[Review] Cosrx Low pH Good Morning Gel Cleanser

Lama sekali rasanya saya tidak menulis soal review skincare. Salah satu alasannya adalah dalam beberapa bulan terakhir saya memang tidak terlalu gonta-ganti skincare. Tapi itu artinya, review kali ini seharusnya bisa lebih mendalam karena saya sudah pakai produk gel cleanser ini untuk waktu yang lumayan lama, sekitar 5 bulanan. Oh ya, jadi hari ini, saya mau review Cosrx Low PH Good Morning Gel Cleanser.

Kalau kamu sudah pernah baca review skincare saya sebelumnya, kamu tentu tahu kalau sebelumnya saya membersihkan wajah pakai Corine de Farme Micellar Cleansing Foam. Nah, setelah mulai habis, saya kenal produk Korea bernama Cosrx. Konon kabarnya serangkaian produk dari Cosrx ini bagus untuk kulit yang sering bermasalah, jadi saya mencoba beli cleansernya dulu. Sejauh ini sudah ada beberapa produk Cosrx yang saya pakai, tapi di tulisan kali ini saya akan fokus membahas Cosrx Low PH Good Morning Gel Cleanser.

Cosrx Low PH Good Morning Gel Cleanser
Cosrx Low PH Good Morning Gel Cleanser 150 ml

Pertama kali gel cleanser ini sampai di tangan saya, lumayan kaget dan seneng juga sih. Karena ternyata tubenya cukup besar, isi 150 ml. Menurut tulisan di bagian belakang wadah, sabun ini memiliki pH yang rendah, tujuannya adalah menjaga kadar pH kulit berada di batas yang optimal. Nah, pH kulit yang optimal ini membantu melindungi lapisan kulit sehingga bakteri tidak gampang tumbuh. Karena formulanya yang ringan, gel cleanser ini cocok untuk dipakai di pagi hari, tapi saya sih tetap memakainya pagi dan malam.

Teksturnya berupa gel bening yang ringan dan tidak terlalu kental. Busanya juga tidak terlalu banyak, jadi untuk kamu yang suka sabun berbusa banyak, mungkin akan agak mikir-mikir lagi kalau ingin pakai ini. Biasanya saya tidak memakai terlalu banyak produknya, karena meskipun tidak terlalu berbusa, sedikit saja sudah cukup untuk dipakai di seluruh wajah. Aromanya mirip tea tree, ya tapi karena sabun ini memang punya kandungan tea tree. Meski begitu, aromanya tidak terlalu mengganggu buat saya.

Saat dipakai, cleanser ini terasa lembut di kulit dan tidak membuat kulit berasa ketarik. Muka juga terasa benar-benar bersih dan tidak terasa seperti ada residu atau lapisan yang tersisa. Rasanya kotoran yang tadinya nempel benar-benar hilang semua, tapi kulit tetap terasa lembut dan enak atau nyaman. Hmm, susah mendeskripsikannya. Ya gara-gara Cosrx Low PH Good Morning Gel Cleanser ini, saya terpaksa tidak setia dengan Corine de Farme yang sebelumnya sempat jadi favorit saya itu. Hehehe…

Cosrx Low PH Good Morning Gel Cleanser
Teksturnya gel bening yang tidak terlalu kental

Setelah lima bulan pemakaian, saya memang sudah tidak melihat jerawat dan bekas jerawat lagi di muka saya. Tapi tentu saya tidak memakai khusus gel cleanser ini saja, saya juga pakai beberapa produk lain yang ternyata cukup membantu. Tapi saya bahas di postingan blog selanjutnya saja ya. 🙂 Intinya, produk ini memang cukup bagus untuk membersihkan muka. Karena teksturnya yang ringan, ada baiknya cleanser ini dipakai untuk second cleanser saja jika kamu rajin pakai make up. Jadi bersihnya bisa lebih optimal. Atau, sesuai namanya, pakai di pagi hari saja.

Karena keseharian saya jarang keluar rumah dan tidak terlalu memakai make up, biasanya saya tidak sampai pakai first cleanser dan second cleanser. Cuma pakai cleanser ini saja biasanya sudah cukup, sudah tidak terlalu ada residu kotoran lagi. Dua tahap membersihkan muka seperti itu biasanya cuma saya lakukan setelah saya keluar rumah atau pakai make up saja.

Kesimpulannya, Cosrx Low PH Good Morning Gel Cleanser ini cukup oke untuk membersihkan wajah, tapi karena formulanya ringan, dia tidak terlalu kuat untuk membersihkan wajah yang bermakeup. Jadi bersihkan dulu pakai first cleanser sebelum memakainya. Meski begitu, gel cleanser ini terasa nyaman dan ringan saat dipakai dan membuat kulit terasa bersih, jadi buat saya it’s a plus karena saya tidak suka sabun yang meninggalkan residu atau membuat kulit terasa ketarik.

Kamu ada yang sudah pernah mencoba gel cleanser ini?

 

 

Iklan

Menjadi Makin Kreatif dan Produktif dengan Lingkungan dan Kegiatan yang Tepat

Sebagai seorang generasi milenial sekaligus seorang freelancer, saya sering dapat pertanyaan atau bahkan tuduhan bahwa pekerjaan saya tidak jelas. Ya tidak jelas kapan kerjanya, kapan liburnya, atau bahkan berapa gajinya. Tapi tidak apa-apa, bagi saya, itulah uniknya milenials dan freelancer. Kita punya rasa penasaran tinggi, mengejar passion, dan berusaha bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Sejak saya memutuskan berhenti dari pekerjaan kantoran dan banting setir menjadi seorang freelancer selama hampir 3 tahun yang lalu, ada banyak hal yang akhirnya membuka mata saya. Selama itu pula, ada banyak hal baru yang saya pelajari setiap harinya yang (semoga) dapat membantu saya berkembang lebih baik.

