[Review] Bio Oil Digunakan Sebagai Pelembab Wajah?

Setelah sekian lama nggak muncul di peredaran, akhirnya saya kembali membawa satu misi yaitu mereview salah satu beauty produk. Kali ini, saya mau mereview Bio Oil PurCellin Oil‚ĄĘ yang sudah dua mingguan ini rutin saya pakai sebagai pelembab wajah tiap pagi dan malam.

Seperti yang udah saya sebutkan di artikel Review Corine de Farme Micellar Cleansing Foam, kulit saya cenderung berminyak dan sensitif. Jadi salah produk muka sedikit saja, dijamin jerawat dan bruntusan bakal bermunculan. Sialnya, kemarin saya sempat tidak setia pada Corine selama sekitar 1 bulan, akhirnya jerawat kembali menyerang.

 

Bio Oil

Bio Oil

 

Saat beli stok Corine de Farme itulah saya diperkenalkan dengan Bio Oil. Kata mbak SPG-nya, produk ini mampu membantu menyamarkan bekas jerawat. Akhirnya saya beli Bio Oil yang 60 ml, dengan harga kurang lebih 120 ribu. Dengan harga segitu, jelas cukup mahal, tapi karena pemakaiannya hanya 2 tetes, saya rasa 60 ml bisa tahan sampai 1 bulan lebih.

Saat pertama kali membuka tutupnya, yang pertama kita notice adalah aromanya yang wangi dan calming, hampir mirip baby oil.

Meskipun berbentuk minyak, produk ini tidak terlalu pekat, kok. Masih terasa nyaman ketika diteteskan ke kulit dan tidak lengket. Karena teksturnya yang tidak terlalu pekat, Bio Oil jadi mudah meresap di kulit saat dipakai.

Menurut labelnya, Bio Oil ini bisa digunakan sebagai perawatan kulit untuk bekas luka, stretch mark, warna kulit yang tidak merata, dan kulit kering. Jadi, saya memilih produk ini memang karena ingin mencoba bagaimana manfaatnya untuk bekas jerawat dan warna kulit wajah saya.

Tekstur Bio Oil

Meskipun kulit wajah saya tergolong berminyak, ternyata produk ini tidak membuat wajah saya makin seperti ‘kilang minyak’. Hanya dipakai dua tetes dan dipijatkan ke seluruh wajah, Bio Oil akan langsung meresap tanpa meninggalkan rasa lengket dan berminyak, tapi tetap terasa lembab.

Setelah dua minggu pemakaian setiap pagi dan sore, jerawat yang tadinya bermunculan di wajah gara-gara salah pembersih muka mulai mengering dan kempes. Jerawat yang muncul terakhir memang masih terlihat bekasnya, tapi di bagian tempat jerawat lama sempat muncul, warnanya mulai memudar.

Selain jerawat yang mulai mengering dan warnanya yang mulai pudar, warna kulit wajah juga mulai kelihatan rata. Kulit wajah saya memang gelap sejak lahir, jadi tidak mungkin saya berharap berubah jadi putih, kan? Tapi memang jadi terlihat lebih segar dan warnya lebih merata.

Sejauh ini, saya suka dengan produk Bio Oil karena tidak membuat kulit saya bruntusan, jerawatan, atau kelihatan seperti kilang minyak. Sebaliknya, kulit jadi terasa lembab, halus dan kenyal. Tapi sekali lagi, karena setiap orang punya tipe wajah yang beda-beda, maka efek yang dihasilkan dari produk perawatan juga akan berbeda. ūüėä

 

Belajar Mencintai Tubuh Kita Sendiri

Lama sekali rasanya saya nggak update cerita dan berbagi kisah di blog. Tapi hari ini saya kembali dan ingin berbicara mengenai low self esteem atau rendah diri. Saya bisa mengatakan bahwa sudah cukup lama saya merasa nggak percaya diri. Ada banyak ketidakpuasan yang saya rasakan, dan salah satu diantaranya adalah mengenai fisik, sesuatu yang bisa langsung dilihat oleh orang lain.

Sudah jadi rahasia umum bahwa kriteria ‘cantik’ yang sering kita dengar adalah perawakan yang ramping, hidung kecil dan mancung, dahi kecil, kulit putih, dan seterusnya. Sementara saya berada di spektrum yang berlawanan. Ditambah lagi dengan stigma yang dulu sering saya dengar (yang menurut saya jahat) bahwa “cantik/tampan itu relatif, sedangkan jelek itu mutlak”.

