Tetap Berekspresi Tanpa Berusaha Membuat Kagum

Express without having to impress, atau ‘berekspresi tanpa harus membuat kagum’.

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan ekspresi tersebut dan merasa aneh dengan konsepnya. Setahu saya, seseorang berekspresi karena ingin diakui, mendapatkan validasi, atau sederhananya adalah membuat orang lain kagum. Untuk apa seseorang memotret foto, seorang pemusik menciptakan lagu-lagu indah, seorang penulis menuturkan sebuah cerita selain untuk membuat para penikmatnya ternganga kagum?

Beberapa orang mungkin akan merasa bahwa apa yang kita buat sudah selayaknya mendapat apresiasi yang demikian. Untuk mendapatkannya, kita mempelajari orang di sekitar yang akan melihat karya dan diri kita, kira-kira hal seperti apa yang mereka inginkan dan apa yang akan membuat mereka kagum dengan karya atau diri kita? Tanpa disadari, kita menciptakan sesuatu by demand alias ‘atas permintaan’ agar mereka yang ada di sekitar mampu mengagumi apa yang kita ciptakan, tampilkan, ekpresikan.

Sesuatu yang ‘by demand’ bukanlah hal yang buruk, apalagi jika memang berkecimpung di dunia bisnis, di mana hubungan jual beli terikat dengan supply dan demand. Tapi, sayang sekali jika pada akhirnya segala aspek hidup kita menjadi seperti bisnis yang bergantung pada supply dan demand.

Ingin tampil hebat, keren, dan sukses adalah hal yang normal, lagipula, siapa yang tidak ingin demikian? Hanya saja, banyak juga yang menginginkan hal ini karena ingin membuat orang lain kagum, entah itu teman, keluarga, atau bahkan orang yang dibenci. Anehnya, mengapa kita merasa perlu membuat orang lain kagum sementara orang lain tersebut belum tentu memperhatikan atau memikirkan kita.

Beberapa orang mungkin merasa perlu membuat orang lain kagum karena mereka merasa insecure dengan diri sendiri, tidak percaya diri sehingga selalu berusaha membuktikan dirinya. Bisa juga karena selalu membandingkan diri dengan orang lain, untuk menunjukkan bahwa dirinya termasuk dalam suatu kelompok tertentu dan agar diterima oleh orang lain.

Bayangkan, betapa lelahnya jika kita harus terus menerus berusaha membuat orang lain kagum, hidup di atas status ekonomi yang dimiliki sebenarnya, terus saja memberi makan ego, atau bahkan tampil seperti sosok yang sebenarnya sama sekali bukan diri kita sendiri demi diterima atau diakui oleh seseorang yang bahkan belum tentu peduli bahwa kita ada.

Status sosial sepertinya telah menjadi tujuan sekaligus momok bagi banyak orang. Kita berlomba-lomba untuk mencapai definisi status kelas atas, ingin menjadi sosok yang berada di atas orang lain di lingkaran kita. Hanya saja yang jarang kita ingat, ‘lingkaran’ tersebut tidak akan pernah ada habisnya. Ketika kita berhasil mengungguli lingkaran lingkungan tersebut, maka kita akan menemukan lingkaran baru yang berisi orang-orang baru dengan pencapaian yang jauh di atas kita. Maka kita akan kembali berjuang melewati lingkaran tersebut lagi. Begitu seterusnya sampai kita mungkin tidak akan lagi puas dengan apa yang kita kerjakan dan miliki.

Mengapa kita tidak melakukan atau membuat sesuatu yang kita suka? Toh pada akhirnya, kita akan menarik orang-orang dan lingkaran yang tepat dengan berekspresi sesuai dengan siapa kita dan bagaimana diri kita sebenarnya tanpa perlu kelelahan berbuat sesuatu yang jauh dari jati diri kita sebenarnya.

‘We will find the right people when we stay true to ourselves’

 

 

Iklan