Menurut saya, ketika seseorang memutuskan untuk menjadi seorang freelancer, hal yang harus terus kamu kembangkan adalah kreatifitas dan produktivitas. Dua hal ini yang akan membuatmu mampu bertahan di antara banyak freelancer lainnya. Tapi seperti yang sudah banyak orang ketahui, menjaga agar tetap kreatif dan produktif itu kadang tidak mudah. Apalagi ketika kamu terus berdiam diri di rumah saja dan pekerjaanmu memang tidak mengharuskanmu untuk keluar rumah.

Nah, oleh karena itu, dalam postingan kali ini saya akan mengajak untuk berbagi tips agar makin kreatif dan produktif sebagai seorang milenial freelancer.

Memulai Hari dengan Hal yang Paling Penting

Bagi sebagian orang, dengan bekerja sebagai seorang freelancer maka kita bisa bangun siang dan memulai pekerjaan kapanpun kita suka. Bahkan tepat setelah bangun tidur, kita bisa langsung membuka laptop, membalas email, dan mulai bekerja. Tapi jika kamu ingin lebih produktif dan tidak terkesan dikejar-kejar dengan begitu banyak pekerjaan, maka mulailah hari dengan fokus dengan hal terpenting, yaitu dirimu sendiri.

(c) pexels.com

Sebelum kamu mulai bekerja, pastikan kamu membangun energi dan semangatmu di pagi hari. Bangun pagi, buka jendela dan biarkan udara masuk menyegarkan ruanganmu. Kamu juga bisa melakukan sedikit olahraga ringan atau stretching untuk membuat tubuhmu rileks dan bersemangat. Jangan lupa juga untuk menyiapkan sarapan yang sehat dan minum banyak air putih!

Kamu juga bisa memulai hari dengan membaca buku selama beberapa menit, meditasi, atau sekadar menikmati teh. Apapun itu, mulailah hari dengan fokus pada hal terpenting yaitu dirimu sendiri. Lakukan hal yang membuatmu senang dan bersemangat serta siap untuk mulai bekera.

Membuat Jadwal

Oke, kebanyakan dari kamu mungkin berpikiran ingin bekerja freelance demi bebas dari jadwal yang mengikat. Lalu mengapa sekarang malah harus membuat jadwal? Nah, membuat jadwal sebenarnya justru diperlukan agar kamu tetap termotivasi dan bisa mengatur waktumu dengan efektif. Jangan sampai kamu melompat-lompat di antara beberapa pekerjaan dan tugas rumah karena kamu tidak tahu mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

(c) pexels.com

Cara yang biasa saya lakukan adalah membuat daftar dan jadwal pekerjaan. Di pagi hari, tulis beberapa hal yang perlu kamu lakukan baik yang berhubungan dengan pekerjaan, tugas rumah, atau bahkan kegiatan hangout dengan teman dan pasangan. Selanjutnya, susun berdasarkan tingkat kepentingannya. Mana yang harus segera dikerjakan secepatnya, yang harus dikerjakan hari itu namun tidak terburu-buru, dan mana yang memiliki tingkat kepentingan paling kecil.

Menuliskan semua hal yang perlu dilakukan tersebut akan membantumu memvisualisasikan hal-hal yang perlu kerjakan dan memperhitungkan waktu yang kira-kira kamu butuhkan untuk menyelesaikan masing-masing tugas. Jadi, kamu tidak perlu lagi melompat-lompat atau pekerjaan atau bahkan multitasking untuk menyelesaikan semua pekerjaan tersebut. Multitasking memang terlihat seperti kamu bekerja cepat untuk menyelesaikan beberapa hal sekaligus. Tapi, apakah hal tersebut efektif? Pasalnya, fokus melakukan satu hal sampai selesai terkadang justru lebih menghemat waktu dan membuatmu lebih teliti saat mengerjakannya.

Ikut Komunitas yang Bermanfaat

Salah satu kendala sebagai seorang freelancer yang saya rasakan adalah sulitnya memiliki kehidupan sosial yang bisa memacu dan memberi semangat. Tanpa rekan kerja, satu-satunya cara saya bisa bersosialisasi adalah membuat janji dengan teman-teman setelah mereka pulang kerja. Tapi tentu saja, hal ini ternyata tidak terlalu mudah karena kebanyakan dari mereka biasanya juga sudah lelah atau malah mungkin harus lembur bekerja.

(c) Pexels.com

Salah satu hal yang saya lakukan untuk menjaga agar saya tetap bersosialisasi dengan baik dan membantu perkembangan saya adalah dengan ikut komunitas. Dengan cara ini, kita bisa saling sharing, mendukung atau memberi tips agar bisa semakin maju bersama-sama. Selain itu, berkumpul dengan orang-orang yang tepat juga akan membantu kita mendapatkan ide, pemikiran, atau ilmu baru yang akan tetap membuat kita kritis dan kreatif.

Saat ini, saya mengikuti komunitas bloggerngalam yang memang cukup produktif. Komunitas ini berisi para blogger yang ada di kota Malang. Lewat komunitas ini, saya jadi punya akses untuk berkunjung ke laman blogger-blogger lain yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Setiap bulan bloggerngalam juga akan mengadakan kegiatan gathering di Ngalup Coworking Space dengan berbagai topik tentang dunia blogging, belajar mengenai penulisan, adsense, berbagi informasi, dan banyak lagi.

Bergabung di Acara Gathering, Sharing atau Seminar

Bekerja freelance seharusnya justru menjadi kesempatan buat kita. Karena dengan pekerjaan yang cukup fleksibel ini, kita bisa ikut berbagai macam acara gathering, sharing, ataupun seminar yang tentu akan membuat kita makin kreatif.