Kepercayaan diri

Belajar mencintai diri sendiri demi mengalahkan low self-esteem

Mengetahui semua itu, jelas saja saya nggak puas dan sering kali merasa iri dengan mereka yang cantik. Tapi, di saat yang sama, saya mulai menyadari banyak. Keadaan fisik yang nggak sejalan dengan kriteria umum tentang cantik ternyata juga nggak pernah menghalangi saya untuk menikmati hidup atau melakukan aktivitas sehari-hari. Saya tetap bisa bekerja, bergaul, melakukan apa saja. Saya punya tubuh yang lengkap dan berfungsi dengan baik, jadi mengapa tidak puas?

Sampai sekarang, saya masih punya banyak teman, dan orang-orang yang mencintai saya. Mereka juga nggak pernah mempermasalahkan bagaimana penampilan fisik saya. Bukankah berarti ada kualitas tertentu yang membuat mereka mau bersama saya? Sesuatu yang jauh lebih penting dan menarik dari sekadar penampilan fisik.

Memahami Bahwa Manusia Diciptakan Berbeda

Mari belajar menerima bahwa setiap manusia diciptakan dengan bentuk yang berbeda dan ingatlah bahwa ada beberapa bagian dari diri kita yang sebenarnya juga menarik. Mungkin kita mewarisi kulit gelap dari ayah, pinggul besar dari ibu, tapi lalu mengapa itu menjadi masalah? Menginginkan tubuh kecil, badan tinggi dan kulit putih pucat seperti seseorang yang bahkan tidak berasal dari ras yang sama dengan kita itu nggak realistis.

Sportsquad

Ini dia sportsquad saya. Teman-teman yang suka olahraga.

Berkumpul dengan Orang-orang yang Positif

Siapa orang di sekitar kita mempengaruhi cara kita memandang diri kita sendiri. Jadi, ada baiknya jika kita berkumpul dengan orang-orang yang mampu memberi semangat dan memperingatkan ketika mulai melenceng dari target untuk hidup lebih sehat. Kalau perlu, bisa sekalian membuat sportsquad, jadi kita lebih bersemangat saat berolahraga bersama. Berkumpul dengan seseorang berpandangan positif juga berarti mereka yang tidak akan menilai kita hanya dari penampilan fisik saja.

Memastikan Diri Selalu Bersih dan Rapi

Terkadang karena sudah terlalu lama merasa tidak percaya diri, sebagian orang jadi pasrah dan tidak mau berbenah. Menerima dan mencintai diri sendiri bukan berarti membiarkannya kita begitu saja. Justru mencintai diri sendiri berarti harus merawat kondisinya. Selain dengan cara menjaga agar tubuh tetap sehat, selalu berpenampilan rapi dan bersih juga bentuk bahwa kita peduli dengan tubuh kita.

Kita harus berhenti mengikuti anggapan populer tentang definisi normal, cantik, atau menarik dan lakukan¬†hal yang benar dan baik untuk tubuh kita. Mari fokus pada hal yang lebih penting yaitu bahwa kita sehat dan tubuh berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya. ūüėÄ

[Review Novel] Berpetualang di Italia Zaman Renaissance Lewat Novel Poison

Memasuki awal tahun 2017, saya kembali tenggelam dalam novel dan buku-buku lainnya. Dimulai pada malam tahun baru, saya memulai dengan membaca novel bersetting Italia pada masa Renaissance, Poison. Nah, untuk itu, postingan kali ini saya akan membuat review novel Poison ini secara singkat saja.

Secara garis besar, Poison menceritakan perjuangan seorang wanita bernama Francesca untuk mencari tahu alasan kematian ayahnya yang mengenaskan dan untuk melakukan balas dendam. Untuk mencapai tujuannya, maka ia mengikuti jalan ayahnya semasa hidupnya dengan bekerja sebagai seorang ahli racun untuk keluarga paling terkenal di Italia, keluarga Cardinal Rodrigo Borgia.

poison-by-sara-poole

Novel Poison karya Sara Poole

Demi mencapai ambisinya untuk membalas dendam, Francesca mempertaruhkan banyak hal, dan bahkan melakukan berbagai langkah tak terduga, berbahaya, bahkan hingga melakukan pembunuhan. Dalam novel ini, diceritakan pula bagaimana Francesca akhirnya juga membantu Rodrigo mencapai ambisinya untuk menjadi Paus menggantikan Paus Inosensius VIII yang saat itu mulai sakit dan melakukan beragam upaya demi menghindari kematian. Maka munculah kisah mengenai Francesca yang terjebak antara balas dendam, membantu ambisi Il Cardinale atau menghentikan kekejaman Paus Inosensius VIII dengan membunuhnya.

