diatasnya langit, masih ada langit”.

Dengan diam dan berpikir terlebih dulu, kita terhindar dari mengatakan hal-hal yang nantinya mungkin akan kita sesali. Kadang tidak sadar kita ingin mengambil kesempatan bicara sebelum orang lain. Akhirnya kita asal bicara tanpa benar-benar memahami apa yang kita bicarakan atau mengapa kita harus membicarakannya. Hasilnya? Ya kita tidak benar-benar didengarkan, atau yang lebih buruk, kita mengatakan hal yang seharusnya tidak boleh kita ucapkan.

Mendengar juga berarti memungkinkan kita untuk “meminjam” sudut pandang si pembicara untuk sejenak dan memahaminya apa yang mereka bicarakan. Selanjutnya, kita juga memiliki waktu untuk membiarkan mereka selesai bicara sekaligus memikirkan versi sudut pandang kita sendiri. Jadi, kita tidak terburu-buru membuat kesimpulan yang bisa jadi salah gara-gara kita terburu-buru merespon dan tidak benar-benar memahami apa yang dibicarakan orang lain.

pexels-photo-38940

Kalau ingin didengar saat bicara, sudah saatnya kita mendengar lain orang bicara, kan?

Kadang waktu kita ngobrol dan saking asyiknya bercerita, kita lupa untuk benar-benar mendengarkan. Kita ingin ikut berbicara dan membagi apa yang kita ketahui, atau bahkan menunjukkan apa yang kita ketahui. Memang, jadi pusat perhatian itu bisa menyenangkan, tapi egois sekali kita kalau cuma ingin didengarkan tapi tidak mau mendengar?

Sebagai seseorang yang cerewet dan ceriwis, saya paham betul banyak hal penting dan istimewa yang tidak sadar telah saya lewatkan selama ini. Seandainya dulu saya lebih banyak mendengar, dan tidak banyak bicara, pasti banyak hal yang berbeda saat ini. Tapi ya begitulah manusia. Kadang kita memang perlu menengok ke belakang, melihat apa yang telah kita lakukan, dan mulai memperbaiki apa yang salah. Karena kalau tetap melakukan kesalahan yang sama ya bebal namanya. 😀

 

 

Bersosialisasi, Salah Satu Perjuangan Freelancer yang Kadang Terlupakan

Bekerja freelance di rumah yang tidak perlu ke kantor can be heaven at times. Bagaimana tidak, kita tidak perlu bingung buru-buru berangkat ngantor pagi-pagi, kena macet, kalau ngantuk tinggal merem, tidak pusing milih baju yang mau dipakai, bahkan kalau mau, tidak usah mandi sekalian juga tidak akan ada yang tahu atau protes.

Meski begitu, kehidupan freelancer tidak selamanya berbunga-bunga, ada banyak juga ngeri-ngeri sedapnya freelancer yang harus diperjuangkan. Salah satunya adalah bersosialisasi alias hangout alias bertemu dengan kawan-kawan.

Kerja yang tidak perlu ke kantor kadang bisa bikin kita jadi jarang ke luar rumah, apalagi bersosialisasi. Saat masih ngantor, kita masih bisa ketemu banyak interaksi sosial secara langsung dengan rekan kerja. Tapi begitu kita bekerja di rumah, interaksinya jadi hanya lewat dunia maya. Waktu bersosialisasi juga makin berkurang.

 

kerja-di-rumah

Kerja di rumah kadang bikin kesepian

 

Hal inilah yang sangat saya rasakan setelah beberapa kali sempat menjadi orang yang kerjanya tidak ngantor. Beberapa tahun lalu saat masih kerja di rumah, saya hampir tidak pernah ke luar rumah untuk sekadar ngumpul atau bertemu teman-teman. Jelas efeknya terasa sekali, mulai dari perlahan kehilangan teman gara-gara dikira sombong atau tidak mau bergaul, sampai jadi stress sendiri karena tidak punya teman bicara.

Dari situ saya belajar bahwa kali ini, meski bekerja freelancer dan tidak perlu ngantor, setidaknya meluangkan waktu untuk bersosialisasi itu jelas sangat perlu. Tidak melulu harus ngafe (karena kalau keseringan juga bikin boros. :D), bisa juga olahraga bareng, atau main ke rumah atau kosan teman-teman.

Jadilah saya mulai datang di acara-acara reuni (yang dulunya hampir tidak pernah mau ikut), ngumpul bersama teman-teman, ikutan nonton konser (untuk pertama kalinya!), nginep di kosan teman-teman, hingga olahraga bareng. Lalu perbedaan apa yang saya rasakan? Banyak!

 

bersosialisasi

Momen hangout bareng teman yang diabadikan. 😀

 

Stres kerjaan itu bisa dikatakan tidak terlalu terasa. Saya juga memiliki banyak teman ngobrol dan diskusi yang banyak menambah motivasi, wawasan, bahkan ide-ide baru. Ngumpul dan bersosialisasi bareng teman-teman juga membuat saya jadi bisa menambah koneksi dan memperbaiki hubungan-hubungan lama yang sempat renggang. Intinya, saya justru bisa semakin merasa lebih positif.

Buat saya yang dulunya selalu takut ngomong dengan seseorang, hangout dan ngumpul bareng teman jelas langkah besar. Tapi pelan-pelan, berkat saran dari teman-teman dan motivasi mereka juga, saya akhirnya berani ngomong, mengungkapkan pikiran dan perasaan, bahkan ngobrol dengan orang baru.

Nah, untuk alasan-alasan inilah, saya bakal tetep rutin ikut olahraga bareng dan ngumpul bareng, asalkan tidak ada deadline yang mendesak harus selesai hari itu juga. 😀