Di kota Malang, saya tidak pernah kesulitan mencari acara gatheringsharing, ataupun seminar. Pasalnya, ada coworking space yang sering sekali menjadi rujukan tempat diadakannya acara-acara bermanfaat seperti ini. Satu tempat yang selalu saya “mata-matai” adalah Ngalup Coworking Space. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, bloggerngalam punya acara sharing rutin di tempat ini setiap bulannya. Jadi, sebisa mungkin saya akan selalu ‘terlihat’ di acara-acara tersebut mengingat salah satu minat saya memang di dunia blogging.

ngalup coworking space
Acara Workshop Bloggerngalam di Ngalup Coworking Space

Selain kegiatan yang bekerja sama dengan bloggerngalam, ada banyak event sharing lain yang digelar di sini. Beberapa waktu lalu sempat ada Songwriting Class and Sharing Session dengan Atlesta sebagai pembicara. Lalu setiap weekend,  ada kegiatan sharing dari Gapura Digital dengan topik-topik yang keren dan bisa membangun kreatifitas para milenial. Jadi, acara-acara seperti ini sesuai dengan para milenial yang sering dianggap sebagai generasi yang selalu punya rasa ingin tahu dan selalu ingin belajar hal-hal yang baru.

Nah, karena namanya coworking space, tempat ini juga bisa kamu jadikan rujukan jika bosan bekerja di dalam rumah terus. Tempatnya ditata dengan menarik mirip kantor pada umumnya, namun dengan warna-warna cerah yang tidak akan membuatmu merasa bosan. Cocok untuk para pekerja kreatif yang selalu berusaha mencari inspirasi.

[Review Novel] Aroma Karsa: Tangan Dingin Dee Lestari Mengeksplorasi Aroma

Sakit usus buntu yang mengharuskan saya dirawat inap selama beberapa hari ternyata memiliki berkah tersendiri. Saya akhirnya berhasil menyelesaikan novel Aroma Karsa karya Dee yang sebenarnya sudah beberapa bulan lalu saya terima dan terpaksa tersimpan di rak buku. Setelah sempat terdistraksi oleh berbagai macam hal, akhirnya ada juga kesempatan untuk menyelesaikan novel yang cantik ini.

Novel setebal 696 halaman ini becerita tentang sosok Jati Wesi yang memiliki kemampuan hidung yang luar biasa. Ia mampu mencium aroma secara mendetail, bahkan hingga aroma yang tidak tercium oleh orang kebanyakan. Atas kemampuannya itulah, pria yang tumbuh di TPA Bantar Gebang ini kemudian mendapatkan julukan si hidung tikus.

Kemampuan hidungnya ini ternyata membawanya bertemu seorang pengusaha parfum besar bernama Raras Prayagung dan putrinya, Tanaya Suma. Suma ternyata juga memiliki kemampuan penciuman yang mirip dengan Jati Wesi, hanya saja dia tidak tahan dengan sembarang bau, tidak seperti Jati. Ketiga tokoh ini kemudian saling terkait dalam usaha mencari bunga legendaris Puspa Karsa yang tertulis dalam lontar dan prasasti kuno. Ditambah lagi dengan teka-teki asal-usul Jati Wesi dan Tanaya Suma, maka terciptalah sebuah novel yang misterius, apik, sekaligus penuh petualangan.

Sama seperti serial novel Dee Lestari yang terdahulu yaitu Supernova, novel Aroma Karsa ini juga lebih bersifat fantasi. Bisa dibilang novel ini berjalan dengan lambat mengingat hampir separuh halamannya berkutat tentang pengenalan sosok Jati dan konfliknya dengan Tanaya Suma. Meski demikian, hal tersebut disampaikan dengan runut dan perlahan memuncak menuju konflik utama. Pembaca tidak akan bosan membaca novel yang banyak bercerita tentang aroma dan bau-bauan.

Salah satu hal yang menarik adalah, membaca novel ini membuatmu ingin menghirup napas dalam-dalam. Bagaimana tidak, semua aroma digambarkan dengan begitu mendetail sampai-sampai saya juga ingin mengenali aroma apa yang ada di sekitar saya saat itu (tentunya aroma khas rumah sakit mengingat saya sedang dirawat di sana saat membaca novel ini. 😀 ). Tapi, sebegitu dahsyatnyalah gaya menulis Dee Lestari yang begitu jelas, puitis, sekaligus deskriptif.

Untuk pengerjaan novel ini, Dee Lestari telah melakukan riset sejak tahun 2016. Di terjung langsung ke TPA Bantar Gebang, pabrik Mustika Ratu, serta mencari informasi sebanyak-banyaknya dari para narasumber. Semua kerja keras riset tersebut, digabungkan dengan kemampuan menulis Dee Lestari yang memang sudah tidak perlu diragukan lagi, maka lahirlah karya menarik Aroma Karsa.

Maaf reviewnya pendek, pinggang masih sakit 😀

Kamu sudah baca belum?

Tetap Berekspresi Tanpa Berusaha Membuat Kagum

Express without having to impress, atau ‘berekspresi tanpa harus membuat kagum’.

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan ekspresi tersebut dan merasa aneh dengan konsepnya. Setahu saya, seseorang berekspresi karena ingin diakui, mendapatkan validasi, atau sederhananya adalah membuat orang lain kagum. Untuk apa seseorang memotret foto, seorang pemusik menciptakan lagu-lagu indah, seorang penulis menuturkan sebuah cerita selain untuk membuat para penikmatnya ternganga kagum?

Beberapa orang mungkin akan merasa bahwa apa yang kita buat sudah selayaknya mendapat apresiasi yang demikian. Untuk mendapatkannya, kita mempelajari orang di sekitar yang akan melihat karya dan diri kita, kira-kira hal seperti apa yang mereka inginkan dan apa yang akan membuat mereka kagum dengan karya atau diri kita? Tanpa disadari, kita menciptakan sesuatu by demand alias ‘atas permintaan’ agar mereka yang ada di sekitar mampu mengagumi apa yang kita ciptakan, tampilkan, ekpresikan.