Kalau kamu familiar dengan tokoh-tokoh era Renaissance di Italia, maka kamu juga pasti akan familiar dengan nama-nama tokoh pada novel ini. Pasalnya, novel ini juga menggunakan banyak sosok penting dalam sejarah seperti keluarga Borgia (termasuk Lucrezia dan Cesare, bahkan Giulia yang konon merupakan kekasih Rodrigo), serta kisah seputar kematian Paus Inosensius VIII. Kalau kamu termasuk seseorang yang suka cerita sejarah terutama yang mengangkat masa Renaissance di Italia, maka novel ini cocok untuk kamu.

novel-poison

Membaca Sambil Ngeteh! ūüėÄ

Namun yang harus diingat, meskipun novel ini mengambil beberapa karakter yang memang ada dalam sejarah, kisahnya sendiri tetap kisah fiksi. Kisah mengenai skandal yang meliputi keluarga Borgia dan Paus Inosensius VII pun hingga kini masih menjadi perdebatan karena tidak ada catatan pasti mengenai beberapa kejadian tersebut.

Secara keseluruhan, kisah Poison karya Sara Poole ini cukup menarik. Ketegangan dalam alur ceritanya akan membuat kamu sulit untuk meletakkan novel ini sebelum selesai membacanya. Bahkan hingga akhir kisahnya, kamu akan berharap bahwa novel ini memiliki sequel. Selain itu, meski mengangkat sisi skandal dalam sejarah, novel ini cukup ringan untuk dinikmati dan tidak akan membuat pembaca terlalu pusing berpikir.

Pertemanan Seharusnya Nggak Rumit dan Jangan Dibuat Rumit!

Bagi mereka yang kenal betul dengan saya, mereka tahu betapa awkward alias canggungnya saya ketika harus bertemu orang baru atau bersosialiasi. Tapi, ternyata kecanggungan seperti itu pelan-pelan bisa dikurangi dan sekarang saya bersemangat setiap kali diajak ngumpul bersama teman-teman atau kenalan dengan orang-orang baru. Dari banyak cerita dan pengalaman yang akhirnya saya temui sepanjang perjalanan membuat sebuah hubungan pertemanan dan berusaha memperbaiki pertemanan, saya akhirnya paham bahwa berteman itu sebenarnya nggak rumit dan memang nggak perlu dibuat rumit.

Kadang, kita sendiri yang membuat pertemanan itu menjadi rumit. Banyak dari kita menyamakan pertemanan dengan kegiatan bersama-sama, merayakan sesuatu bersama-sama, semua harus serba bersama-sama. Interaksi seharusnya tidak menunggu ada perayaan atau kegiatan bersama yang melibatkan kita saling bertemu satu sama lain. Sebenarnya juga tidak apa-apa sih, tapi teman nggak akan membutuhkan alasan untuk menemui satu sama lain dan mencari kabar mereka.

Kerumitan lainnya muncul ketika ada perselisihan antara kita dengan teman. Yang banyak terjadi, biasanya kita cenderung mendiamkan masalah daripada membicarakannya karena merasa tidak enak. Kadang kita sering lupa bahwa mendiamkan masalah itu nggak akan membuat masalah menjadi selesai begitu saja. Bahkan sering kali akhirnya malah semakin bergulir dan menghasilkan masalah yang lebih besar lagi dan hubungan pertemanan putus tiba-tiba. Jangan sampai ini terjadi!

pertemanan-tidak-perlu-rumit

Kadang yang kita perlukan saat menghadapi jalan buntu dengan teman adalah membicarakannya. One on one, face to face, saling berhadapan langsung dengan membicarakan pokok permasalahannya dengan orang yang terlibat. Dengan demikian, kita bisa langsung saling terbuka dengan apa sebenarnya yang menjadi masalah tanpa perlu ada salah paham. Masalah yang sebenarnya hanya di antara dua orang, harus selesai di antara dua orang itu saja. Nggak perlu ada orang ketiga, keempat, kelima, atau bahkan kesekian. Percaya atau nggak, ketika kita membicarakan rasa nggak enak terhadap seorang teman dengan orang lain, belum tentu juga hal tersebut akan membantu menyelesaikan permasalahan. Kecuali jika apa yang kita anggap penyelesaian adalah memutuskan pertemanan dengannya.

