[Review Novel] Aroma Karsa: Tangan Dingin Dee Lestari Mengeksplorasi Aroma

Sakit usus buntu yang mengharuskan saya dirawat inap selama beberapa hari ternyata memiliki berkah tersendiri. Saya akhirnya berhasil menyelesaikan novel Aroma Karsa karya Dee yang sebenarnya sudah beberapa bulan lalu saya terima dan terpaksa tersimpan di rak buku. Setelah sempat terdistraksi oleh berbagai macam hal, akhirnya ada juga kesempatan untuk menyelesaikan novel yang cantik ini.

Novel setebal 696 halaman ini becerita tentang sosok Jati Wesi yang memiliki kemampuan hidung yang luar biasa. Ia mampu mencium aroma secara mendetail, bahkan hingga aroma yang tidak tercium oleh orang kebanyakan. Atas kemampuannya itulah, pria yang tumbuh di TPA Bantar Gebang ini kemudian mendapatkan julukan si hidung tikus.

Kemampuan hidungnya ini ternyata membawanya bertemu seorang pengusaha parfum besar bernama Raras Prayagung dan putrinya, Tanaya Suma. Suma ternyata juga memiliki kemampuan penciuman yang mirip dengan Jati Wesi, hanya saja dia tidak tahan dengan sembarang bau, tidak seperti Jati. Ketiga tokoh ini kemudian saling terkait dalam usaha mencari bunga legendaris Puspa Karsa yang tertulis dalam lontar dan prasasti kuno. Ditambah lagi dengan teka-teki asal-usul Jati Wesi dan Tanaya Suma, maka terciptalah sebuah novel yang misterius, apik, sekaligus penuh petualangan.

Sama seperti serial novel Dee Lestari yang terdahulu yaitu Supernova, novel Aroma Karsa ini juga lebih bersifat fantasi. Bisa dibilang novel ini berjalan dengan lambat mengingat hampir separuh halamannya berkutat tentang pengenalan sosok Jati dan konfliknya dengan Tanaya Suma. Meski demikian, hal tersebut disampaikan dengan runut dan perlahan memuncak menuju konflik utama. Pembaca tidak akan bosan membaca novel yang banyak bercerita tentang aroma dan bau-bauan.

Salah satu hal yang menarik adalah, membaca novel ini membuatmu ingin menghirup napas dalam-dalam. Bagaimana tidak, semua aroma digambarkan dengan begitu mendetail sampai-sampai saya juga ingin mengenali aroma apa yang ada di sekitar saya saat itu (tentunya aroma khas rumah sakit mengingat saya sedang dirawat di sana saat membaca novel ini. 😀 ). Tapi, sebegitu dahsyatnyalah gaya menulis Dee Lestari yang begitu jelas, puitis, sekaligus deskriptif.

Untuk pengerjaan novel ini, Dee Lestari telah melakukan riset sejak tahun 2016. Di terjung langsung ke TPA Bantar Gebang, pabrik Mustika Ratu, serta mencari informasi sebanyak-banyaknya dari para narasumber. Semua kerja keras riset tersebut, digabungkan dengan kemampuan menulis Dee Lestari yang memang sudah tidak perlu diragukan lagi, maka lahirlah karya menarik Aroma Karsa.

Maaf reviewnya pendek, pinggang masih sakit 😀

Kamu sudah baca belum?

Iklan

Satu respons untuk “[Review Novel] Aroma Karsa: Tangan Dingin Dee Lestari Mengeksplorasi Aroma

Bagaimana pendapat kamu? Yuk tinggalkan komentar!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s