Sesuatu yang ‘by demand’ bukanlah hal yang buruk, apalagi jika memang berkecimpung di dunia bisnis, di mana hubungan jual beli terikat dengan supply dan demand. Tapi, sayang sekali jika pada akhirnya segala aspek hidup kita menjadi seperti bisnis yang bergantung pada supply dan demand.

Ingin tampil hebat, keren, dan sukses adalah hal yang normal, lagipula, siapa yang tidak ingin demikian? Hanya saja, banyak juga yang menginginkan hal ini karena ingin membuat orang lain kagum, entah itu teman, keluarga, atau bahkan orang yang dibenci. Anehnya, mengapa kita merasa perlu membuat orang lain kagum sementara orang lain tersebut belum tentu memperhatikan atau memikirkan kita.

Beberapa orang mungkin merasa perlu membuat orang lain kagum karena mereka merasa insecure dengan diri sendiri, tidak percaya diri sehingga selalu berusaha membuktikan dirinya. Bisa juga karena selalu membandingkan diri dengan orang lain, untuk menunjukkan bahwa dirinya termasuk dalam suatu kelompok tertentu dan agar diterima oleh orang lain.

Bayangkan, betapa lelahnya jika kita harus terus menerus berusaha membuat orang lain kagum, hidup di atas status ekonomi yang dimiliki sebenarnya, terus saja memberi makan ego, atau bahkan tampil seperti sosok yang sebenarnya sama sekali bukan diri kita sendiri demi diterima atau diakui oleh seseorang yang bahkan belum tentu peduli bahwa kita ada.

Status sosial sepertinya telah menjadi tujuan sekaligus momok bagi banyak orang. Kita berlomba-lomba untuk mencapai definisi status kelas atas, ingin menjadi sosok yang berada di atas orang lain di lingkaran kita. Hanya saja yang jarang kita ingat, ‘lingkaran’ tersebut tidak akan pernah ada habisnya. Ketika kita berhasil mengungguli lingkaran lingkungan tersebut, maka kita akan menemukan lingkaran baru yang berisi orang-orang baru dengan pencapaian yang jauh di atas kita. Maka kita akan kembali berjuang melewati lingkaran tersebut lagi. Begitu seterusnya sampai kita mungkin tidak akan lagi puas dengan apa yang kita kerjakan dan miliki.

Mengapa kita tidak melakukan atau membuat sesuatu yang kita suka? Toh pada akhirnya, kita akan menarik orang-orang dan lingkaran yang tepat dengan berekspresi sesuai dengan siapa kita dan bagaimana diri kita sebenarnya tanpa perlu kelelahan berbuat sesuatu yang jauh dari jati diri kita sebenarnya.

‘We will find the right people when we stay true to ourselves’

 

 

Mengapa Terkadang Kita Perlu Menjauh dari Kompetisi?

Hello again! Sudah lumayan lama sejak postingan blog terakhir. Jika terakhir kali saya mencoba bercerita tentang definisi sukses, kali ini saya ingin bercerita tentang sifat kompetitif. Sesuatu yang entah disadari atau tidak sebenarnya selalu mengiringi setiap langkah kita di dunia kerja, bahkan hidup sehari-hari. Oh atau mungkin dalam keluarga kita sendiri.

Ada kalanya kompetisi memang diperlukan untuk memastikan kita tetap punya target dan motivasi. Pasalnya, dengan kompetisi dan persaingan, kita jadi terpicu untuk selalu berinovasi dan melakukan sesuatu yang lebih baik lagi. Hanya saja, kadang kita terlalu fokus pada kompetisi dan persaingan, sampai lupa bahwa tidak semua hal perlu dijadikan ajang kompetisi.

Saya sempat merasa instagram membuat saya menjadi kompetitif akan hal yang tidak perlu. Melihat beberapa teman yang berhasil traveling ke berbagai tempat menarik dan mengabadikan fotonya dimana-mana, saya ingin melakukan hal yang sama. Melihat beberapa teman pergi ke cafe, berfoto dengan makanan yang ditata sempurna, saya juga ingin melakukannya. Akhirnya saya mencoba melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan kebanyakan orang tersebut, dan ternyata melelahkan juga. Barulah kemudian saya paham, sebenarnya saya tidak perlu berkompetisi untuk sesuatu yang sebenarnya tidak saya butuhkan.

Saya pernah berada pada fase ketika memilih foto untuk upload di instagram saja makan waktu begitu lama. Untuk posting foto, saya berpikir panjang apakah saya terlihat menarik, keren, dan seterusnya. Belum lagi memilih caption yang seru dan menarik. Tentu saja semua itu tidak ada salahnya, karena setiap orang memang menggunakan sosial media dengan tujuan dan cara yang berbeda. Tetapi untuk saya pribadi, ternyata ritual foto-memilih foto-membuat caption itu sangat melelahkan. Maka kemudian saya ingat, saya tidak harus melakukan itu semua.

Saat tenggelam dalam kompetisi dan keinginan untuk bisa menjadi seperti si A, B, C, atau bahkan melebihi mereka, terkadang secara tidak sadar kita mulai meniru mereka. Kita terlalu fokus pada orang lain dan tidak lagi memperhatikan diri sendiri. Tidak lagi memperhatikan apa yang sebenarnya kita sukai, inginkan, dan bisa lakukan. Lebih buruk lagi, kita kehilangan identitas. Berkaca pada orang lain sebagai standar untuk menilai diri sendiri bukanlah hal yang tepat. Bagus kalau hal tersebut bisa memacu diri untuk menjadi lebih baik. Tapi kalau pada akhirnya malah memaksa diri meraih sesuatu yang berada di luar jangkauan, sama dengan menyiksa diri namanya.