Nggak jarang juga, ketika kita ‘curhat’ dengan orang yang nggak tepat tentang masalah tersebut, yang ada malah membuat kita semakin merasa kesal atau marah. Bisa jadi karena orang yang kita curhati juga sebenarnya punya masalah dengan teman kita tadi. Sehingga pendapatnya menjadi bias dan cenderung memojokkan. Tapi apapun itu, kita juga harus¬†fair dalam memperlakukan teman yang punya masalah dengan kita tadi. Masalah kita dengannya, harusnya tidak ada hubungannya dengan masalah orang lain dengan teman kita tersebut. Jangan sampai mencampuradukkan masalah dari dua orang kalau nggak mau masalah kita tersebut makin ribet, ruwet, dan rumit.

ice-cream-date

Terjebak dalam situasi dimana kita harus memusuhi seseorang dan menjadikannya “mantan” teman itu sama sekali tidak menyenangkan. Apalagi sampai harus berpura-pura baik-baik saja saat bertemu sementara sebenarnya ada masalah besar yang mengganjal. Bukankah lebih baik untuk segera menghilangkan ganjalan tersebut? Komunikasi, menghargai, dan berani meminta maaf, harusnya bisa membantu menjaga sebuah hubungan pertemanan.

Pertemanan sebenarnya tidak harus rumit, meski kadang kita sendiri yang tanpa sadar membuatnya menjadi rumit. Karakter dan sifat orang memang berbeda-beda, tapi toh kita punya rasa toleransi dan penghargaan yang harusnya bisa menjembatani perbedaan, bukan?

 

 

Ketika Pacar Kamu Nggak Tertarik Valentine, Apa Sih Tindakanmu?

Memasuki bulan Februari, kebanyakan orang sepertinya sudah langsung teringat dengan satu hari istimewa yaitu valentine. Entah mereka merayakan hari kasih sayang itu ataupun nggak, setuju dengan perayaannya atau bahkan menolaknya. Buat yang sedang kasmaran, biasanya sih memang sudah akan menunggu-nunggu hari istimewa ini buat merayakannya dengan pasangan. Tapi, ternyata juga nggak semua orang tertarik dengan hari kasih sayang ini.

Pasangan yang nggak tertarik dengan hari valentine juga kadang jadi salah satu pemicu pertengkaran. Misalnya si cewek pengen sesuatu yang istimewa di hari valentine, eh pacarnya nggak tertarik yang seperti itu. Jadilah muncul pertengkaran cuma gara-gara si cewek merasa tidak cukup diperhatikan atau dicintai. (Been there, done that. Hehe.. Maaf ya mas pacar. Jangan marah ya :D). Tapi, masak sih tolak ukur kasih sayang itu cuman dari kado valentine?

Jadi begini, usut punya usut, ternyata, sesungguhnya (halah!), cuma karena si dia nggak mau merayakan valentine, bukan berarti dia nggak sayang sama kita atau kadar cinta mereka cuma receh. Justru kalau kita cuma menilai kadar cinta mereka dari perayaan valentine, jangan-jangan cinta kita ke mereka yang cuma receh? Toh si pacar selalu punya rasa kasih sayang dan cinta yang mereka tunjukkan lewat perbuatan mereka ke kita selama ini? Ya kan.. ya kan…?

pacar-nggak-suka-valentine

Foto waktu main by mas (c) Boni Sutanto

Kalau si dia memang nggak suka valentine, ya sudah, berkompromilah. Kalau memang pengen semacam perayaan, ya rayakan dengan sahabat dan keluarga. Toh cinta itu juga bukan cuma buat pacar, kan? Nggak masalah kalau si dia nggak pengen ikutan gabung kamu dan teman-temanmu bersenang-senang, kamu bisa membiarkannya menikmati hari dengan caranya sendiri di hari valentine tersebut. Dengan begini, kan semua sama-sama senang, kan?