Ada beberapa hal yang terkadang kita tidak sadar menjadikannya sebagai suatu kompetisi. Misalnya tentang bagaimana penampilan kita, hubungan percintaan, barang yang kita punya, kesuksesan kita, dan banyak lagi. Komentar seperti, ‘Kapan ya saya bisa sekurus dia’, ‘wah dia sudah menikah, saya kapan?’ atau ‘wah dia sudah beli mobil, saya kapan?’ sepertinya sudah tidak asing di telinga kita. Setujukah Anda jika saya menyebutnya sebagai kompetisi? Saya merasa bahwa secara tidak disadari, komentar-komentar tersebut juga merupakan bentuk kompetisi, dan merupakan kompetisi yang tidak perlu.

Daripada membuat orang lain sebagai standar kita, mengapa kita tidak membuat standar untuk diri sendiri? Tentu dengan mempertimbangkan segala situasi yang masuk akal dan bukan karena memaksa diri atau sebagai alasan untuk bermalas-malasan.

Saya menemukan kutipan menarik tentang kompetisi:

“Your competition is not other people but the time you kill, the ill will you create, the knowledge you neglect to learn, the connections you fail to build, the health you sacrifice along the path, your inability to generate ideas, the people around you who don’t support and love your efforts, and whatever god you curse for your bad luck.”
– James Altucher

Bagi saya, kompetisi itu perlu, namun harus berupa kompetisi yang sehat, serta sesuatu yang memang perlu menjadi kompetisi. Sebagai pemicu dan motivasi diri, bukan sekedar untuk menjadi pemenang di antara para pecundang.

Cheers!

Berdamai dengan Definisi Sukses Kamu Sendiri

Pernahkah kamu datang ke acara reuni atau setelah lama tidak bertemu seorang teman, mereka akan bertanya “kerja di mana sekarang?” “kantornya di mana?” “rumahnya di mana” Dan ketika semua pertanyaan tersebut berhasil dijawab, komentar lanjutannya adalah “wah, sudah sukses ya!”

Tunggu dulu, siapa yang membuat definisi sukses seperti itu?

Menurut saya, kesuksesan sama sekali bukanlah hal yang universal, atau sesuatu yang sama pada setiap orang. Sebaliknya, sukses seharusnya bersifat personal dan berdasarkan perspektif pribadi setiap orang. Bagi saya, sukses seharusnya adalah tentang apa yang berhasil kita capai yang mencerminkan apa yang kita inginkan dan butuhkan.

Sebagai contoh beberapa orang menghubungkan ‘punya mobil’ sebagai standar sukses. Akan tetapi, saya merasa tidak membutuhkan mobil karena tidak suka bentuknya yang besar dan memakan tempat. Belum lagi karena mobil tidak bisa masuk ke gang-gang kecil dan sulit cari tempat parkir yang mudah. Toh sekarang sudah ada Grab atau Go-car kalau memang perlu bepergian dengan mobil. Dengan alasan demikian, rasanya tidak masuk akal jika saya tetap ngotot beli mobil karena pada akhirnya akan jarang atau mungkin hampir tidak pernah saya pakai karena alasan di atas.

Jadi, apa saya masih bisa dibilang sukses karena punya mobil meski tidak pernah dipakai? Saya akan berkata tidak karena toh barang tersebut ternyata tidak bermanfaat bagi saya. Tapi apakah punya mobil berarti tidak sukses? It depends. Tergantung pada pribadi setiap orang, apakah mobil tersebut bermanfaat, punya value dalam hidupmu, membantu hidupmu, dan kamu memang menggunakannya dan bukan hanya sekadar ‘harus punya’?

Jabatan mentereng dengan titel panjang juga sering menjadi patokan kesuksesan. Mungkin itulah mengapa pekerja freelance yang tidak punya kantor macam saya sering dipandang sebelah mata, pasalnya tidak ada jenjang karir jelas yang bisa disebutkan sudah berada di level manakah kita berada dalam corporate ladder. Tapi yang sering dilupakan, bekerja freelance juga mendapat nafkah dan masih bisa bertahan hidup. Mereka bisa membeli dan memiliki apa yang benar-benar mereka butuhkan, lalu apakah mereka gagal dalam hidup? Saya rasa tidak.

Kesuksesan bagi saya punya nilai lebih dari material posession. Bukan berarti materi atau uang tidak penting, jangan bercanda. Uang tetap penting, karena perut yang kelaparan juga bukanlah hal yang menyenangkan, tidak punya atap untuk berteduh adalah masalah. Saya tahu pasti tentang hal itu. Akan tetapi, uang seharusnya bukan target utama, melainkan alat untuk mencapai sesuatu yang lain yang mungkin kita inginkan.

Saya sudah pernah berada di tempat ketika saya sama sekali tidak perlu memikirkan kebutuhan, semua tersedia. Saya juga pernah berada di tempat ketika makan saja susah. Sampai akhirnya tiba berada di titik ekuilibrium, saya cukup.

Jika seseorang merasa dirinya sukses karena punya gaji 8 digit, sudah punya rumah, jabatan tinggi, by all means, silakan saja. Tapi jangan jadikan itu patokan bagi individu lainnya. Manusia adalah makhluk yang berbeda-beda. Hasrat, tujuan dan passion mereka berbeda, jadi bagaimana bisa definisi kesuksesan dibuat sama?

Saya sendiri belum merasa sukses, karena definisi sukses saya adalah punya banyak teman untuk diajak bicara tentang berbagai hal, berani keluar dari zona nyaman, berani naik bis sendirian! 😀

Lalu, apa arti sukses bagimu?

 

 

[Review] Klairs Freshly Juiced Vitamin Drops

I know, Klairs Freshly Juiced Vitamin Drops memang sudah sangat ramai dibicarakan. Review-nya juga macam-macam, mulai dari yang bagus, serta ada juga yang tidak suka. Tapi seperti kita semua tahu, skincare memang selalu memberi hasil yang beragam, bukan? Nah, kali ini giliran saya yang mencoba serum ini.