Mungkin bagi sebagian orang, valentine yang terlalu dikomersilkan inilah yang membuat jengah. Seolah-olah valentine itu harus memberi kado, bunga, cokelat, makan malam romantis, dan sejenisnya. Padahal, merayakan hari valentine juga sebenarnya nggak harus gitu-gitu amat. Karena cinta kan harusnya memang nggak melulu soal hadiah-hadiah dan kado-kado semacam itu?

gambar-hati

Kadang pertengkaran gara-gara valentine ini terjadi karena satu pihak memang bersifat romantis, sementara pasangannya cenderung selow alias biasa saja atau bahkan hampir cuek. Nah, tapi kita pasti sudah mengenal bagaimana pasangan kita kan, sayang sekali jika kita memicu pertengkaran karena nggak mau berkompromi gara-gara satu hari ini.

Sebenarnya, kalau kita percaya bahwa dia mencintai kita, kita nggak akan terlalu peduli apakah dia melakukan sesuatu yang istimewa untuk kita di hari tertentu. Karena toh dia selalu ada buat kita setiap harinya, bukan?

 

Belajar Lebih dengan Mengurangi Bicara dan Perbanyak Mendengar

Mereka yang sudah kenal baik dengan saya, tahu betul bahwa saya bisa sangat cerewet dan suka sekali bicara. Meskipun kadang saya bisa sangat pemalu dan diam saja jika bertemu dengan orang-orang baru. Tapi siapa sangka, ternyata dengan diam dan lebih banyak mendengar, ada lebih banyak hal yang bisa didapatkan.

Beberapa tahun lalu, saya bertemu seseorang yang tidak banyak bicara dan lebih suka diam. Saat itu kami sedang duduk bersama dan mendengar sekelompok orang bicara, dia bertanya pada saya, kenapa mereka rebutan membicarakan diri mereka sendiri, kenapa mereka terus bilang saya, saya, saya, saya? Saat itu kami berdebat kecil karena saya tidak setuju dengannya. Tapi semakin kesini, sepertinya saya semakin paham dengan apa yang ia bicarakan saat itu.

Hal yang kurang lebih sama juga diceritakan salah satu teman saya yang lain baru-baru ini. Teman saya yang menurutnya dulunya lebih suka didengar daripada mendengar ini mengatakan bahwa ternyata banyak hal yang ia dapatkan dengan mendengarkan dengan baik apa yang dibicarakan orang lain.

pexels-photo-29672

Mendengar membantu kita memahami orang lain

Saat kita diam dan mendengarkan orang lain bicara, terkadang kita bisa belajar dari apa yang mereka ceritakan.¬†Bahkan meskipun yang didengar adalah curhatan seseorang tentang masalah mereka. Setidaknya kita jadi paham, ternyata ada orang yang memiliki masalah yang lebih rumit dari masalah kita. Atau mungkin ketika mereka menceritakan kesuksesannya, kita jadi tahu bahwa ada banyak orang-orang hebat di luar sana, jadi kita tidak punya alasan untuk menjadi congkak. Seperti kata pepatah yang sudah banyak didengar tapi sulit dipraktekan, “diatasnya langit, masih ada langit”.

Dengan diam dan berpikir terlebih dulu, kita terhindar dari mengatakan hal-hal yang nantinya mungkin akan kita sesali. Kadang tidak sadar kita ingin mengambil kesempatan bicara sebelum orang lain. Akhirnya kita asal bicara tanpa benar-benar memahami apa yang kita bicarakan atau mengapa kita harus membicarakannya. Hasilnya? Ya kita tidak benar-benar didengarkan, atau yang lebih buruk, kita mengatakan hal yang seharusnya tidak boleh kita ucapkan.

Mendengar juga berarti memungkinkan kita untuk “meminjam” sudut pandang si pembicara untuk sejenak dan memahaminya apa yang mereka bicarakan. Selanjutnya, kita juga memiliki waktu untuk membiarkan mereka selesai bicara sekaligus memikirkan versi sudut pandang kita sendiri. Jadi, kita tidak terburu-buru membuat kesimpulan yang bisa jadi salah gara-gara kita terburu-buru merespon dan tidak benar-benar memahami apa yang dibicarakan orang lain.

pexels-photo-38940

Kalau ingin didengar saat bicara, sudah saatnya kita mendengar lain orang bicara, kan?

Kadang waktu kita ngobrol dan saking asyiknya bercerita, kita lupa untuk benar-benar mendengarkan. Kita ingin ikut berbicara dan membagi apa yang kita ketahui, atau bahkan menunjukkan apa yang kita ketahui. Memang, jadi pusat perhatian itu bisa menyenangkan, tapi egois sekali kita kalau cuma ingin didengarkan tapi tidak mau mendengar?