Setelah melihat berbagai macam review, maka saya berangkat ke website MIMO BEAUTY, tempat saya belanja skincare atau makeup. Pelayanannya bagus, paketan saya juga selalu datang cepat, kemasan rapi, dan produk skincare serta makeup yang dijual juga lumayan lengkap.

Klairs

Klairs Freshly Juiced Vitamin Drops ini mengandung vitamin C yang berfungsi untuk mencerahkan kulit. Serum ini mengklaim dapat meratakan tekstur dan tone kulit. Nah, karena kulit wajah saya termasuk yang gampang berjerawat dan kusam, saya jelas tertarik dengan produk ini.

Produk ini dikemas dalam botol plastik tebal bening. Awalnya saya mengira kemasannya terbuat dari kaca. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, saya malah lebih suka kalau botolnya bukan kaca, mengingat saya ceroboh luar biasa. Produknya sendiri bening tidak berwarna, dan sedikit kental seperti minyak. Ada sedikit aroma khas tapi menurut saya tidak terlalu mengganggu. Saya malah suka dengan baunya.

Di bagian bawah botol tertera tanggal produksi dan tanggal kadaluarsa. Nah, ini penting saat anda membeli skincare. Pastikan selalu cek tanggal kadaluarsa sebelum memakai skincare, yah! Setelah pertama kali dibuka, masa pemakaian serum ini adalah 12 bulan.

Kode produksi

Sesuai petunjuk penggunaan, dipakainya cukup 1-2 tetes untuk seluruh wajah dan leher. Saya memakainya pagi dan malam setelah cuci muka dan memakai toner. Tapi ingat, ketika memakai produk yang mengandung vitamin C, disarankan untuk menghindari sinar matahari langsung, karena bisa membuat kulit jadi lebih sensitif terhadap sinar matahari. Jika aktifitas harian anda sering di luar rumah, ada baiknya pakai serum di malam hari saja. Mengingat saya justru jarang sekali keluar rumah, jadi saya mencoba untuk rutin memakai pagi dan malam.

Ketika baru dioles, wajah terasa hangat, tapi di wajah saya tidak berasa tingling. Rasa hangat di wajah juga hanya sebentar, tidak sampai satu menit sudah hilang. Selain itu,  Klairs Freshly Juiced Vitamin Drops ini juga tidak membuat kulit saya iritasi. Karena teksturnya minyak, serum ini gampang diratakan ke seluruh wajah. Untuk sampai benar-benar meresap ke seluruh wajah sih butuh waktu sekitar 2-3 menit di wajah saya.

Setelah meresap, serum ini tidak meninggalkan residu atau rasa lengket. Jadi tidak terasa berat di wajah. Dia juga tidak membuat wajah saya makin berminyak, salah satu poin penting yang membuat saya selalu mikir-mikir kalau mau memakai produk dengan tekstur kental seperti minyak.

Kemasan

Setelah kurang lebih 3 minggu pemakaian rutin, kulit wajah saya yang awalnya kusam memang terlihat lebih cerah. Kulit saya memang tidak putih, cenderung ke sawo matang, tapi jadi terlihat lebih bersih. Noda bekas jerawat memudar, tapi butuh waktu yang agak lama. Masih terlihat bekas-bekasnya, tapi sudah tidak terlalu gelap seperti sebelum memakai serum ini.

Nah, melihat review di atas, jelas saya suka banget dengan Klairs Freshly Juiced Vitamin Drops ini. Kemungkinan repurchase, tapi sekarang masih menimbang-nimbang ingin mencoba serum dari COSRX. 😀

Nah, bagaimana pendapat kalian soal Klairs Freshly Juiced Vitamin Drops? Apa produk ini juga cocok untuk kalian? Atau baru mau mencoba juga? Leave your comment below! 😀

 

 

 

Kerja Keras Bagus, Overworked Jangan

Sebagai seorang freelancer, saya cenderung tidak punya waktu tetap kapan harus bekerja dan istirahat. Idealnya sih, meskipun freelance jam kerja tetap harus diatur agar efektif, misalnya dari pukul 9 pagi sampai 5 sore. Tapi, karena tidak ada aturan jam tertentu, impian kerja tepat waktu itu sering kali tidak berjalan. Akhirnya, jadi gampang banget overworked. Alasannya sih sederhana, masih belum bisa bilang ‘tidak’ ke tawaran pekerjaan. 😀

Terkadang karena begitu bersemangat, jadi tidak sadar bahwa kita sudah mulai overworked alias bekerja berlebihan. Dan ketika mau bilang ke atasan atau menolak pekerjaan, terkadang ada rasa khawatir dianggap complaining atau mengeluh. Padahal bekerja pun tetap harus sesuai porsi, dan kita juga harus sadar kemampuan fisik dan mental kita. Istirahat yang cukup dan lepas dari urusan pekerjaan untuk sementara waktu itu perlu!

Muncul Perasaan Bahwa Pekerjaan Tersebut Sepertinya Tidak Kunjung Selesai

Busy working
[source: pexels.com]
Hal pertama yang membuat saya sadar bahwa saya overworked adalah pekerjaan tersebut rasanya tidak kunjung selesai. Baru selesai satu kerjaan sudah datang lagi pekerjaan lainnya yang juga harus segera selesai. Perasaan lega karena satu tugas telah selesai itu sudah tidak ada. Sebaliknya, rasanya seperti terus-terusan dikejar. Acara bertemu teman meski sebentar saja sudah terasa jadi seperti kegiatan yang buang-buang waktu.

Merasa Masih Kekurangan Waktu dalam Sehari

Time
[Source: Pexels.com]
Selanjutnya, saya merasa siang hari terasa terlalu pendek, dan masih butuh lebih banyak waktu untuk bisa meyelesaikan pekerjaan. Terkadang, sampai terpaksa harus lembur dan mengorbankan jam tidur. Pekerjaan yang menumpuk bisa menimbulkan stres, apalagi jika ditambah dengan kurang tidur.

Susah Santai Meskipun Tidak Sedang Bekerja

Relax
[Source: Pexels.com]
Ketika sudah terlanjur overworked atau bekerja berlebihan selama beberapa waktu, hal selanjutnya yang saya alami adalah susah bersantai. Hal ini terjadi karena sudah terbiasa untuk selalu ‘on’ atau juga karena khawatir dengan pekerjaan yang datang mendadak dan harus segera selesai. Bahkan setelah segala gadget dimatikan, pikiran tidak bisa tenang karena selalu merasa khawatir dengan pekerjaan yang akan datang, atau bahkan yang telah diselesaikan. Apalagi jika tidak membedakan waktu atau hari khusus untuk istirahat atau libur.

Kesehatan Terganggu

Tired
[Source: Pexels.com]
Reaksi orang tentu berbeda-beda ketika tubuhnya mengalami kelelahan karena bekerja berlebihan. Saya sendiri biasanya migrain karena terlalu lama berada di depan laptop. Jika itu terjadi, maka harus segera istirahat karena pekerjaan juga tidak akan bisa diselesaikan dalam kondisi seperti itu. Selain itu, saya juga jadi sering mengantuk dan lesu sepanjang hari.

Kerja keras memang baik, tapi jangan sampai berhenti meluangkan waktu untuk istirahat atau bersantai. Saya percaya bahwa hardwork does pay off, tapi jangan sampai bekerja terlalu keras malah membuat kesehatan kita yang memburuk nantinya. Karena ketika kita sakit, bukankah kita juga tidak bisa menikmati hasil kerja keras tersebut? Saya yakin anda setuju dengan saya. 🙂

Do your best in work, but don’t forget to let yourself rest and enjoy your hardwork.

Mini Refreshing di Sela Tumpukan Pekerjaan

Finally! I came back!

Beberapa bulan terakhir terasa hectic banget buat saya. Target-target baru dan pekerjaan dengan deadline yang saling kejar-kejaran adalah salah satu yang membuat saya merasa agak kewalahan beberapa waktu terakhir ini. Jadi saya bahkan tidak punya energi atau ide untuk mengisi blog sesering yang saya harapkan. I’m not complaining though, because I obviously love my job and I have targets I’m working hard to achieve.

Tapi ya gitu, secinta-cintanya kita sama pekerjaan, terkadang akan ada masa ketika kita merasa overwhelmed. Lelah, kewalahan, dan ingin istirahat, atau bahkan mungkin ingin liburan, kabur sejenak. Maka saya memutuskan bahwa hari ini akan menjadi waktu bagi saya untuk unwinding myself atau refresh kembali keseharian saya.

Bicara soal refreshing atau unwinding my life, yang terlintas di pikiran kita terkadang adalah liburan, wisata, dan sejenisnya. Tapi sayangnya, untuk saat ini bagi saya having a long holiday is not my option yet. Meski begitu, belum bisa liburan panjang bukan berarti kita nggak bisa refresh ourselves kok.

Pagi hari saya awali dengan bangun jogging pagi yang sudah beberapa bulan saya lewatkan. Tanpa olahraga, saya memang merasa lebih cepat lesu dan mood saya gampang kacau. Mungkin karena itu juga beberapa bulan terakhir saya merawa kewalahan sekali dan gampang stress.

jogging
Jogging pagi [Image Source]
Dalam perjalanan ke dan dari track jogging, I drive slow. Saya memacu motor dengan santai, tanpa terburu-buru, sambil menikmati apa saja yang bisa saya lihat di sepanjang jalang. And it was fun! Nyetir tanpa rasa terburu-buru ingin cepat sampai membuat saya merasa lebih rileks. I didn’t get the pressure of wanting to be there as soon as possible or feel angry for bad drivers that cut me off or those drivers that drive too close to me. Nyetir jadi berasa lebih enak aja. Nggak ada stress di jalan.

Pulang jogging lanjut dengan mandi, sarapan, pasang musik, kemudian menata meja kerja.  I don’t know about you, tapi menata ulang meja kerja itu kegiatan yang seru buat saya. Saya bukan tipe yang menata meja kerja rutin setiap hari, jadi terkadang akan sedikit berantakan dan perlu ditata kembali. Terlebih lagi saya masih belum bisa menatanya sesuai keinginan saya pribadi karena saya masih tinggal dengan orang tua and have to share spaces. But hopefully my place will be ready soon and I can have my own space. Can’t wait! 😀

Saudara-saudara saya atau keponakan juga suka ‘nitip’ meletakkan barang/mainan mereka di meja saya. Kadang ini bikin sebel, tapi ya gak bisa komplain. 😀 Memang sih menata space saya pribadi jadi tidak optimal, but it works though. Setiap perubahan terkecil yang kita buat itu akan memberi pengaruh, kok. Dan justru dari hal-hal terkecil ini kadang kita bisa menyegarkan diri kita kembali.

Selesai menata ini itu, lanjut kerja lagi deh. Buat saya, refreshing nggak berarti harus nggak kerja sama sekali dalam sehari. Karena sebenarnya setelah sedikit penyegaran seperti menata meja dan jogging, saya sudah merasa siap lagi buat bekerja. Jadi saya lanjut deh kerja sampai siang sebelum akhirnya makan siang dan tiduran.

Sorenya, lanjut dengan menulis jurnal. Sudah lama sekali saya tidak menulis jurnal tentang apa yang saya inginkan, harapan, target-target, serta proyek-proyek yang sedang direncanakan. Beberapa tahun terakhir, saya cenderung membiarkan semuanya mengalir begitu saja dan nggak merencanakan apa-apa. My life have been good the past year meski saya nggak menulis jurnal, tapi saya jadi gampang kewalahan karena sering bingung dengan perkembangan yang tiba-tiba terjadi dan saya nggak tahu harus berbuat apa. Dengan menulis jurnal, harapan saya adalah saya jadi bisa mengantisipasi kemungkinan yang terjadi dan nggak bingung-bingung amat atau jadi merasa terlalu overwhelmed. Selain itu saya juga berharap agar rencana-rencana yang dibuat juga jadi bisa lebih terstruktur dan terlaksana dengan baik.