Sebagai seseorang yang cerewet dan ceriwis, saya paham betul banyak hal penting dan istimewa yang tidak sadar telah saya lewatkan selama ini. Seandainya dulu saya lebih banyak mendengar, dan tidak banyak bicara, pasti banyak hal yang berbeda saat ini. Tapi ya begitulah manusia. Kadang kita memang perlu menengok ke belakang, melihat apa yang telah kita lakukan, dan mulai memperbaiki apa yang salah. Karena kalau tetap melakukan kesalahan yang sama ya bebal namanya. ūüėÄ

 

 

[Review] Corine de Farme Micellar Cleansing Foam

Sudah lama sekali saya selalu merasa bahwa kulit wajah saya itu berminyak gara-gara banyak sekali produksi minyak di wajah.¬†Tapi ternyata banyak produk yang buat kulit berminyak ternyata tidak cocok buat saya.¬†Sekitar tiga bulan lalu, saya ke Guardian mau beli pelembab yang biasa saya pakai. Mbak penjaga yang lihat kulit wajah saya bilang, kayaknya tipe kulit saya tidak hanya berminyak, tapi sensitif, jadi mending cari yang tidak terlalu¬†“harsh”.

Waktu itu, kondisi kulit saya bruntusan parah dan banyak jerawat kecil-kecil terutama di daerah kening.  Lalu orangnya memberi saran buat pakai Corine de Farme Micellar Cleansing Foam. Pertama nyoba saya agak khawatir juga, karena jujur belum pernah dengar brand ini. Lalu reviewnya juga belum terlalu banyak dan jarang terdengar. Tapi karena mbak-mbak Guardiannya kelihatan meyakinkan, akhirnya ya dicobain aja.

Dilihat dari botolnya, isinya memang cair dan bening kayak air biasa. Tapi ternyata pas pump-nya ditekan, keluarnya jadi foam. Jadi tidak perlu khawatir cepet habis gara-gara kebanyakan dituang. Tidak perlu kelamaan membusakan sabun pula, soalnya udah jadi busa sendiri. Lalu, karena bentuknya pump, juga jadi tidak mudah tumpah. Secara packaging sip lah kalau menurut saya.

corine-de-farme-micellaire-cleansing-foam

Corine de Farme Micellar Cleansing Foam

Ada bau wangi khas dari Corine de Farme ini, menurut saya sih baunya enak seperti bau tanaman dan tidak terlalu mengganggu. Tapi buat mereka yang tidak suka ada bau-bauan di skincare mereka, mungkin tidak akan terlalu suka karena wanginya memang kuat.

Setelah pakai cleansing foam ini, ternyata bruntusan saya beneran ilang, lho! Jerawat juga tidak muncul, ya kecuali hanya waktu siklus wajar saat mau menstruasi. Di luar itu, saya hampir tidak pernah berjerawat atau bruntusan lagi. Efeknya ini mulai terlihat di wajah saya kurang lebih setelah 2 mingguan. Tapi mungkin untuk orang lain, efeknya bisa berbeda.

Foamnya tidak bikin kering di wajah, tapi terasa banget bersihnya. Wajah juga tidak terasa seperti ketarik, tapi lembut dan enak pas disentuh. Masih terasa lembabnya, tapi juga tidak terlalu berminyak. Selain itu, wajah juga tidak teriritasi dan bruntusan sama jerawat ilang semua. Jadi, sejauh ini saya puas pakai Corine de Farme Micellar Cleansing Foam ini.

 

tekstur-foam

Meskipun bentuknya cair, ternyata pas dipencet jadi foam ūüėÄ

 

Harganya kalau tidak salah sekitar 150 ribu dengan ukuran botol 150 ml. Saya kira harga segitu cukup mahal, tapi ternyata punya saya bisa bertahan tiga bulanan. Mungkin karena keluarnya sudah langsung berbentuk foam, jadi pencet sedikit aja udah jadi foam banyak, jadi lebih hemat.

Sudah tiga bulan saya pakai facial foam ini dan tidak punya komplain. Jadi, definitely repurchase, karena sudah lama saya belum nemu facial foam yang cocok. ūüėÄ Tapi ya gitu,¬†skincare itu cocok-cocokan ya. Apa yang cocok di saya (setelah sekian lama), belum tentu cocok di kamu. But that is my honest review setelah tiga bulan pemakaian. ūüôā