Buku
[Image Source]
Tentu saja hidup nggak selamanya berbunga-bunga, indah, dan kerja melulu.  I have personal problems too yang terkadang nggak bisa saya kendalikan. Tapi dengan berusaha mengendalikan dan menata aspek hidup saya lain, harapannya adalah  saya bisa lebih bahagia, dan sehat. Tapi jangan lupa bersyukur yah. Terlalu fokus mengendalikan hidup tanpa bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki dan capai juga pada akhirnya hanya akan membuat hidup kita seperti kegiatan ‘kejar-kejaran’ yang tidak jelas targetnya. Tanpa bersyukur, apapun yang kita capai tidak akan membuat kita puas karena selalu merasa ada yang kurang.

That’s all for the update folks because I have to get back to work. 😀

Stay happy and blessed. :*

Satu Tahun Full Freelance, How Does It Feel?

Nggak kerasa udah satu tahun aja jadi seorang Full Freelancer. Ada banyak hal yang aku rasakan saat baru jadi freelancer, nggak melulu enak, kendala tetep ada juga. Kalau pengen tahu apa aja, bisa diintip di sini. Sejauh ini, nikmat dan enggaknya tetep sama dengan saat pertama kali terjun jadi freelancer. Tapi setelah satu tahun, ternyata masih ada kejutan-kejutan lainnya.

Saat pertama kali memutuskan freelance, saya punya keinginan untuk kerja sambil traveling. Pindah-pindah kota, biar bisa lihat banyak hal. Kan gampang sekarang kerjanya, tinggal nenteng laptop lalu berangkat. Sekalian belajar biar bisa lebih berani (Karena saya super pemalu dan penakut XD). Ternyata meski udah freelance, traveling tetap nggak segampang tinggal nenteng barang bawaan (setidaknya buat saya).

Ada banyak hal yang harus dipikirkan, mulai dari gimana menyesuaikan waktu perjalanan (yang otomatis gak bisa kerja maksimal) dengan deadline yang mepet, gimana atur waktu kerja di kota tujuan sekaligus jalan-jalan (karena kalau udah nyampe kota tujuan tapi ternyata tetep harus diam di satu tempat selama berjam-jam buat kerja adalah sia-sia), gimana kalau sedang jalan-jalan ternyata tiba-tiba dihubungi dengan pekerjaan urgent, dan seterusnya. Sepertinya saya nggak sanggup traveling sambil kerja. Karena saya ternyata tipe orang yang kalau main harus full main, kalau kerja harus full kerja. Nggak bisa main sambil kerja, atau kerja sambil main dijamin berantakan kerjaannya. 😀

Meski begitu, keputusan pengen liburan berapa lama dan berapa kali ada di tangan kita. Artinya, nggak perlu khawatir kena marah karena terlalu sering ambil cuti. Toh, pendapatan yang didapat sesuai dengan jumlah kerjaan yang dilakukan. Makin rajin kerja ya makin banyak, makin banyak liburan ya makin dikit pendapatannya. Simple.

Hal selanjutnya adalah, it’s fine to refuse a job, although it’s not easy at all. Ketika deadline makin banyak, kerjaan makin banyak berdatangan, it’s fine to refuse a job. Dulu di awal, saya selalu menerima segala job yang datang, berpikir bahwa saya punya cukup waktu atau karena merasa sungkan untuk menolak. Tapi yang seperti itu ternyata malah mempersulit diri sendiri. Selain jadi kurang tidur karena terlalu sering lembur, kadang kerjaan juga kurang bagus hasilnya.

Memang sih kadang menolak pekerjaan itu nggak gampang, karena rasanya sayang banget nolak pendapatan. Apalagi sumber pendapatan freelance memang berdasarkan jumlah klien yang kita dapat. Tapi daripada klien nggak puas karena kerjaan yang nggak maksimal atau kita yang jadi sakit karena kecapekan, mending negosiasi buat memundurkan deadline. Kalau nggak bisa, it’s okay to refuse it. Yakin deh, rejeki bisa datang dari mana aja kok.

Salah satu hal yang bikin saya puas dengan profesi saya sekarang adalah, I have time for taking a nap. Yup, siang hari adalah jam paling ngantuk buat saya. Sejak memutuskan mengurangi minum kopi, tidur siang sebentar jadi pilihan saya ketika mulai ngantuk dan loyo di siang hari. Pasalnya, waktu ngopi saya berasa seperti dipaksa melek, sedangkan kalau tidur siang, saya berasa seperti menerima reward setelah kerja dari pagi. Istirahatnya juga lebih lega, karena mata ikutan istirahat setelah lama melototin layar monitor. Ketika bangun tidur, badan dan otak sudah fresh lagi buat lanjut kerta. Meski bisa tidur siang, tetap saja nggak bisa keterusan molor. Istirahat tidur siang tetep dibatasi biar nggak keterusan sampai sore dan lupa dengan kerjaan.

Selanjutnya adalah status pekerjaan di mata masyarakat. Fakta bahwa saya lebih sering berada di rumah dan tidak berangkat pagi pulang sore seperti karyawan lainnya membuat saya sering dikira pengangguran. Yah tapi masalah ini sih gampang diselesaikan, asalkan yang mengira saya pengangguran memutuskan untuk bertanya. Yang susah itu kalau nggak tanya tapi lalu dijadikan gosip. 😀

Nah, itu tadi cuma sebagian hal yang saya rasakan setelah 1 tahun lebih jadi freelancer. Antara freelancer satu dan lain tentu nggak sama, karena disesuaikan dengan karakter dan cara kerja masing-masing individu. Meski begitu sejauh ini, saya ternyata tetap menikmati pekerjaan ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya.